JAKARTA, MENARA62.COM – Sejumlah akademisi menyoroti pentingnya peran kaum intelektual dalam menentukan arah kemajuan bangsa. Mereka menilai Indonesia sulit maju apabila para cendekiawan memilih diam terhadap berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat.
Hal tersebut mengemuka dalam diskusi dan buka puasa bersama yang digelat Aliansi Kebangsaan pada Rabu (11/3/2026). Diskusi menghadirkan sejumlah narasumber termasuk Ketua Aliansi Kebangsaan Pontjo Sutowo.
Dalam penjelasannya, Pontjo Sutowo menekankan bahwa gagasan kebijakan dan kritik dari kalangan intelektual sangat dibutuhkan agar negara tidak terjebak dalam kekuasaan yang hanya berorientasi pada kepentingan kelompok tertentu.
Menurutnya, konsep “imperialisme domestik” seperti yang pernah disinggung oleh Soekarno dapat muncul ketika kekuasaan digunakan untuk kepentingan sempit dan tidak benar-benar membebaskan rakyat.
Dalam diskusi tersebut juga muncul kritik terhadap janji penciptaan jutaan lapangan kerja. Beberapa peserta mempertanyakan realisasi janji tersebut, terutama jika jumlah pengusaha dan industri yang mampu menyerap tenaga kerja masih terbatas.
Salah satu peserta diskusi asal Yogyakarta menilai bahwa negara tidak bisa hanya mengandalkan sektor pegawai negeri sebagai sumber pekerjaan utama. Menurutnya, negara dengan jumlah pegawai negeri yang terlalu besar berpotensi mengalami beban anggaran yang tinggi.
Ia bahkan menyinggung pelajaran sejarah dari Roman Empire, yang pada masa akhirnya mengalami beban birokrasi dan biaya negara yang sangat besar.
Para peserta diskusi sepakat bahwa untuk memajukan Indonesia diperlukan keberanian para cendekiawan untuk menyampaikan gagasan dan kritik secara terbuka, sekaligus mendorong lahirnya kebijakan yang benar-benar berpihak pada pembangunan ekonomi dan kesejahteraan rakyat.
