JAKARTA, MENARA62.COM — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof. Abdul Mu’ti menegaskan bahwa bahasa Indonesia memiliki peran strategis, bukan hanya sebagai alat komunikasi dan pemersatu bangsa, tetapi juga sebagai instrumen diplomasi yang dapat memperkuat hubungan persahabatan Indonesia dengan masyarakat dunia.
Pernyataan tersebut disampaikan Abdul Mu’ti dalam acara Festival Handai Indonesia (FHI) 2026 yang digelar di Plaza Insan Berprestasi Kemendikdasmen, pada Jumat (21/8/2026). Dalam kesempatan itu, ia menekankan pentingnya memperluas penggunaan bahasa Indonesia di tingkat global sekaligus memberikan ruang bagi warga negara asing yang mempelajari bahasa Indonesia untuk menunjukkan kemampuan, kreativitas, serta pemahaman mereka terhadap budaya Indonesia.
Menurut Abdul Mu’ti, bahasa Indonesia merupakan salah satu warisan besar bangsa yang memiliki sejarah panjang sebagai bahasa pemersatu. Momentum pentingnya dapat ditelusuri sejak Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928, ketika bahasa Indonesia ditegaskan sebagai bahasa persatuan.
Sejak saat itu, bahasa Indonesia berkembang menjadi lingua franca yang mampu menjembatani komunikasi masyarakat dengan latar belakang suku, budaya, dan bahasa daerah yang sangat beragam di Nusantara.
“Bahasa Indonesia adalah anugerah sekaligus warisan besar dari para pendahulu bangsa,” ujar Abdul Mu’ti.
Ia mengatakan, kekuatan bahasa Indonesia sebagai sarana pemersatu kemudian berkembang ke tahap berikutnya. Jika sebelumnya bahasa Indonesia terutama berfungsi sebagai bahasa persatuan di dalam negeri, kini terdapat upaya untuk meningkatkan perannya sebagai bahasa yang dapat digunakan dalam komunikasi antarbangsa.
Bahasa Indonesia Masuk ke Ruang Diplomasi Global
Mendikdasmen Mu’ti juga menyampaikan kebanggaannya atas semakin kuatnya posisi bahasa Indonesia di lingkungan internasional. Ia menyinggung berbagai upaya pemerintah dalam membawa bahasa Indonesia ke ruang-ruang diplomasi dan forum internasional.
Menurut Mendikdasmen, penguatan posisi bahasa Indonesia di tingkat global bukanlah hasil kerja satu pihak. Proses tersebut merupakan hasil sinergi antara pemerintah, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Luar Negeri, perwakilan diplomatik, serta berbagai pemangku kepentingan, termasuk para pembelajar bahasa Indonesia dari berbagai negara.
Mendikdasmen menilai diplomasi tidak semata-mata berkaitan dengan dokumen, perjanjian, ataupun hubungan formal antarnegara. Diplomasi juga dapat dilakukan melalui kebudayaan dan bahasa.
“Bahasa adalah alat diplomasi yang paling lembut, namun paling kuat,” kata Mendikdasmen lebih lanjut.
Ia menilai kemampuan warga negara asing menggunakan bahasa Indonesia dapat membuka ruang interaksi yang lebih dekat dengan masyarakat Indonesia. Bahasa memungkinkan seseorang tidak hanya memahami kata-kata, tetapi juga mengenal kebiasaan, nilai, tradisi, dan cara pandang masyarakat.
Dalam konteks tersebut, para pembelajar bahasa Indonesia di luar negeri dipandang memiliki posisi penting sebagai bagian dari jejaring persahabatan Indonesia di tingkat internasional.
Mengapa Disebut “Handai”?
Mendikdasmen Mu’ti menjelaskan bahwa penggunaan istilah “Handai” dalam Festival Handai Indonesia bukan tanpa alasan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, handai bermakna kawan atau teman. Namun, istilah tersebut memiliki makna yang lebih mendalam dalam konteks program ini.
Pemerintah tidak ingin memandang para pembelajar bahasa Indonesia hanya sebagai “mitra” atau “pemangku kepentingan” dalam hubungan yang bersifat transaksional. Sebaliknya, para pembelajar bahasa Indonesia dari berbagai negara dipandang sebagai sahabat Indonesia.
