Denpasar, Menara62.com. Suasana penuh makna dan harmoni lintas iman terasa begitu kuat di Bali pada malam yang istimewa ini Rabu (18/3) 2026. Malam pengerupukan, yang merupakan rangkaian menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948, berpadu dengan kekhusyukan umat Islam yang menunaikan shalat tarawih terakhir di penghujung bulan suci Ramadhan 1447 H.
Malam pengerupukan sendiri memiliki makna mendalam bagi umat Hindu. Secara filosofis, pengerupukan merupakan momentum penyucian alam semesta (Bhuta Yadnya), dengan tujuan menetralisir kekuatan negatif (bhuta kala) agar tercipta keseimbangan dan keharmonisan. Tradisi ini biasanya ditandai dengan pawai ogoh-ogoh serta ritual pecaruan yang sarat nilai spiritual, sebagai simbol mengusir energi negatif dari kehidupan manusia.
Di berbagai penjuru Bali, umat Hindu tampak khusyuk mengikuti rangkaian pengerupukan dengan penuh semangat dan penghayatan. Dentuman gamelan, arak-arakan ogoh-ogoh, hingga ritual keagamaan berlangsung meriah namun tetap sarat makna sakral.
Pada saat yang bersamaan, umat Islam juga larut dalam kekhusyukan ibadah. Malam ini menjadi momen pelaksanaan shalat tarawih terakhir di bulan Ramadhan, sebelum esok malam memasuki malam takbiran menyambut Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Masjid-masjid dipenuhi jamaah yang beribadah dengan penuh keikhlasan, memanjatkan doa di penghujung bulan yang penuh berkah.
Keunikan semakin terasa karena malam takbiran yang akan datang bertepatan dengan perayaan Nyepi Saka 1948. Dua momentum besar keagamaan hadir dalam waktu yang beriringan, mencerminkan wajah toleransi dan kebersamaan masyarakat Bali yang telah terjalin erat.
Keesokan harinya, umat Hindu akan melaksanakan Hari Raya Nyepi, yang dikenal sebagai hari “Catur Brata Penyepian”. Empat pantangan utama dalam Nyepi meliputi:
1. Amati Geni (tidak menyalakan api atau cahaya, termasuk mengendalikan hawa nafsu),
2. Amati Karya (tidak bekerja atau beraktivitas fisik),
3. Amati Lelungan (tidak bepergian),
4. Amati Lelanguan (tidak menikmati hiburan atau kesenangan duniawi).
Melalui Catur Brata Penyepian, umat Hindu diajak untuk melakukan introspeksi diri, menyucikan pikiran, serta mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dalam suasana hening dan damai.
Perpaduan antara semarak pengerupukan dan khusyuknya ibadah tarawih malam ini menjadi gambaran nyata indahnya toleransi di Bali. Perbedaan tidak menjadi penghalang, melainkan jembatan untuk saling menghormati dan menjaga keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.
Malam ini bukan hanya tentang dua perayaan, tetapi tentang nilai luhur kebersamaan, saling menghargai, dan kedamaian yang hidup di tengah keberagaman.
Semarak Malam Pengerupukan Nyepi Dibalut Khusyuknya Shalat Tarawih Akhir Ramadhan
- Advertisement -

