PULANG PISAU, MENARA62.COM ⁰– Di tengah kondisi kemarau panjang dan minimnya hujan, Kabupaten Pulang Pisau juga menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di kawasan gambut Desa Tumbang Nusa, Kecamatan Jabiren Raya. Pemerintah Kabupaten Pulang Pisau telah menetapkan Status Siaga Bencana Karhutla melalui Keputusan Bupati Pulang Pisau Nomor 240 Tahun 2026 sebagai langkah mengonsolidasikan penanganan kebakaran lahan gambut yang belum sepenuhnya padam.
Desa Tumbang Nusa menjadi salah satu kawasan yang menghadapi persoalan karhutla di tengah kondisi lahan gambut yang kering. Situasi tersebut menambah keprihatinan masyarakat di tengah kemarau yang ditandai dengan minimnya hujan dalam beberapa waktu terakhir.
Di tengah kondisi tersebut, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Pulang Pisau menggelar Salat Istisqa’, Rabu (12/8/2026), di halaman Masjid KH Ahmad Dahlan, Jalan Lintas Kalimantan, Kabupaten Pulang Pisau. Salat dilaksanakan sebagai ikhtiar dan doa bersama untuk memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan yang membawa manfaat dan keberkahan.
Salat Istisqa’ dimulai pukul 06.45 WIB Bertindak sebagai imam Khadirun, sementara khutbah disampaikan oleh Najmuddin Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Pulang Pisau
Pelaksanaan Salat Istisqa’ tersebut dihadiri Bupati Pulang Pisau H. Ahmad Rifai, unsur Forkopimda Kabupaten Pulang Pisau, pimpinan dan anggota DPRD Kabupaten Pulang Pisau, kepala perangkat daerah/SKPD, serta kepala sekolah dan perwakilan siswa/pelajar dari sejumlah sekolah dan pesantren terdekat dengan lokasi Masjid KH Ahmad Dahlan.
Turut hadir unsur organisasi masyarakat, tokoh agama dan masyarakat, warga Muhammadiyah, serta masyarakat umum.
*Kemarau Menjadi Momentum Introspeksi*
Dalam khutbahnya, Najmuddin mengajak jamaah menjadikan kondisi kemarau sebagai momentum untuk melakukan introspeksi, memperbanyak istighfar dan taubat, sekaligus memperbaiki kehidupan bersama.
Menurutnya, kemarau seperti yang dialami saat ini tidak hanya menguji kesabaran, tetapi juga mengingatkan manusia untuk kembali kepada Allah SWT. Kejujuran, amanah, keadilan, dan kepedulian kepada sesama merupakan bagian dari ketakwaan yang dapat mendatangkan keberkahan.
Ia mengutip pesan dalam Surah Nuh ayat 10–12 tentang pentingnya memohon ampun kepada Allah SWT. Istighfar menjadi bagian dari ikhtiar spiritual dalam mengetuk pintu rahmat Allah, termasuk memohon turunnya hujan.
Namun, menurut Najmuddin, doa harus berjalan seiring dengan ikhtiar.
Menjaga Lingkungan sebagai Bagian dari Ikhtiar
Najmuddin mengingatkan bahwa manusia sebagai khalifah Allah SWT memiliki tanggung jawab untuk menjaga lingkungan. Ikhtiar tersebut antara lain menjaga hutan, melestarikan sumber air, menghemat penggunaan air, mencegah pencemaran sungai, serta menghindari pembakaran hutan dan lahan.
Karena itu, Salat Istisqa’ tidak semata-mata menjadi momentum untuk meminta turunnya hujan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut diharapkan melahirkan kesadaran bersama untuk memperbaiki diri, memperkuat kepedulian sosial, memperbanyak amal saleh, serta menjaga lingkungan.
Dalam doa yang dipanjatkan, jamaah memohon agar Allah SWT memberikan hujan yang melimpah, lembut, membawa manfaat, dan tidak menimbulkan kerusakan.
Salat Istisqa’ tersebut menjadi ikhtiar bersama masyarakat Pulang Pisau di tengah kemarau dan ancaman karhutla. Dari halaman Masjid KH Ahmad Dahlan, doa dipanjatkan agar Allah SWT menurunkan hujan yang membawa rahmat, memadamkan api, menghidupkan bumi yang kering, serta memberikan keberkahan dan keselamatan bagi seluruh masyarakat.Doa dipanjatkan, ikhtiar dikuatkan, dan kepedulian terhadap alam menjadi tanggung jawab bersama.