“Handai Indonesia bukan sekadar kawan atau teman. Handai Indonesia adalah sahabat baik Indonesia,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Handai Indonesia merupakan warga dunia yang mampu berbahasa Indonesia sekaligus memiliki ketertarikan dan pemahaman terhadap peradaban, masyarakat, serta kebudayaan Indonesia.

Karena itu, para Handai dinilai dapat menjadi “duta persahabatan” yang membawa pengetahuan mengenai Indonesia ke berbagai penjuru dunia.
Mendikdasmen menyebut, Festival Handai Indonesia 2026 menjadi salah satu wadah untuk memberikan apresiasi kepada warga negara asing yang telah mempelajari bahasa Indonesia. Melalui festival tersebut, para peserta diberikan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan berbahasa Indonesia sekaligus menampilkan kreativitas mereka.
Memperluas Jejaring Indonesia di Dunia
Mendikdasmen menegaskan, Festival Handai Indonesia dan Kelas Bahasa Indonesia bagi Diplomat merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk memperkuat posisi bahasa Indonesia di tingkat internasional.
Kerja sama yang terbangun melalui program tersebut menunjukkan bahwa pengembangan bahasa membutuhkan kolaborasi berbagai pihak.
Bahasa Indonesia, kata dia, tidak hanya menjadi bagian dari identitas nasional, tetapi juga dapat menjadi instrumen untuk membangun hubungan antarbangsa.
Melalui para Handai Indonesia, masyarakat internasional dapat mengenal Indonesia dari sisi yang lebih dekat dan personal. Sebaliknya, Indonesia juga memiliki kesempatan untuk memahami masyarakat dari berbagai negara melalui interaksi yang dibangun dalam proses pembelajaran bahasa.
“Persahabatan ini akan terus berlanjut dengan cerita yang sama: sama-sama belajar bahasa Indonesia agar cinta kepada Indonesia menjadi lebih mendalam,” tutur Abdul Mu’ti.
Ia menambahkan, upaya memperkuat bahasa Indonesia di kancah global juga berkaitan dengan pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang unggul. Bahasa menjadi salah satu bagian penting dalam membangun kemampuan masyarakat Indonesia untuk berinteraksi di dunia internasional.
Diakui Mendikdasmen, perjalanan bahasa Indonesia yang dimulai dari momentum Sumpah Pemuda kini menghadapi tantangan dan peluang baru. Bahasa yang dahulu menjadi simbol persatuan masyarakat Nusantara kini terus didorong agar semakin dikenal dan digunakan masyarakat dunia.
Bagi pemerintah, para peserta festival dan program kelas bahasa bukan sekadar orang asing yang sedang belajar bahasa. Mereka diposisikan sebagai bagian dari jejaring persahabatan yang dapat membantu memperkenalkan Indonesia melalui bahasa dan budaya.
Dengan semakin banyaknya warga dunia yang mampu berbahasa Indonesia, ruang komunikasi antara Indonesia dan masyarakat internasional pun diharapkan semakin luas.
Pada akhirnya, bahasa Indonesia tidak hanya menjadi bahasa persatuan bagi bangsa Indonesia, tetapi juga dapat berkembang menjadi bahasa persahabatan—bahasa yang mempertemukan manusia dari berbagai negara melalui komunikasi, kebudayaan, dan rasa saling memahami.
Puluhan Negara Ikut Festival Handai 2026
Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Hafidz Muksin mengatakan Festival Handai Indonesia merupakan salah satu bentuk apresiasi kepada warga negara asing yang mampu berbahasa Indonesia serta memahami peradaban Indonesia.
Pada penyelenggaraan tahun 2026, Festival Handai Indonesia diikuti peserta dari puluhan negara. Berdasarkan data yang disampaikan dalam acara tersebut, terdapat 542 peserta dari 79 negara yang mendaftarkan diri secara daring. Dan setelah melalui proses penilaian oleh dewan juri, terpilih 25 finalis yang berasal dari 21 negara.
