31.8 C
Jakarta

Pondok Shabran UMS Terima 40 Mahasantri Terbaik

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Pondok Hajjah Nuriyah Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) https://www.ums.ac.id/ resmi menetapkan 40 mahasantri baru Program Sarjana (S1) Tahun Akademik 2026/2027 setelah melalui proses seleksi berlapis yang ketat. Seleksi ini menjadi bagian dari komitmen Pondok Shabran UMS dalam memperkuat perannya sebagai pusat kaderisasi Muhammadiyah tingkat nasional.

Sebanyak 40 mahasantri yang dinyatakan lolos berasal dari berbagai provinsi di Indonesia dan dipersiapkan menjadi calon ulama intelektual, pemimpin umat, serta kader Persyarikatan Muhammadiyah yang berintegritas dan berdaya saing.

Proses seleksi meliputi verifikasi administrasi, tes hafalan Al-Qur’an, tes tertulis yang mencakup Bahasa Arab, Dirasah Islamiyah dan Kemuhammadiyahan, hingga tes wawancara.

Tahun ini, minat calon mahasantri tercatat cukup tinggi. Sebanyak 83 peserta mendaftar mengikuti Penerimaan Mahasantri Baru (PMB). Setelah melalui seleksi administrasi, 72 peserta dinyatakan memenuhi syarat untuk mengikuti tahapan berikutnya, sebelum akhirnya 40 orang ditetapkan sebagai mahasantri baru dengan komposisi yang seimbang, yakni 20 laki-laki dan 20 perempuan.

Didominasi Kader Muhammadiyah

Mayoritas mahasantri yang diterima memiliki rekam jejak aktif di organisasi otonom Muhammadiyah. Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) menjadi organisasi yang paling banyak melahirkan calon mahasantri, disusul Hizbul Wathan, Tapak Suci, Nasyiatul Aisyiyah, dan Pemuda Muhammadiyah.

Sebagian besar peserta juga merupakan alumni sekolah Muhammadiyah dan berasal dari keluarga yang memiliki kedekatan dengan Persyarikatan Muhammadiyah. Kondisi tersebut memperlihatkan kuatnya ekosistem kaderisasi yang selama ini dibangun Muhammadiyah melalui berbagai lini pendidikan dan organisasi.

Mahasantri baru Pondok Shabran UMS berasal dari berbagai penjuru Indonesia. Jawa Timur menjadi penyumbang terbanyak dengan sembilan orang, disusul Jawa Tengah delapan orang, Lampung lima orang, Jawa Barat empat orang, serta Sulawesi Barat tiga orang.

Selain itu, masing-masing dua mahasantri berasal dari Sumatera Utara dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Sementara Aceh, Sumatera Barat, Bengkulu, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Sulawesi Selatan masing-masing diwakili satu mahasantri.

Persebaran tersebut menunjukkan daya jangkau kaderisasi Pondok Shabran UMS yang semakin luas di tingkat nasional.

Hafalan Al-Qur’an Jadi Nilai Unggulan

Selain menilai potensi kepemimpinan dan kaderisasi, seleksi juga menitikberatkan pada kualitas akademik dan kemampuan keagamaan peserta.

Hasil seleksi menunjukkan sebanyak 21 mahasantri memiliki hafalan Al-Qur’an antara 1 hingga 10 juz. Sebanyak 10 mahasantri menghafal 11–20 juz, lima mahasantri memiliki hafalan 21–29 juz, sedangkan empat mahasantri telah menuntaskan hafalan 30 juz.

Kemampuan Bahasa Arab serta wawasan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan para peserta juga dinilai berada pada kategori baik hingga sangat baik.

Siapkan Pemimpin Muhammadiyah Masa Depan

Wakil Rektor III UMS, Dr. Mutohharun Jinan, M.Ag., mengapresiasi seluruh peserta yang berhasil lolos seleksi. Ia menegaskan proses seleksi yang objektif dan berjenjang dilakukan untuk memastikan Pondok Shabran menerima kader-kader terbaik Muhammadiyah dari seluruh Indonesia.

“Selamat kepada calon mahasantri yang lolos seleksi tahun ini. Pondok Shabran UMS menyiapkan kader Muhammadiyah tingkat nasional yang siap berkiprah mulai dari tingkat ranting, cabang, daerah, wilayah hingga pusat. Sejak awal, Pondok Shabran didesain sebagai sekolah kader yang melahirkan pemimpin Muhammadiyah yang alim, cerdas, dan siap mengabdi di tengah masyarakat,” ujarnya, Rabu (15/7/2026).

Sementara itu, Kepala Pondok Shabran UMS, KH. Yayuli, S.Ag., M.P.I., menegaskan bahwa lembaganya akan terus meningkatkan mutu pendidikan kader sebagai bagian dari upaya mencetak generasi penerus Persyarikatan Muhammadiyah yang unggul.

“Pondok Shabran terus berkomitmen menyelenggarakan pendidikan yang bermutu untuk mencetak kader Persyarikatan yang militan sesuai tiga profil lulusan Pondok Shabran, yaitu kader ulama tarjih, kader ulama tabligh, dan kader organisatoris,” katanya.

Menurut Yayuli, ketiga profil tersebut menjadi arah utama seluruh proses pendidikan dan perkaderan di Pondok Shabran. Dengan penguatan ilmu keislaman, kepemimpinan, serta ideologi Muhammadiyah, para mahasantri diharapkan mampu menjadi penggerak dakwah sekaligus agen kemajuan Persyarikatan di berbagai daerah.

Pelaksanaan PMB Tahun Akademik 2026/2027 semakin menegaskan posisi Pondok Hajjah Nuriyah Shabran UMS sebagai salah satu pusat kaderisasi Muhammadiyah tingkat nasional. Melalui seleksi yang ketat dan pembinaan yang terintegrasi, pondok ini terus melahirkan kader-kader unggul sebagai ulama intelektual, pemimpin umat, dan penerus cita-cita pendiri Pondok Shabran, Moh. Djazman Al-Kindi, dalam membangun Muhammadiyah yang berkemajuan untuk umat, bangsa, dan negara. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!