Oleh : Soleh Amini Yahman. Psikolog *)
SOLO, MENARA62.COM – Waktu tidak mungkin ditarik kembali ke belakang. Ketika ia sudah bergulir, maka jalannya tak mungkin dicegah. Ia melaju tanpa kompromi, menggilas dan menerjang apa pun yang dilaluinya. Anehnya, manusia yang sering merasa sebagai pemilik waktu, justru kerap tidak menyadari bahwa dirinya sedang ditinggalkan oleh waktu itu sendiri. Hingga suatu ketika, ia terperanjat oleh kenyataan: rambutnya memutih, tubuhnya melemah, dan kesempatan-kesempatan yang dulu berderet di hadapannya kini telah menjelma menjadi kenangan yang tak bisa disentuh kembali : Di situlah penyesalan menemukan rumahnya !
Ia datang perlahan, lalu menetap. Menyelinap di sela-sela ingatan tentang hari-hari yang pernah ia sia-siakan. Tentang tugas-tugas yang ia tunda dengan ringan “nanti saja.” Tentang panggilan-panggilan kebaikan yang ia abaikan dengan dalih yang sama “masih ada waktu.” Kata “nanti” yang semula terdengar sederhana, ternyata adalah jebakan halus yang menjerumuskannya ke dalam keterlambatan yang permanen. Ia tidak sadar bahwa setiap “nanti” adalah potongan kecil dari hidupnya yang hilang, yang tak pernah kembali.
Ia dulu punya mimpi, tapi ia menundanya. Ia dulu punya kesempatan, tapi ia mengabaikannya. Ia dulu punya tenaga, tapi ia menghabiskannya untuk hal-hal yang remeh dan tidak bernilai. Dan kini, ketika usia telah menua, ia baru memahami bahwa hidup bukan sekadar tentang memiliki waktu, melainkan tentang bagaimana memaknai setiap detik yang diberikan.
Namun kesadaran itu datang terlambat.
Kini ia duduk dalam kesunyian yang panjang, ditemani oleh ingatan-ingatan yang justru menyakitkan. Ia mencoba meraba kembali masa lalu, seolah berharap ada satu saja hari yang bisa diulang. Tapi waktu bukanlah halaman buku yang bisa dibalik sesuka hati. Ia adalah arus yang hanya mengalir ke depan, tanpa pernah memberi kesempatan untuk kembali.
Di hadapannya, hanya tersisa sisa-sisa umur yang tak lagi utuh. Ia ingin memperbaiki, tapi tenaga sudah tak sekuat dulu. Ia ingin berlari mengejar, tapi langkahnya terseok. Ia ingin memulai, tapi garis akhir sudah tampak begitu dekat.
Dan di titik itulah, suara batin mulai menggema lebih keras daripada sebelumnya, mengapa dulu ia tidak bersungguh-sungguh? Mengapa ia lebih memilih menunda daripada menunaikan? Mengapa ia merasa waktu akan selalu menunggunya?
Padahal, waktu tidak pernah menunggu siapa pun.
Penyesalan itu semakin dalam ketika ia menyadari bahwa hidup bukan hanya tentang dirinya sendiri. Ada amanah yang pernah diembankan kepadanya : sebagai hamba, sebagai anak, sebagai orang tua, sebagai bagian dari masyarakat yang sebagian besar tidak ia tunaikan dengan optimal. Ia terlalu sibuk dengan penundaan, hingga lupa bahwa setiap detik sejatinya adalah titipan yang akan dimintai pertanggungjawaban.
Hingga akhirnya, saat yang tak pernah bisa ditunda itu benar-benar tiba. “Waktumu sudah habis. Sudah waktunya kau kembali pulang kepada rumah abadimu.” Kalimat itu menggema dalam kesadarannya, bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai kepastian yang tak terbantahkan. Ia ingin menangis, ingin memohon tambahan waktu, walau hanya sekejap. Namun ia tahu, permintaan itu tak akan pernah dikabulkan. Sebab waktu di dunia adalah ruang ujian, bukan ruang pengulangan. Kini ia hanya bisa berharap, semoga di antara sekian banyak kelalaian, masih ada secercah kebaikan yang dapat menjadi penolongnya. Ia ingin pulang dengan jiwa yang tenang, namun yang tersisa justru kegelisahan yang panjang kegelisahan karena ia tahu betapa banyak yang seharusnya bisa ia lakukan, tetapi tidak ia lakukan.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.” Kalimat itu kini tidak lagi sekadar ucapan yang dihafalnya sejak kecil. Ia menjadi kesadaran yang mengguncang: bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya, termasuk waktu yang pernah ia sia-siakan.
Esai ini bukan sekadar kisah tentang seseorang yang menua. Ia adalah cermin bagi siapa saja yang masih diberi waktu hari ini. Sebab menjadi tua adalah kepastian, tetapi menjadi “terlanjur tua dalam penyesalan” adalah pilihan—yang sering kali kita ambil tanpa sadar, setiap kali kita berkata: nanti, nanti, dan nanti. Kesimpulan yang paling tegas dari esai ini adalah: waktu adalah amanah yang tidak pernah menunggu kesiapan kita, sehingga setiap penundaan adalah bentuk kelalaian yang kelak berbuah penyesalan. Karena itu, satu-satunya sikap yang benar adalah menyegerakan kebaikan, menunaikan tanggung jawab tanpa menunda, dan memaknai setiap detik sebagai kesempatan ibadah. Sebab ketika kesadaran datang setelah waktu habis, yang tersisa bukan lagi peluang untuk memperbaiki, melainkan hanya penyesalan yang tidak lagi memiliki daya guna.
“Waktu tidak pernah kejam ia hanya jujur ! Yang kejam adalah kita, ketika berkali-kali menunda hingga akhirnya kehilangan kesempatan untuk menebusnya.” (Soleh Amini : nasehat diri sendiri).
*) Drs. Soleh Amini Yahman. MSi.Psikolog adalah dosen fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta.


