PEKALONGAN, MENARA62.COM — Kisah inspiratif datang dari SMK Muhammadiyah Pekalongan. Seorang siswa keturunan Tionghoa beragama Katolik bernama Revano berhasil menorehkan prestasi membanggakan hingga bersiap mengikuti program magang ke Jepang usai lulus sekolah.
Momen haru itu terlihat saat acara pelepasan siswa kelas 12 SMK Muhammadiyah Pekalongan yang digelar di sebuah hotel di Kota Pekalongan, Selasa (12/5/2026). Revano yang didampingi ibunya, Silvia, beberapa kali mendapat tepuk tangan dari para tamu undangan.
Tak hanya karena menjadi lulusan terbaik kedua jurusan Teknik dan Bisnis Sepeda Motor, Revano juga menjadi simbol keberagaman di sekolah berbasis Islam tersebut. Selama tiga tahun menempuh pendidikan, ia mengaku merasa diterima dengan baik tanpa diskriminasi sedikit pun.
“Kesannya baik, teman-teman dan guru semuanya baik-baik,” ujar Revano.
Awalnya, Revano memilih SMK Muhammadiyah Pekalongan karena kualitas jurusan otomotifnya yang dinilai unggul di wilayah Pekalongan. Keputusan itu kemudian menjadi titik penting dalam perjalanan hidupnya.
“Yang bagus kan SMK Muhammadiyah, saya pilih di sini,” katanya.
Selama bersekolah, Revano tetap mendapatkan hak pendidikan agama sesuai keyakinannya. Pihak sekolah menyediakan guru agama Katolik, sementara praktik kegiatan keagamaan dilaksanakan di SMAN 3 Pekalongan.
Ia mengaku nyaman menjalani pendidikan di lingkungan Muhammadiyah dan kini tengah bersiap menatap masa depan melalui program magang ke Jepang.
“Di sini pembelajarannya enak. Setelah lulus mau berangkat ke Jepang,” tambahnya.
Cerita mengharukan juga datang dari sang ibu, Silvia. Ia mengaku sempat ragu menyekolahkan anaknya di sekolah berbasis Islam. Namun keraguan itu hilang setelah mendapat penjelasan langsung dari pihak sekolah.
“Kebetulan dari kepala sekolah menyambut baik, nanti pelajaran agama menyesuaikan. Ya sudah saya tambah mantap menyekolahkan anak saya di SMK Muhammadiyah,” ungkap Silvia.
Menurutnya, selama tiga tahun sekolah, putranya tidak pernah mengalami pembulian maupun perlakuan rasis.
“Anak saya Katolik mendapatkan pelajaran Katolik juga, tidak ada paksaan harus ikut pelajaran agama Islam,” katanya.
Silvia bahkan melihat perubahan besar pada diri Revano sejak masuk SMK Muhammadiyah Pekalongan. Putranya menjadi lebih disiplin, rajin mengerjakan tugas, hingga memiliki keterampilan otomotif yang terus berkembang.
“Sekarang bisa servis motor sendiri, bahkan dipercaya tetangga,” ujarnya bangga.
Dalam kesempatan itu, Silvia juga mengajak masyarakat nonmuslim agar tidak ragu menyekolahkan anak di sekolah Muhammadiyah.
“Untuk teman nonmuslim jangan takut memasukkan anaknya ke Muhammadiyah karena akan diterima dengan baik,” tuturnya.
Kepala SMK Muhammadiyah Pekalongan, Khusnawan, menegaskan sekolah tidak pernah membedakan siswa berdasarkan agama maupun latar belakang.
“Muhammadiyah itu luas. Pendidikan Muhammadiyah untuk semuanya, siapa saja,” katanya.
Ia memastikan sekolah tetap memberikan fasilitas pendidikan agama sesuai keyakinan masing-masing siswa dan tidak pernah memaksakan ajaran tertentu kepada siswa nonmuslim.
“Tidak ada keinginan kami untuk mengajak dia harus ke Islam,” tegasnya.
Kini, setelah dinyatakan lulus bersama 128 siswa lainnya, Revano bersiap mengejar mimpi baru. Berkat prestasinya, ia memperoleh kesempatan mengikuti program magang ke Jepang melalui beasiswa dari LPK. (*)
