30 C
Jakarta

Bantuan Makanan Khusus Balita Masih Minim, Anak Terdampak Banjir di Sumatera Terancam Kurang Gizi

Baca Juga:

JAKARTA , MENARA62.COM – Bencana di wilayah Sumatera telah berlalu 4 bulan dan kini sudah memasuki masa transisi untuk menuju fase pemulihan. Namun fakta di lapangan, bantuan untuk anak-anak balita masih belum memadai bahkan tidak sesuai kebutuhan anak-anak.

Saat menyambangi pemukiman dan hunian sementara warga di Desa Serba dan Desa Pematang Durian di Aceh Tamiang awal Februari lalu, tim Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) sempat berbindang dengan warga. Ternyata bantuan makanan masih didominasi produk instan seperti mie dan kental manis yang tidak cocok untu anak maupun balita.

Sekretaris Jenderal YAICI Satria Yudhistira menjelaskan bahwa hampir empat bulan setelah banjir bandang melanda sejumlah wilayah di Sumatra, belum banyak bantuan yang benar-benar dikhususkan untuk anak. Padahal, kebutuhan balita sangat berbeda dengan orang dewasa.

“Bantuan yang ada saat ini kebanyakan ditujukan untuk orang dewasa, bukan untuk anak-anak,” kata Satria dalam diskusi bareng media, Kamis (5/3/2026).

Satria mengatakan temuan tersebut menjadi catatan penting bagi upaya pemulihan pascabencana. Oleh karena itu, ia mendorong stakeholder atau relawan yang hendak memberikan bantuan turut memperhatikan kebutuhan gizi anak. Fase pemulihan seharusnya mulai mengarah pada pemenuhan kebutuhan yang lebih spesifik, termasuk memastikan anak-anak mendapatkan pangan yang sesuai kebutuhan.

“Harapannya ke depan bantuan dari siapapun baik dari pemerintah atau masyarakat mulai memperhatikan anak,” ucap Satria.

Selain menyalurkan bantuan, YAICI turut mengadakan kegiatan trauma healing bagi anak-anak. Kegiatan ini dilakukan melalui berbagai permainan yang bertujuan membantu anak-anak mengurangi rasa takut dan kecemasan setelah mengalami bencana.

“Kami juga buat kegiatan untuk trauma healing pada anak-anak, karena ini penting. Psikologis mereka juga perlu diperhatikan,” tutur Satria.

Sementara itu, Penyuluh Kesehatan Sekerak, Aceh Tamiang Ersyad menjelaskan bahwa pola bantuan yang didominasi makanan instan yang diterima dapat menimbulkan persoalan kesehatan jika dikonsumsi dalam waktu lama khususnya bagi anak-anak dan balita yang membutuhkan nutrisi lebih lengkap untuk mendukung tumbuh kembang.

Ia menegaskan bahwa kental manis dalam jangka panjang berpotensi mengganggu pertumbuhan bahkan mengakibatkan stunting. Sebab konsumsi kental manis dapat membuat anak enggan makan karena anak sudah merasa kenyang setelah mengonsumsi kental manis.

“Jangka pendeknya bisa ke stunting. Karena konsumsi susu kental manis bisa menghasilkan efek kenyang yang palsu. Anak-anak nantinya bakal mengutamakan kental manis, ketimbang makan,” kata Ersyad.

Lebih lanjut, Ersyad mengatakan selain bantuan berupa pangan, alat-alat medis juga sangat dibutuhkan oleh masyarakat terdampak bencana banjir sumatra. Ersyad menyebut berbagai macam penyakit mulai bermunculan seperti diare dan ISPA karena debu yang berasal dari lumpur banjir yang sudah mengering.

“Kita butuh obat dan alat-alat medis. Soalnya alat medis kita sudah rusak semua. Akhirnya kita tidak maksimal memberikan pelayanan,” ungkap Ersyad.

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!