SOLO, MENARA62.COM – Lembaga Pengembangan Pondok, Al-Islam, dan Kemuhammadiyahan (LPPIK) bekerja sama dengan Muhammadiyah Medical Center (MMC) Universitas Muhammadiyah Surakarta ums.ac.id (UMS) resmi luncurkan Klinik Upaya Berhenti Merokok (UBM) pada Jumat (24/4) di halaman depan MMC UMS. Kegiatan ini menjadi tindak lanjut dari program Kampus Bebas Asap Rokok yang telah dicanangkan pada Desember 2025 lalu.
Ketua LPPIK UMS, Dr. Mahasri Shobahiya, M.Ag., dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
“Alhamdulillah di pagi hari ini kita dapat hadir dalam launching Klinik Upaya Berhenti Merokok atau singkatannya (UBM),” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa kehadiran klinik ini menjadi langkah konkret dalam mendukung implementasi program sebelumnya.
“Agenda pagi ini adalah follow up dari launching Kampus Bebas Asap Rokok untuk menjadi sebuah klinik yang akan melayani mahasiswa maupun tendik agar berupaya untuk berhenti merokok,” jelasnya.
Direktur MMC UMS, Prof. dr. Dr. Em Sutrisna, M.Kes., menyampaikan bahwa gerakan kampus tanpa rokok telah diupayakan sejak 2021.
“Gerakan UMS tanpa rokok telah kita upayakan sejak 2021, ada hasil namun belum sempurna,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa MMC siap memberikan layanan konsultasi bagi civitas akademika dan mahasiswa yang ingin berhenti merokok.
“Insya Allah MMC siap untuk melayani dari jam 8 pagi sampai jam 8 malam, untuk mahasiswa atau tendik yang berkeinginan untuk berhenti merokok,” tambahnya.
Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., menekankan pentingnya pelaksanaan program secara menyeluruh di seluruh lini kampus.
“Program ini harus menyeluruh, mulai dari pengecekan rektorat sampai ke bawah-bawahnya,” tegasnya.
Ia juga mengusulkan pengembangan layanan konsultasi yang lebih fleksibel.
“Harusnya ada platform konsultasi daring maupun luring agar mempermudah,” ujarnya.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa kebiasaan merokok merupakan bentuk pemborosan yang perlu dihindari.
“Merokok itu mubazir, mubazir adalah sifat setan dan setan adalah musuh kita bersama,” katanya.
Peluncuran klinik ditandai dengan penyerahan plakat secara simbolis oleh Rektor UMS kepada Direktur MMC, sebagai tanda resmi beroperasinya Klinik UBM di lingkungan kampus.
Dalam sesi wawancara, Dr. Mahasri Shobahiya, M.Ag., menjelaskan bahwa klinik ini hadir sebagai bentuk fasilitasi nyata setelah deklarasi Kampus Bebas Asap Rokok.
“Kalau launching kemarin itu untuk Kampus Bebas Asap Rokok, sekarang ini kita memfasilitasi agar teman-teman yang ingin berhenti merokok bisa dilayani,” jelasnya.
Ia mengakui bahwa implementasi sebelumnya masih menghadapi tantangan.
“Mengajak itu bukan sesuatu yang gampang, sudah diingatkan beberapa kali, tidak semuanya hadir,” tuturnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa masih ditemukan aktivitas merokok di beberapa titik strategis kampus.
“Ternyata masih ada tempat-tempat strategis, terutama di parkiran, itu masih merokok,” ungkapnya.
Oleh karena itu, klinik ini diharapkan menjadi solusi bagi civitas akademika yang ingin berhenti merokok.
“Jangan-jangan di antara mereka ada yang sudah ingin berhenti merokok tapi belum tahu bagaimana caranya, maka kami mencoba memfasilitasi lewat klinik ini,” katanya.
Terkait mekanisme layanan, Mahasri menjelaskan bahwa pendekatan akan disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu.
“Kalau belum menjadi pecandu, tentu diarahkan bagaimana belajar berhenti merokok,” ujarnya.
Sementara itu, bagi yang telah menunjukkan indikasi gangguan kesehatan, akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut oleh tenaga medis.
“Kalau sudah ada tanda-tanda kurang sehat, nanti diarahkan untuk dicek lebih lanjut oleh dokter,” jelasnya.
Selain layanan kesehatan fisik, UMS juga menyediakan pendampingan psikologis melalui fasilitas Student Mental Health and Wellbeing Support (SMHWS).
“Kita punya SMHWS yang siap melayani konsultasi untuk membantu menyelesaikan problem-problem psikologis,” tambahnya.
Mahasri berharap kolaborasi antara LPPIK dan MMC dapat mewujudkan lingkungan kampus yang sehat dan menyehatkan.
“Kami sangat berharap kampus ini betul-betul menjadi kampus yang sehat dan menyehatkan,” ujarnya.
Ia menutup dengan menegaskan pentingnya kesehatan sebagai fondasi utama. “Kalau secara fisik kita sehat maka yang lain-lain insya Allah akan sehat juga,” pungkasnya. (*)
