SUKOHARJO, MENARA62.COM — Kreativitas peserta didik menjadi salah satu daya tarik dalam Forum Ta’aruf dan Orientasi Siswa (FORTASI) di SMP Muhammadiyah Al Kautsar PK Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah. Beragam penampilan ekstrakurikuler hingga bazar karya siswa membuat peserta didik baru tak hanya mengenal lingkungan sekolah, tetapi juga melihat langsung potensi yang bisa mereka kembangkan.
Kegiatan tersebut turut menjadi bagian dari pengalaman mahasiswa Program Pengenalan Lapangan Persekolahan 2 (PLP 2) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id melalui keterlibatan 23 mahasiswa dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dan Fakultas Agama Islam (FAI).
Para mahasiswa PLP 2 berasal dari Program Studi Pendidikan Biologi, Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Teknik Informatika, dan Pendidikan Jasmani. Mereka terlibat dalam berbagai aktivitas sekolah untuk memahami kehidupan persekolahan secara lebih utuh, tidak hanya melalui praktik mengajar di ruang kelas.
FORTASI dikemas secara edukatif dan interaktif dengan memperkenalkan lingkungan sekolah, budaya belajar, tata tertib, serta berbagai kegiatan pengembangan minat dan bakat.
Salah satu agenda yang menarik perhatian peserta didik baru adalah penampilan ekstrakurikuler. Hizbul Wathan, Tapak Suci, panahan, seni tari, seni musik, hingga English Club tampil menunjukkan kemampuan mereka.
Penampilan tersebut sekaligus menjadi cara sekolah memperkenalkan beragam pilihan kegiatan yang dapat diikuti peserta didik sesuai minat dan bakat selama menempuh pendidikan.
Bazar Jadi Ruang Kreativitas Siswa
Selain pertunjukan ekstrakurikuler, FORTASI dimeriahkan bazar atau market day yang dikelola siswa. Beragam makanan, minuman, dan produk hasil kreativitas peserta didik ditawarkan melalui sejumlah stan.
Peserta didik baru tampak antusias mengunjungi stan, berinteraksi dengan kakak kelas, sekaligus mengenali aktivitas yang tersedia di sekolah.
Kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi hiburan. Bazar memberikan ruang bagi siswa untuk belajar berkreasi, berkomunikasi, bekerja sama, sekaligus mengenal praktik kewirausahaan sederhana.
Kepala SMP Muhammadiyah Al Kautsar PK Kartasura, Muhammad Rifqo Nugroho, M.Pd., mengatakan mahasiswa PLP 2 memiliki tanggung jawab lebih luas daripada sekadar melaksanakan praktik mengajar.
“Menjadi guru bukan hanya sekadar mengajar, tetapi juga menanggung beban moral sebagai pendidik dan suri teladan bagi peserta didik. Oleh karena itu, jagalah tingkah laku dan kedisiplinan selama melaksanakan PLP 2,” pesannya, Rabu (12/8/2026).
Ia juga meminta mahasiswa memanfaatkan PLP sebagai ruang belajar untuk mempersiapkan diri menjadi pendidik.
“Meskipun kegiatan ini merupakan bagian dari proses latihan, laksanakanlah dengan sungguh-sungguh dan manfaatkan kesempatan ini untuk mengambil ilmu sebanyak-banyaknya sebagai bekal menjadi pendidik di masa depan,” imbuh Rifqo.
Mahasiswa Belajar Memahami Karakter Siswa
Mahasiswa PLP 2 UMS, Mariya Sarah Alhawa, dari Program Studi Pendidikan Biologi angkatan 2023, menilai FORTASI memberikan pengalaman nyata mengenai pentingnya kreativitas dalam membangun suasana belajar yang menyenangkan.
Menurutnya, penampilan ekstrakurikuler dan bazar tidak hanya berfungsi sebagai hiburan bagi peserta didik baru. Kegiatan tersebut juga menjadi sarana membangun kepercayaan diri, mempererat interaksi antarsiswa, serta memperkenalkan berbagai wadah pengembangan potensi di sekolah.
“Selama pelaksanaan PLP 2, kami juga memperoleh kesempatan untuk melaksanakan praktik mengajar sekaligus mengobservasi karakteristik peserta didik. Interaksi langsung dengan guru, siswa, dan warga sekolah menjadi bagian dari proses pengembangan kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian mahasiswa sebagai calon pendidik,” ujarnya.
Bagi mahasiswa PLP 2 UMS, keterlibatan dalam FORTASI menjadi pengalaman penting untuk memahami berbagai aspek kehidupan sekolah. Mereka tidak hanya belajar mengenai pembelajaran di kelas, tetapi juga terlibat dalam kegiatan kesiswaan, pembentukan karakter, serta penciptaan lingkungan belajar yang positif.
Program PLP 2 FKIP UMS pun menjadi bagian dari pembelajaran berbasis pengalaman atau experiential learning. Melalui keterlibatan langsung dalam aktivitas sekolah, mahasiswa memperoleh kesempatan memahami budaya akademik, manajemen sekolah, karakter peserta didik, hingga dinamika kehidupan sekolah.
Pengalaman tersebut diharapkan menjadi bekal bagi mahasiswa untuk tumbuh menjadi calon pendidik yang tidak hanya mampu mengajar, tetapi juga memahami kebutuhan peserta didik dan mampu menciptakan lingkungan pendidikan yang kreatif, positif, dan menyenangkan. (*)
