SOLO, MENARA62.COM — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di SMA Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Surakarta dikemas dengan pendekatan yang dekat dengan kehidupan Generasi Z. Melalui kajian dan doa bersama, para siswa diajak memahami makna perjalanan spiritual Rasulullah sekaligus merefleksikan pentingnya menjalankan syariat Islam di tengah perubahan zaman.
Kajian tersebut menghadirkan Dio A. Diadon, pendakwah milenial, musisi, sekaligus mantan animator serial Adit Sopo Jarwo. Saat ini, Dio juga aktif sebagai marbot di Real Masjid Yogyakarta.
Dengan gaya penyampaian yang ringan dan komunikatif, Dio mengajak siswa melihat peristiwa Isra Mikraj dari perspektif yang lebih dekat dengan dunia anak muda.
Dalam kajiannya, Dio menganalogikan Maulid Nabi dengan film Indonesia Sore: Istri dari Masa Depan. Analogi tersebut digunakan untuk menggambarkan perjalanan Rasulullah SAW yang mengalami perjalanan lintas waktu dan diperlihatkan berbagai peristiwa yang akan terjadi di masa depan.
“Rasulullah melakukan perjalanan lintas waktu dan diperlihatkan berbagai hal di masa depan. Beliau kemudian kembali untuk mengingatkan umatnya. Tetapi umatnya masih ngeyel,” tutur Dio.
Menurut dia, hal yang menarik dari kisah tersebut adalah sikap Rasulullah SAW yang tidak berhenti mengingatkan umatnya, meskipun sebagian umat belum langsung menaati ajaran yang disampaikan.
Dio kemudian mengaitkan sikap Rasulullah dengan karakter Mbak Sore dalam film Sore: Istri dari Masa Depan. Dalam film tersebut, Mbak Sore kembali ke masa lalu untuk mengingatkan suaminya agar menjalani kehidupan dengan lebih baik. Namun, nasihat tersebut sempat ditolak.
“Kenapa Allah tidak marah? Kenapa Mbak Sore tidak marah? Hanya satu alasannya, karena atas dasar cinta,” jelas Dio.
Nasihat Agama Berangkat dari Cinta
Analogi tersebut menjadi inti pesan Dio kepada para siswa. Menurutnya, besarnya cinta Rasulullah SAW kepada umat tercermin dari keteguhan beliau dalam terus memberikan nasihat dan mengingatkan umat, meskipun tidak semuanya langsung menerima atau menjalankan ajaran tersebut.
Dio menekankan, nasihat dan aturan agama semestinya tidak dipandang sebagai bentuk pembatasan terhadap kehidupan anak muda. Sebaliknya, syariat merupakan bagian dari kasih sayang Allah dan Rasulullah untuk menjaga manusia agar tetap berada di jalan yang benar.
Ia mengajak Generasi Z menjadikan keteladanan Rasulullah SAW sebagai bekal menghadapi masa depan.
“Sebagai kaum Gen Z, Maulid Nabi dimaknai sebagai pesan dari masa depan untuk kaum muslimin tentang bagaimana menjaga syariat-syariat agama,” ungkapnya.
Pesan tersebut kemudian diarahkan pada kehidupan siswa sebagai generasi muda. Dio mengingatkan bahwa menjalankan syariat tidak berarti harus kehilangan kreativitas, kesenangan, atau karakter sebagai anak muda.
“Menjadi anak muda, tetaplah menjadi anak muda. Tapi syariat-syariat itu harus dilakukan dan dijalankan,” pesannya.
Momentum Satu Dekade SMA Muhammadiyah PK
Kajian dan doa bersama tersebut tidak hanya menjadi bagian dari peringatan Maulid Nabi, tetapi juga rangkaian Milad satu dekade SMA Muhammadiyah PK Kottabarat.
Memasuki usia 10 tahun, momentum tersebut menjadi ruang refleksi bagi keluarga besar sekolah untuk memperkuat komitmen menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga membangun karakter dan spiritualitas siswa.
Melalui kajian tersebut, siswa diajak memahami bahwa pesan Rasulullah SAW bukan sekadar kisah masa lalu. Nilai yang dibawa dalam Maulid Nabi tetap relevan sebagai bekal generasi muda menghadapi masa depan.
Perjalanan Rasulullah SAW menjadi pengingat bahwa generasi hari ini memiliki tanggung jawab untuk menerima, menjaga, dan menjalankan nilai-nilai Islam di tengah perubahan teknologi, budaya, dan kehidupan sosial.
Satu dekade perjalanan SMA Muhammadiyah PK Kottabarat pun menjadi momentum untuk terus bertumbuh, menjaga nilai, serta menyiapkan generasi yang mampu menghadapi masa depan tanpa kehilangan arah dan karakter. (*)

