SOLO, MENARA62.COM – Wakil Dekan I Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id , Dr. Miftakhul Huda, M.Pd., menegaskan pentingnya sinergi antara orang tua dan madrasah dalam menanamkan adab kepada anak di tengah derasnya perkembangan teknologi digital. Pesan tersebut disampaikan saat menjadi keynote speaker dalam kegiatan Awalussanah Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Digdaya Bolon, Sabtu (11/7/2026).
Mengangkat tema “Sinergi Orang Tua dan Madrasah dalam Penanaman Adab“, Miftakhul Huda menekankan bahwa pendidikan karakter dan prestasi akademik harus berjalan beriringan agar mampu membentuk generasi yang unggul sekaligus berakhlak mulia.
Dalam pemaparannya, ia mengajak para wali murid merefleksikan kebiasaan sederhana di rumah, seperti sarapan bersama hingga keteladanan yang setiap hari dilihat anak dari orang tuanya. Menurutnya, lingkungan keluarga menjadi fondasi utama pembentukan karakter anak.
Ia menjelaskan bahwa generasi saat ini tumbuh di tengah paparan smartphone, media sosial, kecerdasan buatan (AI), game online, dan berbagai platform digital yang tidak pernah dialami generasi sebelumnya.
“Anak-anak kita sedang hidup pada zaman yang belum pernah dialami oleh generasi mana pun. Namun, tidak ada teknologi yang mampu menggantikan pendidikan adab dari orang tua dan guru,” tegas Miftakhul Huda, Rabu (15/7/2026).
Akademisi UMS tersebut juga menyoroti fenomena anak-anak yang memiliki kecerdasan tinggi, tetapi mulai kehilangan empati dan rasa hormat terhadap sesama. Menurutnya, kondisi itu dipengaruhi oleh budaya yang lebih sering mengukur keberhasilan melalui nilai akademik dibandingkan perilaku sehari-hari.
“Prestasi memang bisa membuat anak diterima di sekolah terbaik, tetapi adablah yang membuat anak diterima di mana saja,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Miftakhul Huda memaparkan tiga alasan mengapa kolaborasi rumah dan madrasah menjadi sangat penting. Pertama, anak akan mengalami kebingungan apabila nilai-nilai yang diajarkan di rumah berbeda dengan yang diterapkan di sekolah. Kedua, pendidikan adab tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada madrasah karena anak lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Ketiga, orang tua merupakan madrasah pertama bagi anak, sedangkan guru berperan sebagai penguat pendidikan karakter.
Untuk membangun karakter secara efektif, ia memperkenalkan Formula Penanaman Adab, yakni 10 persen nasihat, 30 persen pembiasaan, dan 60 persen keteladanan.
Menurutnya, anak jauh lebih mudah meniru perilaku yang mereka lihat setiap hari daripada sekadar mendengarkan nasihat.
Ia juga menegaskan bahwa pendidikan karakter merupakan tanggung jawab seluruh warga sekolah. Budaya madrasah, katanya, dibentuk oleh semua elemen, mulai dari guru, tenaga administrasi, petugas kebersihan, satpam, hingga penjaga kantin.
“Anak belajar dari siapa pun yang mereka temui di lingkungan sekolah. Karena itu, semua warga sekolah adalah pendidik,” jelasnya.
Menyesuaikan tantangan era digital, Miftakhul Huda mengingatkan pentingnya membangun etika bermedia bagi anak sejak dini. Orang tua dan guru didorong membimbing anak agar berkomentar dengan santun, tidak menyebarkan hoaks, menghargai privasi orang lain, menghindari perundungan di dunia maya, serta memanfaatkan teknologi AI secara bertanggung jawab.
Mengakhiri paparannya, ia mengajak seluruh orang tua memandang pendidikan anak sebagai investasi jangka panjang yang tidak hanya berorientasi pada kesuksesan akademik, tetapi juga pada pembentukan akhlak.
“Mungkin kita tidak mampu mewariskan miliaran rupiah. Namun kita semua mampu mewariskan kejujuran, tanggung jawab, kesantunan, dan cinta kepada Allah. Warisan itulah yang nilainya tidak pernah habis,” pungkasnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kolaborasi antara keluarga dan madrasah tetap menjadi kunci utama dalam membentuk generasi yang cerdas, berprestasi, sekaligus beradab. (*)
