BANDUNG, MENARA62.COM — Kemerdekaan Indonesia pada abad ke-21 tidak cukup dimaknai dengan mengenang sejarah. Kemerdekaan harus diisi melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, penguatan sumber daya manusia, serta inovasi yang mampu menjawab persoalan masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Rektor Universitas Muhammadiyah Bandung (UM Bandung), Herry Suhardiyanto, saat menjadi pembina upacara HUT ke-81 Republik Indonesia di halaman kampus UM Bandung, Senin (17/8/2026).
Herry mengatakan, tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur” perlu diterjemahkan menjadi agenda nyata. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki posisi strategis karena didukung sumber daya intelektual, generasi muda, pengetahuan, serta ekosistem riset yang dapat diarahkan untuk memperkuat kemandirian bangsa.
“Universitas bukan hanya tempat memperoleh gelar akademik. Universitas adalah tempat membangun peradaban, mengembangkan ilmu pengetahuan, membentuk karakter, dan mempersiapkan generasi yang mampu menjawab tantangan zaman,” ujar Herry.
Karena itu, UM Bandung berkomitmen menjadikan pendidikan, riset, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat sebagai instrumen utama dalam mengisi kemerdekaan.
Kampus, kata Herry, tidak cukup hanya menghasilkan lulusan. Perguruan tinggi juga harus mampu melahirkan gagasan, pengetahuan, teknologi, dan solusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
UM Bandung Perkuat Ekosistem Teknologi
Arah tersebut sejalan dengan visi UM Bandung sebagai Islamic Technopreneurial University. Herry menilai pengembangan teknologi dan kewirausahaan perlu berjalan beriringan dengan nilai-nilai Islam dan Kemuhammadiyahan.
Dengan demikian, kemajuan teknologi tidak berhenti pada pencapaian material, tetapi juga menghasilkan kebermanfaatan sosial.
“Kita tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi. Kita harus menjadi pencipta dan pengembang teknologi. Kita tidak boleh hanya menjadi konsumen informasi. Kita harus mampu menghasilkan pengetahuan dan inovasi,” tegasnya.
Menurut Herry, tantangan perubahan teknologi dan ekonomi global menuntut kampus membangun ekosistem yang mendorong mahasiswa dan dosen menjadi pencipta inovasi. Perguruan tinggi harus mampu menghasilkan solusi yang tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Dalam kerangka caturdharma perguruan tinggi Muhammadiyah, upaya tersebut diwujudkan melalui peningkatan mutu pembelajaran, riset yang produktif, inovasi aplikatif, serta pengabdian yang benar-benar menyentuh persoalan masyarakat.
Pendidikan Harus Bentuk Manusia Berintegritas
Herry mengingatkan, keberhasilan pendidikan tinggi tidak semata-mata diukur dari nilai akademik maupun jumlah lulusan.
Pendidikan, menurutnya, harus membentuk manusia yang memiliki kompetensi sekaligus integritas, akhlak, kreativitas, kemampuan berkolaborasi, dan kepedulian terhadap lingkungan sosial.
Khusus kepada mahasiswa, Herry berpesan agar masa kuliah tidak hanya digunakan untuk mengejar nilai dan ijazah. Mahasiswa perlu membangun kompetensi, jejaring, kreativitas, karakter, serta keberanian menghasilkan karya.
“Jadilah generasi yang mampu bersaing secara global, tetapi tetap memiliki jati diri dan nilai-nilai keislaman,” pesannya.
Sementara itu, kepada dosen dan tenaga kependidikan, Herry mendorong peningkatan profesionalisme dan kualitas pelayanan. Setiap pekerjaan di lingkungan universitas harus dipandang sebagai bagian dari pengabdian untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi kepada masyarakat.
Dorong Budaya Kolaborasi dan Fastabiqul Khairat
UM Bandung juga terus memperkuat budaya kolaborasi di lingkungan kampus. Persatuan sivitas akademika, kerja lintas bidang, dan budaya kerja produktif dinilai menjadi modal penting untuk merespons perubahan secara cepat.
Herry mengingatkan seluruh sivitas akademika agar tidak cepat berpuas diri atas capaian yang telah diraih. Prestasi yang sudah baik harus dipertahankan, kekurangan diperbaiki, dan target yang belum tercapai terus diperjuangkan.
Semangat fastabiqul khairat atau berlomba-lomba dalam kebaikan, menurut Herry, dapat menjadi etos seluruh sivitas akademika. Dalam konteks perguruan tinggi, semangat tersebut diwujudkan dengan berlomba meningkatkan mutu pendidikan, memperkuat penelitian, melahirkan inovasi, memperluas pengabdian, dan memperbesar manfaat bagi masyarakat.
Dengan demikian, makna kemerdekaan di UM Bandung tidak berhenti pada upacara peringatan. Kemerdekaan diterjemahkan menjadi agenda konkret untuk membangun manusia unggul, memperkuat kemandirian ilmu pengetahuan dan teknologi, serta menghadirkan inovasi berdampak sosial.
Herry menegaskan UM Bandung ingin mengambil bagian dalam membangun Indonesia masa depan yang berdaulat karena menguasai ilmu dan teknologi, adil karena menghadirkan kebermanfaatan bagi masyarakat, serta makmur karena memiliki sumber daya manusia produktif dan berdaya saing.
“Mari bekerja lebih baik, belajar lebih sungguh-sungguh, berinovasi lebih berani, melayani dengan lebih ikhlas, dan memberikan kontribusi yang lebih besar bagi umat dan bangsa,” pungkas Herry. (FA/FK)
