SOLO, MENARA62.COM — Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id mendorong Kelompok Wanita Tani (KWT) Sumber Rejeki, Boyolali, mengembangkan potensi rempah lokal menjadi produk olahan bernilai ekonomi. Upaya tersebut dilakukan melalui pelatihan pengolahan rempah menjadi minuman instan, Jumat (7/8/2026).
Pelatihan yang berlangsung di ruang produksi Wedang Djuminten, Boyolali, itu diikuti 15 anggota KWT Sumber Rejeki. Kegiatan merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Transformasi Ekonomi Lokal melalui Pemberdayaan Kelompok Wanita Tani (KWT) Sumber Rejeki Berbasis Inovasi Produk Olahan Rempah untuk Mendukung Ketahanan Pangan.”
Program tersebut digagas Tim Pengabdian kepada Masyarakat UMS dan didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Republik Indonesia.
Latih Produksi Jahe Instan hingga Kunyit Asam
Dalam pelatihan perdana, peserta diperkenalkan dengan pengolahan tiga produk, yakni jahe instan, wedang bajigur, dan kunyit asam.
Narasumber Tuti Widayati bersama Ketua Tim Pengabdian Masyarakat UMS, Dinda Safitri Ramadhani, S.T., M.Eng., memberikan pelatihan teknis sekaligus mengenalkan alat dan bahan yang digunakan dalam proses produksi.
Dinda menjelaskan, pelatihan dilakukan secara bertahap, mulai dari pengenalan bahan baku rempah, proses ekstraksi, hingga pengolahan menjadi produk serbuk siap konsumsi.
“Melalui sinergi antara perguruan tinggi, pelaku usaha, dan Kelompok Wanita Tani ini, produk olahan rempah dari Boyolali diharapkan dapat terus berkembang menjadi komoditas unggulan yang mendukung kesejahteraan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan,” tutur Dinda, Jumat (14/8/2026).
Peserta juga mengikuti praktik pengolahan jahe serbuk instan dan racikan bajigur. Antusiasme terlihat dari keterlibatan aktif peserta selama praktik maupun diskusi mengenai teknik pengolahan rempah.
Tuti Widayati mengapresiasi antusiasme peserta yang mengikuti kegiatan sejak awal hingga akhir.
“Alhamdulillah, antusiasme peserta sangat luar biasa dari awal hingga akhir, terutama saat praktik pembuatan produk jahe serbuk instan dan bajigur. Para peserta juga sangat aktif bertanya selama pelatihan,” ungkap Tuti.
Menurutnya, pelatihan tersebut diharapkan dapat mendorong KWT Sumber Rejeki untuk terus berinovasi sekaligus berkontribusi dalam pengembangan ekosistem UMKM di Boyolali.
Rempah Lokal Dibidik Jadi Komoditas Unggulan
Salah satu peserta, Lina, menilai pelatihan yang diberikan UMS memberikan pengetahuan baru yang dapat diterapkan langsung dalam pengembangan usaha kelompok.
“Acara ini sangat membantu kami di KWT Sumber Rejeki untuk menambah wawasan dalam mengolah bahan-bahan rempah seperti jahe, kunyit, serai, dan daun pandan menjadi produk bernilai jual,” tutur Lina.
Ia berharap pengetahuan yang diperoleh dapat segera diterapkan di KWT Sumber Rejeki untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga dan kelompok.
Dinda mengatakan program tidak berhenti pada pelatihan. UMS akan melanjutkannya dengan pendampingan agar KWT Sumber Rejeki mampu mengembangkan produksi secara mandiri.
“Sebagai langkah keberlanjutan, kami berharap ke depannya KWT Sumber Rejeki dapat berproduksi secara mandiri dan memasarkan produknya ke masyarakat luas,” pungkas Dinda.
Melalui program tersebut, UMS berupaya mempertemukan pengetahuan perguruan tinggi dengan potensi lokal masyarakat. Pengolahan rempah menjadi produk siap konsumsi diharapkan tidak hanya meningkatkan nilai tambah komoditas lokal, tetapi juga membuka peluang penguatan ekonomi kelompok dan ketahanan pangan masyarakat Boyolali. (*)
