SOLO, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id menjadi rujukan benchmarking Politeknik Caltex Riau (PCR) dalam pengelolaan pendidikan vokasi non-gelar. Kunjungan tersebut sekaligus membuka peluang kolaborasi pengembangan program vokasi yang lebih sesuai dengan kebutuhan industri.
Kunjungan PCR berlangsung di Ruang Sidang Rektorat Gedung Induk Siti Walidah UMS, Kamis (13/8/2026). Rombongan diterima langsung Wakil Rektor V UMS, Prof. Ir. Supriyono, S.T., M.T., Ph.D., sebelum melanjutkan agenda ke Sekolah Vokasi UMS.
Benchmarking tersebut menjadi momentum bagi PCR untuk mempelajari pengalaman UMS dalam mengelola pendidikan vokasi, mulai dari manajemen pendidikan, pengembangan kompetensi, hingga keterkaitan program dengan kebutuhan dunia kerja.
Wakil Rektor V UMS, Supriyono, mengatakan pertukaran pengalaman menjadi bagian penting dalam pengembangan pendidikan vokasi agar mampu menghasilkan lulusan dengan kompetensi yang jelas dan relevan.
“Harapannya, vokasi UMS terus berkembang dan memberikan kompetensi lulusan yang jelas sesuai dengan bidangnya. Kemudian tentunya bisa langsung diterima di pasar kerja,” ujar Supriyono.
Belajar dari Kompetensi yang Dibutuhkan Industri
Direktur Vokasi UMS, Prof. Dr. Ir. Suranto, S.T., M.M., M.Si., menjelaskan sejumlah aspek menjadi perhatian PCR dalam kegiatan benchmarking. Di antaranya pengelolaan pendidikan, kompetensi yang diajarkan, serta pengembangan program yang memiliki keterkaitan dengan kebutuhan industri.
Menurut Suranto, pengalaman UMS dalam mengembangkan pendidikan vokasi juga terlihat dari penyerapan lulusan pada kompetensi tertentu yang dibutuhkan dunia kerja.
Salah satunya adalah kompetensi mekanik alat berat dan operator alat berat yang memiliki tingkat penyerapan lulusan cukup tinggi.
“PCR ingin belajar tentang bagaimana pendidikan di Sekolah Vokasi UMS dikelola, kemudian kompetensi-kompetensi yang diajarkan seperti apa. Beberapa alumni dari kompetensi yang dimiliki UMS, terutama mekanik alat berat maupun operator alat berat, keterserapannya sangat tinggi sehingga lulusan benar-benar bisa langsung bekerja,” jelasnya.
Kondisi tersebut menjadi salah satu pengalaman yang dapat dipelajari PCR dalam mengembangkan pendidikan vokasi yang berorientasi pada kebutuhan industri.
Berpeluang Kerja Sama Short Course
Selain benchmarking, kunjungan PCR juga membuka peluang kerja sama antara kedua institusi. Kolaborasi berpotensi dikembangkan melalui program short course maupun bentuk pendidikan vokasi lainnya.
Suranto mengatakan konsep kerja sama nantinya dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing institusi.
“Insyaallah peluang kerja sama ini ada. Saat ini mereka memiliki rencana untuk mendirikan program short course atau program seperti yang dilakukan UMS. Mereka akan mempelajari terlebih dahulu konsep yang ada di UMS dan melihat kemungkinan penerapannya sesuai dengan kondisi di sana,” ungkapnya.
Wakil Direktur Bidang Kemahasiswaan, Pemasaran dan Kemitraan Sekolah Vokasi UMS, Zainal Arifin Renaldo, S.S., M.Hum., menambahkan, PCR memilih UMS sebagai lokasi benchmarking karena mempertimbangkan potensi industri alat berat yang cukup besar di Provinsi Riau.
Menurut Zainal, pengalaman Sekolah Vokasi UMS dapat menjadi referensi bagi PCR untuk mengembangkan program yang selaras dengan kebutuhan industri di wilayahnya.
“Ke depan sepertinya ada potensi bersama. Bisa jadi pada tahap awal kita melakukan kolaborasi, sehingga program yang dikembangkan PCR dapat dibantu oleh Sekolah Vokasi UMS,” kata Zainal.
Kunjungan tersebut memperkuat posisi UMS sebagai salah satu rujukan pengembangan pendidikan vokasi sekaligus membuka ruang kolaborasi antarlembaga pendidikan.
Melalui pertukaran pengalaman dan pengembangan kerja sama, UMS dan PCR berupaya mendorong pendidikan vokasi yang adaptif, relevan dengan kebutuhan industri, serta mampu mempersiapkan lulusan agar lebih siap memasuki dunia kerja. (*)

