MALANG, MENARA62.COM – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti secara resmi membuka Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah 2026 sebagai penanda dimulainya Tahun Ajaran 2026/2027. Dalam kesempatan itu, Mendikdasmen menegaskan seluruh sekolah di Indonesia wajib menyelenggarakan MPLS yang aman, nyaman, inklusif, serta bebas dari praktik perpeloncoan dan senioritas.
Pesan tersebut disampaikan Abdul Mu’ti saat menjadi pembina upacara pembukaan MPLS Ramah di SMK Negeri 2 Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Senin (13/7/2026).
Menurutnya, MPLS merupakan tahapan penting yang menjadi gerbang awal perjalanan pendidikan bagi setiap murid di semua jenjang. Karena itu, pelaksanaannya harus mampu memberikan pengalaman pertama yang menyenangkan sekaligus membangun semangat belajar.
“Kami mengajak anak-anakku sekalian untuk menjadikan momentum MPLS sebagai langkah awal menatap masa depan yang gemilang dan mencapai cita-cita yang mulia dalam kehidupan kalian,” ujar Abdul Mu’ti.
Ia menegaskan, Kemendikdasmen berkomitmen membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman sehingga sekolah benar-benar menjadi rumah kedua bagi seluruh peserta didik. Setiap anak Indonesia, tanpa memandang latar belakang ekonomi, kemampuan intelektual, maupun kondisi fisik, memiliki hak yang sama untuk memperoleh layanan pendidikan yang bermutu.
Abdul Mu’ti kembali mengingatkan bahwa praktik perpeloncoan maupun senioritas tidak boleh lagi mewarnai pelaksanaan MPLS. Sebaliknya, kegiatan tersebut harus menjadi momentum menumbuhkan budaya saling menghormati, menghargai, dan menyayangi antarsesama warga sekolah.
Selain itu, MPLS Ramah juga diarahkan untuk membantu sekolah mengenali serta mengembangkan potensi dan bakat setiap murid.
“MPLS Ramah juga menjadi momentum untuk menemukan, menggali, dan mengembangkan bakat anak-anak Indonesia. Pada dasarnya setiap anak Indonesia adalah anak yang hebat dengan potensi dan bakat yang mereka miliki,” tuturnya.
Pada kesempatan yang sama, Mendikdasmen menyampaikan apresiasi kepada para guru yang terus mendampingi peserta didik dengan penuh ketulusan, serta kepada para orang tua yang telah mempercayakan pendidikan putra-putrinya kepada sekolah.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin, mengatakan MPLS harus menjadi ruang adaptasi yang menyenangkan melalui pendampingan guru yang ramah serta kakak kelas yang bersahabat.
Untuk mendukung implementasi tersebut, Kemendikdasmen telah menerbitkan Buku Rujukan MPLS Ramah 2026 yang dapat menjadi pedoman bagi sekolah dalam menyelenggarakan kegiatan orientasi.
Buku tersebut memuat berbagai contoh kegiatan, seperti Salam Sapa Murid Baru, Upacara Bendera, Pagi Ceria, pengenalan Delapan Dimensi Profil Lulusan, hingga Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah). Selain itu, MPLS juga diisi materi pencegahan penyalahgunaan narkoba, bahaya judi, penguatan disiplin, tanggung jawab, serta pembelajaran yang menyenangkan.
“Mari bersama-sama kita kawal pelaksanaan MPLS Ramah 2026 dengan penuh tanggung jawab, keterbukaan, dan rasa cinta kepada murid. Saya mengajak orang tua, sekolah, dan seluruh panitia MPLS menjadikan hari pertama sekolah sebagai hari yang penuh senyum,” kata Tatang.
Semangat tersebut tampak di SMK Negeri 2 Singosari. Salah seorang panitia MPLS Ramah, Putri Kayla Azzahra, siswa kelas XI Program Keahlian Animasi, mengatakan sekitar 600 murid baru telah disambut melalui berbagai kegiatan sejak pra-MPLS.
Menurut Kayla, peserta didik baru diajak mengenal lingkungan sekolah, memahami budaya sekolah, memperoleh edukasi mengenai bahaya NAPZA, hingga mengikuti pengenalan budaya ASRI. Seluruh rangkaian kegiatan nantinya akan ditutup dengan pentas seni dan perlombaan sebagai sarana mempererat kebersamaan.
“Untuk adik-adik, terus semangat dan jangan takut untuk mencoba, karena kami di sini bersama-sama untuk membuat inovasi baru dan meraih prestasi,” ujar Kayla. (*)

