YOGYAKARTA, MENARA62.COM
Peringatan 111 tahun Suara Muhammadiyah (SM) diisi dengan kegiatan yang cukup istimewa. Bukan sekadar mengenang perjalanan panjang sebuah media yang tumbuh bersama Persyarikatan Muhammadiyah, tetapi juga mengajak pembaca dan warga Muhammadiyah melihat kembali jejak jurnalistik melalui buku Ijtihad Jurnalistik: Hidup Bermuhammadiyah dan Bersama Suara Muhammadiyah karya Mustofa W. Hasyim.
Bedah buku berlangsung dalam suasana akrab. Para peserta tidak hanya diajak membicarakan isi buku, tetapi juga mendengarkan cerita perjalanan panjang Mustofa W. Hasyim selama bergelut dengan dunia jurnalistik, kebudayaan, pendidikan dan kehidupan Persyarikatan Muhammadiyah.
Moderator diskusi, Rizki Putra Dewantoro, sejak awal menyebut kegiatan tersebut bukan semata-mata bedah buku dalam pengertian formal. Ia mengajak peserta untuk menjadikan forum itu sebagai ruang bercerita dan mengenang perjalanan bersama Suara Muhammadiyah.
Menurut Rizki, buku tersebut memiliki kedekatan tersendiri dengan banyak kalangan karena menceritakan pengalaman seorang jurnalis yang tidak bisa dilepaskan dari perjalanan Muhammadiyah. Ia juga mengungkapkan pengalaman pribadinya ketika masih aktif di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Cianjur pada 2009. Saat itu, ia pernah mengundang Mustofa W. Hasyim untuk memberikan pelatihan jurnalistik.
Pertemuan yang terjadi bertahun-tahun lalu tersebut kembali mempertemukan keduanya dalam forum bedah buku. Bagi Rizki, pengalaman itu menjadi bagian kecil dari perjalanan panjang yang akhirnya dituangkan Mustofa dalam buku Ijtihad Jurnalistik.
Dalam kesempatan tersebut, Mustofa W. Hasyim kemudian menceritakan perjalanan hidupnya sejak masa kanak-kanak. Ceritanya membawa peserta pada suasana Kota Gede, lingkungan keluarga, pendidikan, tradisi mengaji hingga pengalaman mengenal Muhammadiyah sejak usia dini.
Mustofa lahir pada 17 November 1954 di Rumah Sakit Tentara DKT Kota Baru. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang memiliki kedekatan dengan tradisi perjuangan dan pendidikan agama. Pengalaman masa kecil, kegemarannya terhadap cerita, pramuka, lagu serta bacaan kemudian ikut membentuk karakter kepenulisannya.
Pendidikan agama juga menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Ia pernah menempuh pendidikan di sekolah yang memiliki latar belakang pesantren dan Muhammadiyah. Berbagai mata pelajaran agama dan bahasa Arab yang dipelajari sejak muda menjadi bekal yang kelak turut memengaruhi cara pandangnya dalam menulis.
Perjalanan jurnalistiknya kemudian membawa Mustofa ke Jakarta dan kembali ke Yogyakarta. Ia menceritakan pengalamannya ketika bekerja di lingkungan Suara Muhammadiyah dan berhadapan dengan berbagai persoalan yang tidak selalu sederhana. Bagi dirinya, seorang jurnalis tidak cukup hanya menyampaikan berita, tetapi juga harus memahami situasi dan dampak dari informasi yang ditulis.
Dari pengalaman itulah muncul gagasan tentang “ijtihad jurnalistik”. Mustofa menggambarkan “ jurnalis sebagai orang yang semangatnya tidak boleh mati. Berita mungkin selesai diterbitkan, tetapi gagasan dan semangat seorang jurnalis seharusnya terus hidup melalui tulisan-tulisannya”.
