SOLO, MENARA62.COM – Perayaan Hari Anak Nasional (HAN) di SMP Muhammadiyah 1 Simpon Surakarta berlangsung berbeda. Bersama mahasiswa Program Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) II Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), sekolah mengajak siswa bernostalgia melalui berbagai permainan tradisional.
Kegiatan yang digelar pada 24 Juni 2026 itu menghadirkan beragam dolanan anak, mulai dari kelereng, lompat tali atau karet, catur, karambol, gobak sodor, engklek atau tapak gunung, hingga dakon atau congklak.
Suasana kegiatan berlangsung meriah. Para siswa tampak antusias bermain bersama, saling menyemangati, dan bekerja sama dalam berbagai permainan.
Kehadiran mahasiswa PLP II UMS turut memberikan pengalaman dalam mendampingi aktivitas siswa. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga ruang bagi siswa untuk berinteraksi dan bersosialisasi sekaligus mengenal kembali permainan tradisional yang mulai jarang dimainkan di tengah perkembangan teknologi dan permainan digital.
Melalui permainan tradisional, siswa juga belajar sejumlah nilai kehidupan, seperti kerja sama, sportivitas, kedisiplinan, komunikasi, dan sikap saling menghargai.
Kepala SMP Muhammadiyah 1 Simpon Surakarta, Rusmanto, mengatakan sekolah ingin memastikan siswa dapat merayakan Hari Anak Nasional dengan suasana yang penuh keceriaan.
“Selamat Hari Anak Nasional, selamat anak-anak semua. Semoga anak-anak di seluruh dunia, terutama di Simpon, dapat merasakan, merayakan, dan memeriahkannya,” ujar Rusmanto.
Ia menegaskan, sekolah juga berkomitmen menciptakan lingkungan belajar yang nyaman bagi siswa. Menurutnya, guru memiliki peran penting dalam menghadirkan rasa aman dan nyaman di lingkungan sekolah.
“Simpon dalam rangka menyukseskan Hari Anak Nasional, semua bapak ibu guru siap menjadi orang tua kedua untuk siswa semuanya. Simpon harus membuat nyaman,” lanjutnya.
Belajar Nilai Kehidupan dari Permainan Tradisional
Antusiasme siswa terlihat ketika mereka mengikuti berbagai permainan yang disediakan. Aktivitas tersebut memberikan kesempatan kepada siswa untuk menikmati permainan bersama tanpa bergantung pada perangkat digital.
Permainan seperti gobak sodor, engklek, lompat tali, dan dakon juga menghadirkan pengalaman interaksi yang berbeda. Siswa dituntut berkomunikasi, mengikuti aturan permainan, bekerja sama, serta menghargai teman.
Bagi mahasiswa PLP II UMS, kegiatan tersebut menjadi pengalaman langsung untuk memahami pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang memberikan ruang bagi siswa untuk bermain, berekspresi, dan membangun kebersamaan.
Kegiatan Hari Anak Nasional ini sekaligus menjadi upaya SMP Muhammadiyah 1 Simpon Surakarta dan mahasiswa PLP II UMS mengenalkan serta melestarikan dolanan tradisional kepada generasi muda.
Lebih dari sekadar permainan, aktivitas tersebut menjadi media pembelajaran karakter yang menyenangkan. Di tengah semakin kuatnya penggunaan teknologi dan permainan digital, dolanan tradisional tetap dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan kebersamaan sekaligus memperkenalkan kembali kekayaan permainan anak Indonesia.
Dengan demikian, perayaan Hari Anak Nasional di SMP Muhammadiyah 1 Simpon tidak hanya menghadirkan kegembiraan, tetapi juga meninggalkan pengalaman bermakna bagi siswa dan mahasiswa PLP II UMS. (*)

