JAKARTA, MENARA62.COM — Memasuki peringatan lima tahun berdirinya BRIN, Kepala BRIN Prof. Dr. Arif Satria menegaskan pentingnya transformasi arah riset nasional agar lebih berorientasi pada dampak nyata bagi masyarakat. Menurutnya, riset tidak lagi cukup berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi harus mampu menghasilkan inovasi yang dapat dirasakan langsung oleh seluruh lapisan masyarakat—mulai dari kelas bawah hingga atas.
Menurut Arif, harapan publik dan pemerintah terhadap BRIN semakin besar, terutama dalam mendukung visi “Indonesia Emas 2045”. Oleh karena itu, pendekatan riset harus bergeser dari sekadar output menuju outcome dan impact. “Seluruh masyarakat harus bisa menikmati manfaat inovasi. UMKM juga harus hadir dalam ekosistem ini, dan negara harus mendukung melalui teknologi tepat guna,” ujarnya, Selasa (28/4/2026).
Ia menjelaskan bahwa BRIN kini mengembangkan dua pendekatan sekaligus: teknologi tepat guna untuk kebutuhan masyarakat luas, serta teknologi maju (advanced technology) untuk mendorong industrialisasi nasional dan kerja sama global. Kolaborasi dengan sektor swasta dan perusahaan internasional menjadi bagian penting dalam mempercepat hilirisasi riset.
Arif juga menekankan pentingnya kemampuan memprediksi tren teknologi masa depan, seperti kondisi pada 2030 hingga 2050. Dengan memahami arah perkembangan global, BRIN dapat merancang riset yang tidak hanya menyelesaikan masalah saat ini, tetapi juga bersifat antisipatif.
Sebagai contoh, di sektor pertanian, konsep smart farming terus berkembang. Jika sebelumnya fokus pada smart irrigation atau distribusi air yang efisien, kini inovasi telah bergerak ke pengelolaan karbon dioksida untuk meningkatkan efisiensi pertumbuhan tanaman. Ke depan, riset akan semakin terintegrasi dengan genomik dan teknologi presisi tinggi.
Inovasi Energi dan Lingkungan
Dalam bidang energi, BRIN tengah mengembangkan teknologi penyimpanan gas menggunakan metal-organic framework (MOF), yang memungkinkan penyimpanan gas lebih efisien dibandingkan metode konvensional seperti CNG. Teknologi ini dinilai potensial mengingat besarnya sumber daya gas di Indonesia.
Selain itu, inovasi petasol—bahan bakar dari limbah plastik—menjadi sorotan. Dengan konversi 1 kilogram plastik menjadi 1 liter bahan bakar, teknologi ini dinilai mampu menjadi solusi ganda: mengatasi sampah sekaligus menyediakan energi alternatif. Meski saat ini biaya produksi masih sekitar Rp6.000 per liter, BRIN optimistis efisiensi dapat terus ditingkatkan.
Di sektor pertanian lahan marginal, BRIN juga mengembangkan varietas padi seperti Biosalin 1 dan Biosalin 2 yang tahan terhadap salinitas tinggi. Inovasi ini ditujukan untuk meningkatkan produktivitas di wilayah pesisir yang selama ini kurang optimal.
BRIN juga aktif mengembangkan teknologi pengolahan sampah, mulai dari skala industri hingga rumah tangga, termasuk teknologi pirolisis dan pembangkit listrik berbasis sampah. Teknologi tanggul pesisir juga sedang dikembangkan untuk mengatasi abrasi dan intrusi air laut di wilayah seperti Subang.
Dalam sektor transportasi, BRIN menciptakan sistem pemantauan cerdas untuk mendeteksi kondisi jembatan kereta api yang sebagian besar telah berusia lebih dari 100 tahun. Teknologi ini diharapkan dapat meningkatkan keselamatan dan efisiensi infrastruktur nasional.
Kemajuan di Bidang Antariksa dan AI
Arif juga mengungkapkan bahwa BRIN tengah mempersiapkan peluncuran satelit buatan dalam negeri pada akhir tahun ini. Ia menilai ekonomi antariksa akan menjadi sektor strategis di masa depan, terutama dengan potensi lokasi peluncuran di wilayah timur Indonesia seperti Papua.
Di bidang kecerdasan buatan (AI), arah pengembangan bergerak dari sekadar decision support menuju decision execution. Artinya, AI tidak hanya memberikan rekomendasi, tetapi juga mampu mengeksekusi keputusan secara otomatis. Teknologi ini bahkan diproyeksikan dapat digunakan dalam manipulasi cuaca tanpa perlu pesawat konvensional.
Menurut Arif, negara harus hadir dalam mendukung riset dan pengembangan, terutama bagi sektor yang belum mampu membiayai R&D secara mandiri seperti UMKM. Ia menanggapi kritik yang menyebut pendekatannya terlalu pragmatis dengan menegaskan bahwa dampak nyata bagi masyarakat adalah prioritas utama.
“Kalau UMKM tidak punya R&D, siapa yang membantu? Negara harus hadir. Riset harus menjadi solusi, bukan sekadar wacana,” tegasnya.
Dengan berbagai inovasi yang tengah dikembangkan, BRIN diharapkan dapat menjadi motor penggerak transformasi teknologi nasional menuju Indonesia yang mandiri, maju, dan berdaya saing global.