Pandangan tersebut mendapat penekanan dari DR. Imawan Wahyudi, salah seorang pembicara dalam diskusi yang juga menjadi kolega selama menjadi team Redaktur Suara Muhammadiyah. Ia melihat Mustofa bukan hanya sebagai jurnalis, tetapi juga sebagai budayawan dan pemikir yang memiliki cara khas dalam mengolah persoalan menjadi tulisan.
Imawan mengaku banyak belajar dari pengalaman bekerja bersama Mustofa di Suara Muhammadiyah, “ dalam berbagai rapat dan proses kerja jurnalistik, pendapat Mustofa kerap menjadi salah satu rujukan penting sebelum sebuah pembahasan diselesaikan” tutur Immawan.
Ia juga menilai kekuatan tulisan Mustofa terletak pada kemampuannya menghubungkan persoalan sederhana dengan persoalan yang lebih besar. Hal-hal kecil dalam kehidupan dapat menjadi pintu masuk untuk membicarakan dinamika sosial, politik, budaya maupun kehidupan keagamaan.
Bagi Imawan, karakter tersebut membuat tulisan Mustofa terasa utuh. Ia tidak berhenti pada persoalan normatif, tetapi berusaha mempertemukan nilai dengan realitas kehidupan. Dalam konteks jurnalistik Muhammadiyah, pendekatan semacam itu dinilai penting karena media tidak hanya bertugas menyampaikan informasi, tetapi juga membangun cara pandang pembacanya.
Ia kemudian mengibaratkan penulis sebagai penjaga api peradaban. Tulisan yang baik, kata dia, dapat terus hidup meskipun penulisnya telah meninggalkan dunia. Gagasan yang pernah dituangkan dalam tulisan dapat dibaca kembali, diperdebatkan, dikembangkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dalam pembahasannya terhadap buku Ijtihad Jurnalistik, Imawan juga menyoroti keberagaman tema yang ditulis Mustofa. Mulai dari persoalan kehidupan sehari-hari, pendidikan, agama, budaya hingga dinamika politik bangsa. Ia melihat semuanya sebagai bagian dari perjalanan pemikiran seorang jurnalis yang tumbuh dari lingkungan Muhammadiyah.
Ia berharap buku tersebut tidak berhenti sebagai dokumentasi perjalanan seorang tokoh. Lebih dari itu, Ijtihad Jurnalistik diharapkan menjadi bahan bacaan bagi generasi muda, terutama mereka yang ingin memahami tradisi jurnalistik Muhammadiyah dan bagaimana sebuah gagasan dirawat melalui tulisan.
Drs. H. Akhid Widi Rahmanto yang pernah menjadi ketua PDM Kota Yogyakarta, salah satu murid pengajian binaan pak Mus di Kotagede yang dengan berbagai cerita menarik masa kecil yang membekas dan menjadi bekal dalam kiprahnyha di Masyarakat dan Muhammadiyah menambah hangatnya membedah salah satu episode perjalanan sang penulis buku ini .
Forum bedah buku tersebut akhirnya menjadi semacam pertemuan antara masa lalu dan masa kini. Pengalaman Mustofa W. Hasyim sebagai jurnalis senior dipertemukan dengan generasi yang kini meneruskan kerja jurnalistik di tengah perubahan zaman.
Di usia 111 tahun, Suara Muhammadiyah tidak hanya merayakan perjalanan sejarahnya, tetapi juga membuka kembali catatan-catatan yang pernah ditulis para pegiatnya. Buku Ijtihad Jurnalistik menjadi salah satu cara untuk melihat bahwa perjalanan sebuah media tidak hanya tersimpan dalam arsip dan terbitan, tetapi juga dalam pengalaman, gagasan dan keteladanan orang-orang yang pernah menghidupinya.
Dari ruang diskusi itu, satu pesan terasa kuat: jurnalistik bukan sekadar pekerjaan menulis berita. Ia adalah ikhtiar merawat gagasan, menyampaikan kebenaran dan menjaga agar api pemikiran tetap menyala dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Bedah Buku Ijtihad Jurnalistik Karya Mustofa W. Hasyim
- Advertisement -
