SOLO, MENARA62.COM – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggandeng Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id menggelar acara SPARK CAMP Saluran Pembelajaran ARK on Campus, Jumat (22/5) di Gedung Ahmad Syafii Maarif UMS.
Wakil Rektor IV UMS Prof. Dr. dr. Em Sutrisna, M.Kes., menyinggung terkait dengan tema yang diangkat yaitu The Guardian of Governance “Membangun Integritas Pemimpin Masa Depan”. Menurutnya, seorang pemimpin tidak hanya dituntut cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral dan kejujuran.
Ia kemudian menyinggung filosofi kepemimpinan dari tokoh Muhammadiyah, K.H. Agus Salim. Em Sutrisna mengutip ungkapan berbahasa Belanda yang disampaikan Agus Salim mengenai makna kepemimpinan.
“Leiden is lijden. Memimpin itu menderita. Jadi kalau diangkat sebagai pemimpin, siap-siaplah untuk menderita,” ujarnya.
Menurutnya, nilai pengorbanan dalam kepemimpinan saat ini mulai jarang ditemui karena banyak orang justru berlomba memperebutkan jabatan. Ia pun mencontohkan budaya kepemimpinan di Muhammadiyah yang mengedepankan amanah dibanding ambisi kekuasaan.
Lebih lanjut, Em Sutrisna mengingatkan mahasiswa agar tidak hanya mengejar Indeks Prestasi Kumulatif (IPK), tetapi juga membangun integritas dalam kehidupan sehari-hari. Ia menyebut sifat-sifat rasul seperti shiddiq, amanah, tabligh, dan fathonah sebagai inti dari integritas seorang pemimpin.
“Nilai IPK saja tidak cukup. Salah satunya adalah integritas dan kejujuran. Itulah sifat-sifat rasul yang kalau dirangkum dalam satu kata, itulah integritas,” jelasnya.
Ia berharap mahasiswa dapat menerapkan nilai-nilai tersebut ketika kelak menjadi pemimpin di berbagai bidang.
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya,” tambahnya.
Ketua Dewan Audit OJK, Sophia Wattimena menyampaikan bahwa tata kelola atau governance harus dijalankan melalui proses yang berintegritas, akuntabel, dan transparan. Menurutnya, nilai tersebut selaras dengan budaya yang diterapkan di UMS, seperti amanah, kejujuran, dan tanggung jawab.
“Kompetensi yang dimiliki harus disertai integritas yang kuat. Jadi enggak cuma pintar saja, tapi juga punya karakter dan integritas yang baik,” ungkap Sophia.
Ia menjelaskan bahwa governance memiliki kaitan erat dengan perkembangan teknologi dan pembangunan infrastruktur. Semakin kompleks sistem yang dibangun, semakin penting penerapan tata kelola yang baik agar seluruh proses dapat berjalan aman, adil, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Sophia mencontohkan pembangunan gedung yang memerlukan proses pengadaan dan pemilihan vendor secara tepat agar menghasilkan infrastruktur yang berkualitas dan tahan lama.
“Dengan tata kelola yang baik, outcome yang dihasilkan juga akan baik, mulai dari proses perencanaan sampai hasil akhirnya,” terangnya.
Dalam kesempatan tersebut, Sophia juga memaparkan peran OJK sebagai lembaga pengawas sektor jasa keuangan, mulai dari perbankan, asuransi, dana pensiun, hingga pasar modal. Ia menyebut total aset industri jasa keuangan yang diawasi OJK mencapai sekitar Rp30.000 triliun sehingga penerapan tata kelola menjadi sangat krusial.
“Penerapan tata kelola di sektor jasa keuangan menjadi sangat penting untuk menjaga stabilitas keuangan dan kepercayaan publik,” tandasnya. (*)

