JAKARTA, MENARA62.COM – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. Dr. H. Haedar Nashir, M.Si. menegaskan pentingnya pers sebagai pilar keempat demokrasi. Pers dinilai memiliki tanggung jawab menghadirkan informasi alternatif yang independen sekaligus menyuarakan kebenaran dan kebaikan.
Hal itu disampaikan Haedar dalam Orasi Kebangsaan bertajuk “Pers Berkemajuan: Relasi Media, Agama, dan Semangat Kebangsaan” dalam rangka Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah 2026 di Auditorium KH. A. Azhar Basyir Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Kamis (13/8/2026).
Haedar mengatakan pers memiliki posisi strategis untuk mengungkap realitas yang tidak selalu terlihat di ruang publik. Menurutnya, terdapat perbedaan antara realitas yang ditampilkan di ruang publik dengan kondisi sebenarnya.
Ia menggambarkan kondisi tersebut melalui perspektif front stage dan backstage.
“Panggung depan sering kali penuh drama, rekayasa, dan tidak sepenuhnya menggambarkan realitas yang sebenarnya. Sedangkan panggung belakang itulah yang nyata,” ujar Haedar.
Karena itu, menurut Haedar, pers harus berupaya menghadirkan pemberitaan yang sedekat mungkin dengan realitas objektif. Namun, tugas pers tidak berhenti pada membedakan benar dan salah.
Pers juga dituntut mempertimbangkan nilai baik dan buruk serta aspek pantas dan tidak pantas dalam setiap pemberitaan.
Pers Hadapi Tantangan Media Sosial
Haedar mengakui tantangan pers semakin kompleks. Media tidak sepenuhnya terlepas dari kepentingan pemilik modal maupun kekuasaan politik.
Di sisi lain, media sosial telah berkembang menjadi ruang hidup baru masyarakat. Setiap orang kini dapat menyampaikan informasi dan pendapat secara luas tanpa melalui proses kurasi seperti yang berlaku pada media konvensional.
“Intinya, dulu menulis di media itu penuh proses kurasi dan seleksi. Tidak seperti sekarang, di mana orang bisa asal bicara dan merasa paling benar di media sosial,” ungkapnya.
Situasi tersebut, kata Haedar, semakin menegaskan pentingnya pers yang memiliki integritas dan kemampuan menghadirkan informasi berkualitas bagi masyarakat.
Haedar: Agama Harus Memberi Arah Kehidupan
Dalam orasinya, Haedar juga mengaitkan peran pers dengan nilai agama dan kehidupan kebangsaan. Ia menekankan bahwa agama tidak cukup ditempatkan sebatas ritual, tetapi harus mampu memberikan makna, nilai, dan arah kehidupan.
Haedar mencontohkan perjuangan KH Ahmad Dahlan yang menjadikan pemahaman agama sebagai kekuatan pembaruan. Pemahaman tersebut kemudian diwujudkan melalui berbagai gerakan transformatif, termasuk pendirian sekolah modern, rumah sakit, hingga organisasi ’Aisyiyah.
“Agama tidak boleh sekadar menjadi ritual, tetapi harus memberi makna, memberikan nilai, dan membimbing arah,” tegasnya.
Dalam konteks kehidupan berbangsa, Haedar menyampaikan bahwa Indonesia dibangun atas kehendak untuk hidup bersama di tengah keberagaman. Kehendak tersebut kemudian dikodifikasikan melalui konsensus nasional berupa Pancasila dan UUD 1945.
Menurutnya, konsensus kebangsaan harus terus dijaga, termasuk oleh pers nasional. Pers diharapkan tetap konsisten menyuarakan kebenaran dan kebaikan serta tidak terjebak kepentingan pragmatis.
Haedar Kenang 42 Tahun Dunia Jurnalistik
Haedar juga membagikan pengalaman panjangnya di dunia jurnalistik. Ia mengaku telah berkecimpung dalam dunia pers selama 42 tahun, sejak menjadi wartawan Suara Muhammadiyah.
Pengalaman sebagai wartawan lapangan selama hampir lima tahun disebut turut menempa dirinya menjadi penulis sekaligus jurnalis.
Ia berharap momentum Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah 2026 dapat menjadi ruang untuk memperkuat peran pers dan literasi. Pers diharapkan semakin mampu memberikan kontribusi bagi kehidupan kebangsaan yang mencerahkan dan membawa kemaslahatan.
Acara tersebut turut dihadiri Rektor UMJ Prof. Dr. Ma’mun Murod, M.Si., Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah Prof. Dr. Muchlas, M.T., Ketua Dewan Pers Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, M.A., Ph.D., Menteri Koordinator Bidang Pangan Dr. (H.C.) Zulkifli Hasan, S.E., M.M., Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., Wakil Menteri Dikdasmen Fajar Riza Ulhaq, para rektor PTMA, serta sejumlah tokoh pers dan pimpinan redaksi media nasional. (*)
