34.1 C
Jakarta

Dosen UM Bandung Ajak Masyarakat Kembali Cintai Pangan Lokal

Baca Juga:

BANDUNG, MENARA62.COM – Kekayaan pangan lokal Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesehatan masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan nasional. Namun, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal karena masyarakat semakin bergantung pada pangan ultraolahan dan produk impor.

 

Hal itu disampaikan dosen Program Studi Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, Dr. Saepul Adnan, M.Si., saat menjadi narasumber dalam Gerakan Subuh Mengaji (GSM) yang diselenggarakan ‘Aisyiyah Jawa Barat beberapa waktu lalu.

 

Menurut Saepul, Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi di dunia. Kekayaan tersebut bukan hanya tercermin dari keanekaragaman flora dan fauna, tetapi juga melimpahnya sumber pangan lokal yang tersebar di berbagai daerah.

 

Sayangnya, kata dia, masyarakat kini cenderung meninggalkan pangan tradisional dan beralih mengonsumsi ultra-processed food atau pangan ultraolahan yang telah melalui banyak proses industri.

 

“Semakin jauh makanan dari bentuk aslinya, maka semakin besar pula risiko yang perlu kita waspadai. Oleh karena itu, sudah saatnya kita kembali mengenal dan mencintai pangan lokal,” ujar Ketua Halal Center UM Bandung tersebut.

 

Pangan Lokal Kaya Gizi dan Bernilai Budaya

 

Saepul menegaskan, pangan lokal tidak sekadar menjadi sumber karbohidrat, tetapi juga merupakan identitas budaya, hasil kearifan lokal, sekaligus anugerah yang harus dijaga dan dimanfaatkan.

 

Ironisnya, ketika masyarakat Indonesia mulai meninggalkan pangan tradisional, negara-negara lain justru mengembangkan tren artisan food, yakni produk pangan alami dengan kualitas bahan baku yang lebih baik dan minim proses industri.

 

Ia mendorong masyarakat untuk mulai melakukan diversifikasi pangan. Selama ini konsumsi masyarakat masih sangat bergantung pada beras, padahal Indonesia memiliki beragam sumber pangan alternatif seperti hanjeli, sorgum, ganyong, gadung, porang, umbi garut, hingga gembili yang memiliki kandungan gizi tinggi.

 

“Kebergantungan pada satu jenis pangan tidak hanya berisiko terhadap ketahanan pangan nasional, tetapi juga mengurangi keberagaman asupan gizi masyarakat,” jelasnya.

 

Beragam Manfaat bagi Kesehatan

 

Saepul menjelaskan, sejumlah pangan lokal memiliki manfaat fungsional yang baik bagi kesehatan apabila diolah dengan benar.

 

Gadung, misalnya, mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai antioksidan, antidiabetes, dan antiinflamasi. Ganyong memiliki kandungan serat serta amilosa tinggi yang membantu mengontrol kadar gula darah.

 

Sementara itu, umbi garut dapat diolah menjadi beras analog dengan indeks glikemik rendah yang berpotensi menjadi alternatif pangan bagi penderita diabetes. Adapun gembili mengandung prebiotik seperti inulin dan glukomanan yang bermanfaat menjaga kesehatan saluran pencernaan.

 

Menurutnya, Jawa Barat menjadi salah satu daerah dengan potensi pangan lokal yang sangat beragam karena memiliki wilayah pesisir, pegunungan, lembah, hingga dataran rendah yang menghasilkan berbagai komoditas bernilai ekonomi tinggi.

 

Kampus Dorong Hilirisasi Pangan Lokal

 

Saepul menilai tantangan terbesar pengembangan pangan lokal bukan terletak pada ketersediaan bahan baku, melainkan pada penguatan teknologi pengolahan, perbaikan rantai pasok, serta peningkatan investasi agar produk pangan lokal dapat diproduksi secara berkelanjutan.

 

Ia menekankan bahwa industrialisasi pangan lokal tidak harus dimulai dari pembangunan pabrik besar, tetapi dapat dikembangkan melalui usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), komunitas masyarakat, serta kolaborasi antardaerah dengan tetap menjaga karakter budaya lokal.

 

“Yang penting adalah bagaimana produk pangan lokal memiliki nilai tambah, berkualitas, aman, dan diterima masyarakat modern tanpa kehilangan identitasnya,” katanya.

 

Sebagai bentuk komitmen terhadap pengembangan pangan lokal, UM Bandung telah membangun Teaching Factory sebagai laboratorium inovasi berbagai produk berbasis bahan pangan lokal. Berbagai hasil riset, mulai dari roti hanjeli, produk berbasis sorgum, hingga olahan umbi-umbian lokal terus dikembangkan agar mampu menjawab kebutuhan pasar.

 

Saepul menegaskan perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menyediakan riset, teknologi, dan inovasi, sedangkan masyarakat menjadi mitra strategis dalam proses produksi serta pengembangan usaha.

 

“Kita tidak bisa membangun generasi unggul hanya melalui pendidikan. Generasi yang sehat juga dibentuk dari pangan yang bergizi, beragam, dan berasal dari kekayaan negeri sendiri. Karena itu, mencintai pangan lokal sejatinya merupakan bagian dari ikhtiar membangun masa depan bangsa,” pungkasnya. (FA)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!