JAKARTA,MENARA62.COM
Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggelar Jambore Media AfiliasiMu #3 di Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), 12–13 Agustus 2026. Mengusung tema “Penguatan Media AfiliasiMu di Era Digital”, kegiatan ini menjadi ruang bertemunya para pengelola media Muhammadiyah dari berbagai daerah sekaligus memperkuat jejaring komunikasi Persyarikatan.
Sekitar 50 media afiliasi Muhammadiyah dari berbagai wilayah di Indonesia mengikuti jambore tersebut. Forum ini diarahkan tidak sekadar sebagai ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi ruang berbagi pengalaman, peningkatan kapasitas, serta pembahasan tantangan media Muhammadiyah menghadapi perubahan teknologi dan perilaku masyarakat dalam mengakses informasi.
Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta, Sapta Candra, menyampaikan apresiasi atas dipilihnya UMJ sebagai tempat penyelenggaraan Jambore Media AfiliasiMu #3. Menurutnya, UMJ terbuka terhadap berbagai kegiatan Muhammadiyah, termasuk kegiatan yang berkaitan dengan penguatan media afiliasi.
Dalam sambutannya, Sapta menitipkan pesan agar insan media Muhammadiyah tetap memegang prinsip jurnalistik dalam setiap pemberitaan. Ia menekankan pentingnya verifikasi, klarifikasi dan tabayun sebelum informasi disampaikan kepada publik.
“Kami menitip pesan kepada media afiliasi Muhammadiyah untuk mengedepankan verifikasi, klarifikasi dan tabayun dalam pemberitaannya,” ujarnya.
Pesan tersebut dinilai semakin penting di tengah derasnya arus informasi digital. Perkembangan media sosial membuat informasi dapat beredar dengan sangat cepat, sementara kebenaran sebuah informasi belum tentu terjamin.
Wakil Ketua MPI PP Muhammadiyah, Roni Tabroni, menyebut Jambore Media AfiliasiMu #3 memiliki keistimewaan tersendiri. Setidaknya terdapat dua momentum penting yang berlangsung bersamaan dalam kegiatan tersebut.
Keistimewaan pertama adalah jambore kali ini beririsan dengan peringatan Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah yang jatuh pada 13 Agustus 2026. Peringatan tersebut dikaitkan dengan tanggal kelahiran Majalah Suara Muhammadiyah, media yang telah diterbitkan Muhammadiyah sejak 1915.
Roni menjelaskan, MPI PP Muhammadiyah sejak 2024 telah mengusulkan agar tanggal lahir Suara Muhammadiyah diperingati sebagai Hari Pers Muhammadiyah. Usulan tersebut kemudian mendapat sambutan positif dari Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir. Bahkan, menurut Roni, Haedar menambahkan unsur literasi sehingga menjadi Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah.
“Pak Haedar menyambut baik hari lahir SM diperingati sebagai Hari Pers Muhammadiyah. Bahkan beliau menambahkan Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah,” kata Roni.
Momentum tersebut sekaligus menjadi pengingat panjangnya perjalanan pers Muhammadiyah dalam menyampaikan gagasan, dakwah, pendidikan dan informasi kepada masyarakat. Di tengah perubahan teknologi, warisan tersebut dituntut terus beradaptasi dengan berbagai platform komunikasi baru.
Keistimewaan kedua adalah penyerahan Kartu Wartawan Utama Khusus (KWUK) kepada Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir. Menurut Roni, proses pengajuan kartu tersebut telah berlangsung sejak 2023 dan melewati berbagai tahapan serta dinamika di Dewan Pers.
“Pengajuan ini telah melewati dua periode pengurus Dewan Pers, dari pengajuan manual hingga digital. Alhamdulillah KWUK untuk Ketua Umum telah terbit,” ungkap Roni.
Ia menilai pemberian kartu tersebut memiliki arti tersendiri karena Haedar memiliki perjalanan panjang di dunia jurnalistik, khususnya bersama Suara Muhammadiyah. Kiprah tersebut telah dimulai sejak masa mahasiswa dan berlangsung hingga sekarang.
