BANDUNG, MENARA62.COM – Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, Cecep Taufikurrohman MA PhD, mengajak umat Islam memperkuat ketahanan keluarga, pendidikan agama, dan literasi digital sebagai upaya menghadapi berbagai tantangan sosial, termasuk fenomena lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT).
Pesan tersebut disampaikan Cecep saat menjadi pemateri dalam Kajian Gerakan Subuh Mengaji (GSM) yang digelar pada Kamis lalu. Dalam kajiannya, ia menekankan pentingnya pendekatan edukatif dan dakwah yang penuh hikmah dalam menyikapi persoalan sosial di tengah derasnya arus informasi digital.
Menurut Cecep, Islam telah memberikan pedoman yang jelas mengenai fitrah manusia. Ia menyampaikan bahwa hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam ikatan pernikahan merupakan jalan yang dibenarkan dalam syariat Islam.
“Oleh karena itu, menjaga fitrah menjadi bagian penting dari upaya kita membangun keluarga yang sakinah sekaligus melahirkan generasi penerus yang berakhlak mulia,” ujarnya.
Lulusan Universitas Al-Azhar Mesir itu menilai fenomena LGBT tidak hanya menjadi persoalan individu, tetapi juga tantangan sosial yang membutuhkan perhatian bersama. Karena itu, keluarga, sekolah, perguruan tinggi, masjid, hingga lingkungan masyarakat perlu bersinergi dalam memperkuat pendidikan agama, karakter, dan nilai-nilai moral bagi generasi muda.
Ia juga menyoroti perkembangan media sosial dan teknologi digital yang memungkinkan berbagai informasi diakses tanpa batas. Kondisi tersebut, menurutnya, menuntut peningkatan literasi digital agar anak-anak dan remaja mampu menyaring informasi yang diterima.
“Ketahanan keluarga harus dimulai dari rumah. Pendidikan agama, komunikasi yang hangat, perhatian terhadap pergaulan anak, dan pendampingan dalam menggunakan media digital menjadi langkah penting untuk menjaga fitrah generasi,” katanya.
Meski demikian, Cecep mengingatkan bahwa menyikapi fenomena LGBT tidak boleh dilakukan dengan kebencian maupun tindakan yang merendahkan martabat manusia. Menurutnya, Islam mengajarkan dakwah bil hikmah, yakni menyampaikan ajaran agama melalui kebijaksanaan, kasih sayang, dialog, serta pembinaan yang memberi ruang bagi setiap orang untuk memperbaiki diri.
Ia menegaskan bahwa pendekatan dakwah yang mengedepankan hikmah akan lebih efektif dibandingkan sikap menghakimi. Sebab, tujuan dakwah adalah mengajak manusia kembali kepada ajaran Allah SWT dengan cara yang baik dan memberikan keteladanan.
Melalui kajian tersebut, Cecep berharap umat Islam semakin memahami pentingnya menjaga fitrah, memperkuat ketahanan keluarga, serta meningkatkan literasi digital di tengah perkembangan zaman. Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama membangun lingkungan yang religius, edukatif, dan saling menguatkan demi menjaga masa depan generasi bangsa. (FA)

