BANDUNG, MENARA62.COM — Batik kini tak lagi identik dengan busana formal. Di tangan generasi muda, warisan budaya Indonesia itu terus dikembangkan menjadi produk fesyen dan kriya yang kreatif, fungsional, serta relevan dengan gaya hidup masyarakat masa kini.
Semangat tersebut terlihat dalam perayaan HUT ke-18 Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) melalui kegiatan Batik Walk yang digelar di Kota Bandung, Ahad (9/8/2026).
Mahasiswa Program Studi Kriya Tekstil dan Fashion (KTF) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Selain mengikuti Batik Walk, mereka memperkenalkan berbagai karya kriya berbasis batik kepada masyarakat.
Sekitar 300 peserta dari berbagai komunitas, organisasi, pelaku usaha, pemerhati budaya, hingga perguruan tinggi mengikuti kegiatan tersebut.
Para peserta berjalan mengenakan busana batik dari Halaman Gedung PR di Jalan Asia Afrika, melintasi Gedung Merdeka, Jalan Banceuy, Jalan Cikapundung, dan Jalan Braga, sebelum finis di Halaman Gedung Bank Indonesia.
Karya Mahasiswa Dipamerkan ke Publik
Kehadiran mahasiswa KTF UM Bandung menjadi bagian dari rangkaian Jambore Batik Jawa Barat 2026. Mereka membuka booth Kriyanian Universitas Muhammadiyah Bandung dalam bazar yang menjadi ruang perkenalan karya sekaligus interaksi dengan masyarakat.
Di booth tersebut, mahasiswa tidak hanya memamerkan kain batik. Mereka menunjukkan bagaimana keterampilan kriya dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai estetika, fungsi, sekaligus nilai ekonomi.
Beragam karya ditampilkan, mulai dari batik tulis, batik cap, outer, hingga sarung bantal bermotif batik.
Produk tersebut menunjukkan upaya mahasiswa mengolah tradisi menjadi karya yang lebih dekat dengan kebutuhan dan selera masyarakat modern.
Salah satu mahasiswa KTF UM Bandung, Nathania Zahra Putri Rizal, mengaku senang dapat terlibat langsung dalam kegiatan tersebut.
Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan pengalaman sekaligus kesempatan bagi mahasiswa untuk memperkenalkan karya kepada masyarakat luas.
“Di sini kami memiliki beberapa produk, misalnya batik tulis ataupun cap, produk outer, dan sarung bantal dengan motif batik yang merupakan hasil karya para mahasiswa Prodi KTF UM Bandung,” ujar Nathania.
Batik Jadi Ruang Kolaborasi Generasi Muda
Bagi Nathania, Batik Walk dan bazar Kriyanian bukan hanya menjadi ajang memamerkan karya. Kegiatan tersebut juga membuka ruang bagi mahasiswa untuk memperluas jejaring dan bertukar gagasan dengan berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap perkembangan batik.
“Kegiatan di sini seru banget. Kami bisa mendapatkan relasi dan bertukar pikiran seputar ide-ide batik,” katanya.
Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran mahasiswa KTF UM Bandung. Kreativitas yang diperoleh di ruang kelas diuji langsung melalui interaksi dengan publik dan pelaku industri kreatif.
Mahasiswa tidak hanya dituntut menghasilkan karya yang menarik, tetapi juga belajar memperkenalkan, mengemas, dan mengembangkan produk agar memiliki daya tarik sekaligus nilai ekonomi.
Nathania berharap keterlibatan mahasiswa dalam berbagai kegiatan publik dapat membuka ruang yang lebih besar bagi karya KTF UM Bandung untuk dikenal masyarakat.
“Semoga Kriyanian dan Prodi KTF UM Bandung bisa maju, sukses, dan produk-produknya bisa lebih dikenal banyak orang,” ujarnya.
Hubungkan Kampus dengan Industri Kreatif
Partisipasi mahasiswa KTF UM Bandung dalam Batik Walk dan bazar Kriyanian menjadi bagian dari upaya menghubungkan kreativitas akademik dengan ekosistem industri kreatif.
Kegiatan tersebut sekaligus memberikan pengalaman nyata kepada mahasiswa dalam mengembangkan batik sebagai karya budaya yang tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga bernilai ekonomi dan fungsional.
Melalui kreativitas generasi muda, batik diharapkan terus berkembang tanpa kehilangan identitas budayanya. Tradisi tetap dipertahankan, sementara bentuk dan pemanfaatannya terus beradaptasi dengan perubahan zaman. (*)

