BANDUNG, MENARA62.COM — Ajaran moral leluhur Sunda yang tersimpan dalam naskah kuno berusia lebih dari lima abad kini dihadirkan melalui karya seni. Akademisi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung menerjemahkan nilai-nilai luhur dalam Sanghyang Siksa Kandang Karesian (SSKK) menjadi pertunjukan musik balada dan pameran desain permukaan tekstil yang dapat dinikmati masyarakat luas.
Pertunjukan dan pameran hasil Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2026 tersebut digelar di Lobi Berundak, Kampus UM Bandung, Selasa (13/10/2026). Kegiatan ini menjadi upaya menghidupkan kembali kearifan lokal Sunda melalui pendekatan seni yang kreatif, edukatif, dan relevan dengan kehidupan masa kini.
Ketua PISN 2026 UM Bandung, Saftiyaningsih Ken Atik, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari luaran program hibah yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) RI.
Namun, menurut dia, tantangan utama tim bukan sekadar menghasilkan karya untuk memenuhi kewajiban program. Tim juga berupaya menerjemahkan pesan dalam naskah kuno menjadi narasi, visual, dan pertunjukan seni yang dapat dipahami oleh masyarakat modern.
“Bagaimana kami menerjemahkan sebuah naskah menjadi narasi, menjadi visual dalam beberapa karya yang sudah kami tampilkan hari ini, itu bukanlah sesuatu hal yang mudah,” ujar Ken Atik.
Ia menjelaskan, Sanghyang Siksa Kandang Karesian menyimpan beragam ajaran tentang kehidupan masyarakat Sunda pada masa lampau. Isinya mencakup tata nilai moral, budi pekerti, adat istiadat, hingga pengetahuan mengenai berbagai profesi.
Nilai-nilai tersebut dinilai tetap relevan untuk diperkenalkan kepada generasi masa kini. Melalui karya seni, pesan dalam naskah klasik diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan sejarah, tetapi dapat dihayati dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Bayangkan ya, oleh rekan-rekan mahasiswa, nenek moyang kita, kalau kita sebut-sebut seperti itu, sudah mengajarkan banyak tentang kehidupan, profesi manusia, berbuat baik, adat, budi pekerti, dan banyak lagi,” kata Ken Atik.
Musik Balada dan Desain Tekstil Jadi Media Pelestarian Budaya
Untuk menyampaikan pesan tersebut, tim PISN 2026 UM Bandung mengemas hasil penggalian naskah kuno melalui dua medium seni, yakni pertunjukan musik balada dan pameran desain permukaan tekstil.
Komunitas seni dan musik balada Manjing-Manjang turut mengolah nilai-nilai dalam naskah menjadi syair dan lagu. Sementara itu, karya desain tekstil menghadirkan interpretasi visual yang memperkaya cara masyarakat mengenali warisan budaya Sunda.
Pendekatan ini membuka ruang bagi masyarakat untuk menikmati warisan leluhur melalui pengalaman artistik, bukan hanya melalui pembacaan teks sejarah.
Ken Atik berharap pertunjukan musik, puisi, dan pameran desain tersebut mampu menyentuh audiens sekaligus menumbuhkan ketertarikan untuk mengenal lebih jauh pemikiran dan ajaran moral masyarakat Sunda pada masa lalu.
“Silakan mengapresiasi, silakan menikmati, silakan membuka semua indera kita, untuk menyerap ajaran yang dilantunkan melalui lagu, puisi, dan melalui desain-desain yang tergambar pada hari ini,” tuturnya.
Melalui karya tersebut, pelestarian budaya diharapkan tidak hanya berorientasi pada upaya menjaga peninggalan masa lalu, tetapi juga menghadirkan nilai-nilainya dalam kehidupan masyarakat masa kini.
LPPM UM Bandung Dorong Riset Berdampak bagi Masyarakat
Sementara itu, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UM Bandung, Ijang Faisal, mengapresiasi penyelenggaraan pameran dan pertunjukan seni yang dihasilkan dari riset tersebut.
Menurut Ijang, karya yang dihasilkan Ken Atik bersama tim menjadi contoh bagaimana dana hibah penelitian dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan inovasi yang bisa dinikmati dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Ia menegaskan, hibah penelitian bukanlah tujuan akhir bagi seorang akademisi. Dukungan pendanaan tersebut merupakan bentuk kepercayaan yang harus dijawab melalui karya nyata dan kontribusi bagi publik.
“Kami dari LPPM mengucapkan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Ibu Ken yang hari ini melaksanakan pameran dan pertunjukan terkait dengan karya-karya yang dihasilkan dari riset ini. Bu Ken ini merupakan contoh dosen yang luar biasa,” tutur Ijang.
Ia menambahkan, keberhasilan penelitian tidak cukup diukur dari terpenuhinya kewajiban administratif atau selesainya laporan kegiatan. Hasil penelitian juga perlu dikomunikasikan agar dapat diakses, dipahami, dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
“Kalau yang lain, dapat hibah itu tujuan, kalau Bu Ken dapat hibah itu fasilitator saja, untuk menghubungkan bagaimana bisa menyampaikan kepada publik. Hibah itu bentuk kepercayaan, sedangkan karya adalah wujud tanggung jawab dan harus ada kebermanfaatannya,” tegasnya.
Ke depan, LPPM UM Bandung akan terus mendorong, memverifikasi, dan memamerkan produk-produk riset dosen yang didanai Kemendiktisaintek. Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas diseminasi hasil penelitian sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab kebutuhan masyarakat.
Melalui program ini, UM Bandung menunjukkan bahwa riset akademik dapat melampaui ruang kelas dan publikasi ilmiah. Dengan pendekatan seni, warisan intelektual leluhur Sunda dapat diperkenalkan kembali kepada publik sekaligus menjadi sumber inspirasi untuk membangun karakter dan merawat identitas budaya bangsa. (FK/*)