“Hingga sekarang Pak Haedar tidak pernah keluar dari box redaksi Majalah Suara Muhammadiyah,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua PP Muhammadiyah Prof. Dadang Kahmad dalam sambutan pembukaan menegaskan bahwa Jambore Media AfiliasiMu bukan sekadar pertemuan para pengelola media. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan momentum untuk memperkuat kesadaran bahwa media memiliki posisi penting dalam gerakan Muhammadiyah di tengah perubahan zaman.
Dadang mengingatkan bahwa pola masyarakat memperoleh informasi telah berubah drastis. Jika sebelumnya masyarakat mengandalkan surat kabar, radio dan televisi, kini informasi hadir dalam hitungan detik melalui telepon genggam. Bahkan setiap orang dapat menjadi pembuat sekaligus penyebar informasi.
Dalam situasi tersebut, Muhammadiyah, menurut Dadang, tidak boleh hanya menjadi konsumen informasi. Persyarikatan harus mampu menjadi produsen informasi yang berkualitas, terpercaya, mencerahkan dan membawa kemaslahatan.
“Media Muhammadiyah harus hadir bukan sekadar untuk memberitakan kegiatan rutin, tetapi harus menjadi ruang bagi gagasan, ilmu pengetahuan, dakwah, pendidikan, kebudayaan, dan pembelaan terhadap kepentingan umat,” katanya.
Ia menekankan media Muhammadiyah harus mampu menghadirkan informasi yang cepat sekaligus benar. Popularitas dan jumlah pengikut tidak boleh menggeser kualitas serta tanggung jawab jurnalistik.
Di tengah banjir informasi, Dadang mengingatkan masih banyak beredar hoaks, provokasi dan informasi yang tidak terverifikasi. Karena itu, prinsip tabayyun harus menjadi etika utama dalam pengelolaan media Muhammadiyah.
Di sisi lain, perkembangan teknologi digital juga memberikan peluang besar. Kehadiran kecerdasan buatan (AI), media sosial, video pendek, podcast, live streaming dan berbagai platform digital dapat dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan dakwah dan pemikiran Muhammadiyah.
Namun, pengelola media tidak cukup hanya menguasai kamera, desain, penyuntingan, algoritma dan media sosial. Mereka juga membutuhkan wawasan keislaman dan kemuhammadiyahan, kemampuan jurnalistik, literasi digital, integritas serta kepekaan terhadap persoalan masyarakat.
Dadang berharap Jambore Media AfiliasiMu menjadi ruang belajar bersama. Bukan hanya membahas bagaimana membuat konten viral, tetapi bagaimana menghasilkan konten yang bernilai dan memberikan manfaat.
Ke depan, ia mendorong terbentuknya ekosistem media Muhammadiyah yang kuat dan terintegrasi, mulai dari tingkat pusat, wilayah, daerah, perguruan tinggi, sekolah, rumah sakit, amal usaha, organisasi otonom hingga komunitas kader.
“Satu gerakan, banyak kanal; banyak kanal, satu nilai,” tegasnya.
Menurut Dadang, banyaknya media dan platform komunikasi tidak menjadi persoalan selama semuanya membawa nilai yang sama, yakni Islam Berkemajuan, dakwah yang mencerahkan, ilmu pengetahuan, kemanusiaan, kebangsaan dan kemaslahatan.
Ia berharap jambore menghasilkan tiga capaian utama, yakni peningkatan kapasitas, peningkatan kualitas konten, dan peningkatan kolaborasi. Dengan demikian, Media AfiliasiMu tidak hanya menjadi jaringan media Muhammadiyah, tetapi berkembang menjadi kekuatan komunikasi digital yang mampu memperluas gagasan Islam Berkemajuan kepada masyarakat.
Jambore Media AfiliasiMu #3 pun resmi dibuka. Dua hari pertemuan tersebut diharapkan menjadi titik penguatan baru bagi media Muhammadiyah untuk menghadapi era digital tanpa kehilangan karakter jurnalistik, nilai Persyarikatan dan tanggung jawab kepada publik.
Jambore Media AfiliasiMu #3 Tekankan Penguatan Jurnalisme Muhammadiyah di Era Digital
- Advertisement -
