SOLO, MENARA62.COM — Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id memperkuat ketahanan pangan dan gizi keluarga melalui pelatihan diversifikasi olahan ikan lele bagi Kelompok Dasawisma Teratai, Dusun Sukunan, Banyuraden, Gamping, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) tersebut digelar di Roemah Yusi Boyolali, Sabtu (15/8/2026). Program mengusung tema “PkM Pemberdayaan Kelompok Dasawisma Teratai melalui Diversifikasi Olahan Lele sebagai Upaya Penguatan Ketahanan Pangan dan Gizi Keluarga.”
Pelatihan diarahkan untuk meningkatkan keterampilan ibu-ibu Dasawisma dalam mengolah ikan lele menjadi produk pangan yang lebih beragam, bergizi, sekaligus memiliki peluang ekonomi.
Dalam praktiknya, peserta diajak membuat sejumlah produk berbahan dasar lele, antara lain abon lele, dimsum lele, empek-empek lele, dan stik lele.
Ketua Tim Pengabdi UMS, Dr. Ir. Muchlison Anis, S.T., M.T., mengatakan ikan lele merupakan salah satu sumber protein lokal yang potensial. Namun, pemanfaatannya di masyarakat masih kerap terbatas pada olahan sederhana seperti digoreng atau dibakar.
“Melalui diversifikasi ini, kami ingin membantu ibu-ibu Dasawisma Teratai agar lebih kreatif menyajikan olahan ikan. Selain untuk pemenuhan gizi keluarga dan pencegahan stunting pada anak, produk olahan ini juga memiliki nilai ekonomi tinggi sehingga berpotensi dikembangkan menjadi usaha rumahan,” ujar Muchlison Anis, Ahad (16/8/2026).
Libatkan Dosen dan Mahasiswa
Program pemberdayaan tersebut dilaksanakan oleh tim dosen multidisiplin UMS. Selain Muchlison Anis sebagai ketua, tim terdiri atas Aris Budiman, S.T., M.T., yang memberikan pendampingan teknis dan diversifikasi produk, serta Luluk Ria Rakhma, S.Gz., M.Gizi., untuk pendampingan terkait kecukupan gizi dan keamanan pangan.
Mahasiswa UMS Ahmad Karnoto dan Shandika Nauva Abdila juga terlibat aktif mendampingi peserta selama praktik pengolahan.
Keterlibatan lintas bidang tersebut membuat pelatihan tidak hanya berfokus pada keterampilan mengolah lele, tetapi juga memperhatikan aspek gizi, keamanan pangan, dan peluang pengembangan produk.
Gandeng Kelompok Pembudidaya Lele
Muchlison menjelaskan, program tersebut telah dimulai sejak 26 April 2026 melalui sosialisasi kepada seluruh anggota Dasawisma Teratai.
Dalam rangkaian awal tersebut, Dasawisma Teratai juga menggandeng Pokdakan Mina Mulya sebagai kelompok penghasil ikan lele. Kedua kelompok kemudian melakukan perjanjian kerja sama untuk bersinergi dalam pengelolaan ikan lele sebagai alternatif sumber penghasilan ekonomi keluarga.
Perjanjian kerja sama tersebut disaksikan Sumardiono selaku Ketua RT 09 Sukunan bersama seluruh anggota Dasawisma.
Menurut Muchlison, kesinambungan antara ketersediaan bahan baku dan kemampuan mengolah produk menjadi bagian penting dalam membangun usaha berbasis potensi lokal.
Program pengabdian ini mendapat dukungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia melalui Direktorat Riset, Pengabdian kepada Masyarakat, Publikasi dan Sentra KI (DRPPS) UMS.
“Melalui keberlanjutan program ini, Kelompok Dasawisma Teratai diharapkan tidak hanya dapat mandiri secara pangan dan gizi di tingkat rumah tangga, tetapi juga mampu membentuk kelompok usaha bersama berbasis olahan lele di masa mendatang,” pungkas Muchlison.
Dengan diversifikasi tersebut, ikan lele tidak hanya diposisikan sebagai bahan pangan untuk konsumsi keluarga, tetapi juga sebagai komoditas yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. Langkah ini diharapkan memperkuat ketahanan pangan sekaligus membuka peluang usaha bagi keluarga anggota Dasawisma Teratai. (*)
