SOLO, MENARA62.COM — Inovasi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id kembali mencuri perhatian di panggung internasional. Bio-Chest, kotak penyimpanan hasil perikanan berbasis material hayati yang dilengkapi teknologi Internet of Things (IoT), berhasil meraih Gold Medal dalam World Young Inventors Exhibition (WYIE) 2026 di Malaysia.
Penghargaan tersebut menjadi buah dari proses pengembangan Bio-Chest selama sekitar satu tahun. Tak hanya menawarkan alternatif terhadap penggunaan styrofoam, inovasi ini juga dirancang untuk membantu menjaga kualitas hasil perikanan melalui pemantauan kondisi secara real-time.
Tim Bio-Chest terdiri atas Yoon Eaindray dari Program Studi Teknik Mesin, Rajiv Tamim Wicaksana, Shyerly Fauziah Nur Rizki, Nila Rahayuningtyas, dan Raihan Ath-Thoriq dari Program Studi Teknik Kimia, Muhammad Akmal Indratama dari Teknik Mesin, serta Rahman Hendika dari Teknik Elektro. Tim tersebut dibimbing Muhammad Al Fatih Hendrawan, S.T., M.T.
Ketua tim, Yoon Eaindray, mengatakan Bio-Chest dikembangkan untuk menjawab kebutuhan menjaga kualitas dan keamanan produk perikanan sekaligus menghadirkan kemasan yang lebih berkelanjutan.
“Berbeda dengan kemasan konvensional yang umumnya berfungsi sebagai wadah sekaligus isolator pasif, Bio-Chest mengintegrasikan material isolasi berbasis hayati dengan sistem pemantauan kondisi produk berbasis Internet of Things (IoT),” ujarnya, Rabu (12/8/2026).
Gantikan Styrofoam dengan Material Berbasis Hayati
Salah satu keunggulan Bio-Chest terletak pada material isolasinya. Tim menggunakan polyurethane foam berbasis minyak jarak yang dikembangkan untuk memberikan kemampuan isolasi termal sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap material kemasan yang sulit terurai.
Tak berhenti pada inovasi material, Bio-Chest juga dilengkapi sejumlah sensor untuk membaca kondisi produk. Pada pengembangan terbaru, tim menambahkan sensor amonia (NH₃) dan GPS, sekaligus menyempurnakan sistem IoT dan formulasi bahan isolasi.
Data dari sensor dapat dipantau melalui situs web. Pengguna juga dapat melihat informasi secara langsung melalui LCD yang terpasang pada perangkat, termasuk kondisi produk dan lokasi kotak.
“Teknologi tersebut dirancang untuk mendukung berbagai tahapan rantai pasok perikanan, mulai dari penangkapan ikan, penyimpanan, transportasi hingga distribusi,” kata Yoon.
Dengan sistem pemantauan real-time tersebut, pengguna dapat mengetahui perubahan kondisi produk lebih cepat sehingga dapat mengambil tindakan apabila terdapat kondisi yang berpotensi menurunkan kualitas ikan.
Berkali-kali Bertanding, Bio-Chest Terus Berevolusi
Prestasi di Malaysia bukanlah pencapaian pertama Bio-Chest. Sebelumnya, inovasi tersebut telah mengikuti sejumlah kompetisi dan meraih penghargaan.
Pada kompetisi pertama di Surabaya, Bio-Chest berhasil memperoleh Gold Medal sekaligus Grand Prize. Tim kemudian membawa inovasi tersebut ke kompetisi di Thailand dan kembali meraih Gold Medal serta Canadian Excellence Award.
Berbagai kompetisi tersebut dimanfaatkan tim bukan semata untuk mengejar penghargaan, melainkan sebagai ruang menguji dan menyempurnakan produk.
Salah satu pembenahan dilakukan pada desain mold. Pada versi sebelumnya, material isolasi mengalami kerusakan ketika dilepaskan dari cetakan. Tim kemudian merancang ulang mold agar proses produksi lebih efektif dan menghasilkan struktur material yang lebih baik.
Penyempurnaan juga dilakukan pada formulasi material, sistem IoT, desain fisik, serta penambahan sensor.
“Bio-Chest bukan produk yang kami ubah dari satu kompetisi ke kompetisi berikutnya. Kami tetap percaya pada konsep dasarnya dan terus mengembangkannya. Setiap tahap menjadi kesempatan untuk memperbaiki produk hingga semakin siap untuk diterapkan di dunia nyata,” ungkap Yoon.
Dilirik Pelaku Usaha Perikanan
Di WYIE 2026, Bio-Chest dipamerkan melalui stan yang menampilkan prototipe, poster, brosur, dan kit bagi pengunjung.
Tim juga mempresentasikan inovasi tersebut di hadapan tiga juri. Presentasi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab mengenai biodegradasi material, hasil eksperimen, fungsi sensor, integrasi IoT, hingga manfaat teknologi bagi rantai pasok hasil perikanan.
Para juri turut menyoroti keunggulan Bio-Chest dibandingkan kemasan yang umum digunakan, khususnya styrofoam.
Respons positif juga datang dari pengunjung. Salah seorang pengunjung asal Arab Saudi yang bergerak di bidang usaha terkait perikanan menunjukkan ketertarikan terhadap potensi penerapan Bio-Chest. Komunikasi kemudian berlanjut melalui pertukaran kontak antara pengunjung dan tim.
Bagi tim, ketertarikan tersebut menjadi sinyal bahwa inovasi Bio-Chest memiliki peluang untuk dikembangkan di luar arena kompetisi.
“Ketika daftar penerima penghargaan diumumkan dan nama Bio-Chest tercantum sebagai salah satu peraih Gold Medal, kami merasa senang sekaligus terkejut,” ujar Yoon.
Gold Medal Jadi Langkah Awal Komersialisasi
Capaian di WYIE 2026 memperpanjang perjalanan Bio-Chest dari kompetisi nasional hingga panggung internasional. Dari Surabaya, Thailand, kemudian Malaysia, inovasi tersebut terus mengalami penyempurnaan tanpa meninggalkan konsep dasarnya.
Kini, tim ingin membawa Bio-Chest ke tahap berikutnya, mulai dari pengujian lebih lanjut, pengembangan produk hingga penjajakan implementasi dan komersialisasi.
Bagi UMS, keberhasilan tersebut sekaligus menunjukkan potensi mahasiswa dalam mengembangkan inovasi yang tidak hanya kompetitif dalam ajang internasional, tetapi juga berangkat dari persoalan nyata di masyarakat.
Bio-Chest pun menawarkan gagasan yang lebih luas: kemasan hasil perikanan tidak harus sekadar menjadi tempat penyimpanan. Dengan material yang lebih berkelanjutan dan dukungan teknologi IoT, sebuah kotak ikan dapat berkembang menjadi sistem pintar untuk membantu menjaga kualitas produk sepanjang rantai pasok. (*)

