SOLO, MENARA62.COM – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) https://www.ums.ac.id yang tergabung dalam Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sukoharjo menggelar Perkaderan Baret Merah XXVI sebagai upaya memperkuat kapasitas intelektual, spiritual, dan kepemimpinan kader Muhammadiyah. Kegiatan berlangsung pada 10–25 Juli 2026 di Gedung Dakwah Muhammadiyah PCM Sawit, Boyolali.
Mengusung tema “Dialectic of Renaissance”, perkaderan ini diikuti 43 peserta yang akan menjalani proses pembinaan sebagai gerbang awal menjadi kader IMM yang berintegritas, kritis, dan siap menjawab tantangan zaman.
Ketua Panitia, Dwi Kurniadi, mahasiswa Fakultas Agama Islam (FAI) UMS, menjelaskan tema tersebut dipilih untuk membangkitkan kembali semangat tradisi keilmuan Islam yang relevan dengan kebutuhan masyarakat masa kini.
“Dialectic of Renaissance dipilih sebagai pengingat bahwa umat Islam tidak boleh hanya meromantisasi kejayaan peradaban Islam pada masa lampau, tetapi harus mampu membangkitkan kembali tradisi keilmuan dan menghadirkan solusi bagi persoalan masyarakat saat ini,” ujarnya, Selasa (14/7/2026).
Ia berharap seluruh peserta mengikuti setiap tahapan perkaderan dengan sungguh-sungguh sehingga mampu tumbuh menjadi kader yang memiliki kecakapan intelektual sekaligus kepedulian sosial.
Ketua PC IMM Sukoharjo, Immawan Azhar Ardiansyah Al Aziz, yang juga merupakan mahasiswa UMS, mengajak peserta untuk percaya diri dalam mengembangkan gagasan serta tidak merasa rendah diri dalam berpikir.
“Jangan merasa kecil, jangan merasa rendah pemikiran. Melalui tema ini, kita ingin menghadirkan kembali semangat umat Islam sebagaimana pada masa Golden Age,” pesannya.
Perkaderan secara resmi dibuka oleh Ketua Umum PCM Sawit Boyolali, H. Wardoyo, S.Ag. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa cita-cita besar hanya dapat diraih melalui ikhtiar, pengorbanan, dan kedekatan kepada Allah SWT.
“Cita-cita perlu didukung oleh laku. Ketika ingin sukses, kita harus berkorban. Jangan tinggalkan salat malam agar Allah menuntun arah jalan kehidupan kita,” tuturnya.
Usai pembukaan, peserta mengikuti Stadium General bertajuk Dialektika Kebangkitan Peradaban: Membangun Renaissance Intelektual Kader IMM yang disampaikan oleh Dr. Hamdan Maghribi, S.Th.I., M.Phil.
Dalam paparannya, Hamdan menjelaskan bahwa renaissance bermakna kebangkitan tradisi intelektual yang diawali dengan mengoptimalkan fungsi akal sebagaimana diajarkan Abu Hamid Al-Ghazali. Ia menguraikan empat tahapan pengembangan akal, yakni tilawah, refleksi, tafakur (tadabbur), dan muhasabah.
Menurutnya, membaca tidak boleh berhenti pada tahap mengetahui, tetapi harus berlanjut pada memahami, mengamalkan, merefleksikan, hingga mengevaluasi diri agar melahirkan ilmu yang bermanfaat.
Ia juga menyoroti berbagai tantangan generasi muda saat ini, mulai dari rendahnya minat membaca bacaan panjang, munculnya ilusi pengetahuan akibat merasa tahu tanpa memahami secara mendalam, aktivisme yang kehilangan akar keilmuan, hingga pragmatisme yang hanya mengejar hasil instan.
Selain itu, Hamdan mengulas konsep dialektika Hegel yang terdiri atas tesis, antitesis, dan sintesis sebagai proses lahirnya kemajuan peradaban. Menurutnya, kejayaan sains Islam pada masa lalu tercipta karena para ilmuwan muslim tidak sekadar menerjemahkan ilmu, tetapi juga mengkritisi, mengembangkan, dan melahirkan gagasan-gagasan baru.
Menutup materinya, Hamdan menegaskan bahwa kebangkitan peradaban hanya dapat diwujudkan melalui tiga pilar utama, yakni kesadaran kritis, tradisi ilmu, dan keberanian melakukan transformasi.
“Renaissance tidak lahir dari kader yang malas berpikir. Ia lahir dari mereka yang gelisah, membaca, mengkritik, dan bergerak,” pungkasnya.
Melalui Perkaderan Baret Merah XXVI, PC IMM Sukoharjo berharap lahir kader-kader Muhammadiyah yang tidak hanya unggul dalam intelektualitas, tetapi juga mampu menghadirkan solusi nyata bagi persoalan umat dan berkontribusi dalam membangun peradaban Islam yang berkemajuan. (*)
