SOLO, MENARA62.COM – Prestasi membanggakan diraih Tim Klanceng Edufarm Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id dalam ajang Studentpreneur Bootcamp 2026 Muhammadiyah Center for Entrepreneurship and Business Incubator (MCEBI). Setelah menyabet Juara 1 Business dan Juara 2 Proposal kategori Budidaya, startup agribisnis tersebut kini menargetkan ekspansi usaha hingga menembus pasar internasional.
Klanceng Edufarm merupakan startup yang dikembangkan mahasiswa Program Studi Hukum Ekonomi Syariah (HES) Fakultas Agama Islam (FAI) UMS. Tim ini beranggotakan Hibatulloh Al-Mubarok, Oyan Sugiyanto, Wildan Iskandar, Riski Aldiansyah, dan Athifah Fabanyo yang mengusung konsep budidaya lebah klanceng berbasis edukasi, pemberdayaan masyarakat, dan pelestarian lingkungan.
Ketua tim, Hibatulloh Al-Mubarok, mengatakan Klanceng Edufarm lahir pada Agustus 2024 dari keprihatinan terhadap besarnya potensi lebah klanceng di Indonesia yang belum dimanfaatkan secara optimal.
“Kami ingin menghadirkan usaha yang tidak hanya menjual madu, tetapi juga memberikan nilai edukasi dan pemberdayaan kepada masyarakat. Karena itu, sejak awal kami membangun Klanceng Edufarm sebagai bisnis yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga lingkungan,” ujarnya saat ditemui, Jumat (24/7/2026).
Menurutnya, lebah klanceng memiliki nilai ekonomi tinggi sekaligus berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem melalui proses penyerbukan. Karena itu, bisnis yang dikembangkan tidak sekadar berorientasi pada penjualan produk, tetapi juga membawa misi keberlanjutan lingkungan.
Sebagai pembeda dari usaha madu pada umumnya, Klanceng Edufarm menghadirkan inovasi Dual Chamber Trigona Hive System (DCTHS) untuk meningkatkan efektivitas budidaya lebah klanceng. Selain menghasilkan madu premium, lebah tanpa sengat tersebut juga dimanfaatkan sebagai media edukasi bagi anak-anak, pelajar, hingga masyarakat umum.
Perjalanan bisnis yang dimulai kurang dari dua tahun lalu menunjukkan perkembangan pesat. Saat ini Klanceng Edufarm telah memiliki lebih dari 200 koloni lebah, melayani lebih dari 600 pelanggan di berbagai daerah di Indonesia, membangun jaringan 9 reseller, menjalin kerja sama dengan 4 mitra, serta membukukan omzet kumulatif sekitar Rp140 juta.
Hibatulloh menjelaskan, keikutsertaan tim dalam Studentpreneur Bootcamp MCEBI yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Malang pada 17–18 Juli 2026 bukan semata mengejar gelar juara.
“Kami memanfaatkan program ini untuk memvalidasi model bisnis, memperluas jaringan, sekaligus mendapatkan masukan dari mentor, praktisi, dan akademisi agar usaha kami terus berkembang,” jelasnya.
Berbagai masukan yang diterima selama kompetisi semakin memperkuat arah pengembangan usaha. Tim didorong memperkuat hilirisasi produk, meningkatkan nilai tambah melalui inovasi, serta membangun ekosistem bisnis yang menghubungkan peternak, konsumen, dunia pendidikan, dan pelestarian lingkungan.
Berbekal prestasi tersebut, Klanceng Edufarm kini menyiapkan langkah ekspansi. Dalam waktu dekat, tim berencana menambah jumlah koloni budidaya, memperluas jaringan reseller dan mitra di berbagai daerah, membangun pusat edukasi budidaya lebah klanceng, hingga membuka cabang di sejumlah wilayah strategis sebagai persiapan memasuki pasar ekspor.
Keberhasilan Klanceng Edufarm juga mendapat dukungan penuh dari Wakil Rektor III UMS, Dr. Mutohharun Jinan, M.Ag. Menurutnya, mahasiswa perlu didorong membangun bisnis yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga mampu memberikan dampak sosial dan lingkungan.
Ia menilai sebuah usaha akan memiliki daya saing kuat apabila mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus menghadirkan manfaat yang berkelanjutan.
Melalui pembinaan kewirausahaan yang terus diperkuat, UMS berkomitmen melahirkan lebih banyak startup mahasiswa yang inovatif dan kompetitif. Kisah Klanceng Edufarm menjadi bukti bahwa mahasiswa UMS tidak hanya mampu bersaing di tingkat nasional, tetapi juga memiliki visi membawa produk lokal Indonesia menembus pasar global. (*)