Para finalis tersebut berasal dari berbagai kawasan dunia, antara lain Afghanistan, Australia, Botswana, Filipina, Honduras, India, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Korea Selatan, Malaysia, Mesir, Nigeria, Republik Demokratik Rakyat Laos, Sudan, Thailand, Timor-Leste, dan Uzbekistan.
Menurutnya, keberagaman asal peserta tersebut dinilai menunjukkan semakin luasnya minat masyarakat internasional untuk mempelajari bahasa Indonesia.
Festival ini tidak hanya menjadi ajang perlombaan. Selama rangkaian kegiatan, para peserta juga memperoleh kesempatan untuk mengenal Indonesia secara lebih dekat serta mengikuti berbagai aktivitas yang berkaitan dengan bahasa dan kebudayaan.
Selain Festival Handai Indonesia, acara tersebut juga menjadi momentum penutupan Program Kelas Bahasa Indonesia bagi Diplomat. Program tersebut diselenggarakan bagi para diplomat dari negara sahabat dan perwakilan organisasi internasional yang bertugas di Indonesia.
Program pembelajaran berlangsung sejak 15 September 2025 hingga 31 Mei 2026. Sebanyak 181 diplomat mendaftar dalam program tersebut, dengan puluhan peserta mengikuti rangkaian pembelajaran hingga tahap akhir.
Program tersebut dirancang untuk memberikan kemampuan bahasa Indonesia yang dapat digunakan para diplomat dalam menjalankan tugas maupun berinteraksi dengan masyarakat Indonesia.
Bagi para peserta, kemampuan berbahasa Indonesia tidak hanya membantu mereka dalam komunikasi formal, tetapi juga dalam menjalani kehidupan sehari-hari selama berada di Indonesia.
Dubes Laos: Bahasa Mempererat Persahabatan
Sementara itu, Duta Besar Republik Demokratik Rakyat Laos untuk Indonesia, Khamfeuang Phanthaxay dalam testimoninya menyampaikan apresiasi terhadap program pembelajaran bahasa Indonesia. Ia bahkan mengajak para peserta untuk terus menggunakan bahasa Indonesia dalam berbagai kesempatan. “Semakin sering seseorang menggunakan bahasa Indonesia, semakin dalam pula hubungan emosional dan kecintaannya terhadap Indonesia,” paparnya.
Ia juga mendorong agar pembelajaran bahasa Indonesia tidak selalu dipandang sebagai kewajiban formal. Bahasa dapat dipelajari sebagai sarana membuka hati, membangun hubungan, maupun sebagai aktivitas kreatif dan hobi.
Khamfeuang menilai persahabatan sejati antara negara tidak hanya dibangun melalui hubungan diplomatik, tetapi juga melalui sikap saling mengenal, memahami, menghargai, dan menerima. Dan kemampuan berbahasa Indonesia telah memberikan pengalaman yang berbeda selama menjalankan tugas di Indonesia.
Dalam pengalaman pribadinya, kemampuan berbahasa Indonesia membuat dirinya lebih mudah berinteraksi dengan masyarakat. Mulai dari menyapa warga, berbicara dengan pedagang di pasar, menanyakan barang, hingga melakukan tawar-menawar.
Bahasa Indonesia juga membantunya ketika melakukan perjalanan dan mengikuti berbagai kegiatan di sejumlah daerah. Melalui interaksi tersebut, ia dapat memahami kearifan lokal, menikmati kekayaan budaya daerah, serta mengenal tradisi masyarakat secara lebih dekat.
“Bagi kami, mempelajari bahasa Indonesia bukan hanya tentang meningkatkan kemampuan berbahasa, tetapi juga tentang memahami masyarakat, budaya, dan cara pandang Indonesia,” ujarnya.
Menurut Khamfeuang, bahasa merupakan salah satu jembatan utama dalam membangun hubungan antarmanusia dan antarnegara.
Ia mengaku pengalaman belajar bahasa Indonesia selama menjalankan tugas diplomatik membuat hubungan dengan masyarakat dan mitra di Indonesia terasa lebih dekat dan hangat.
Setelah hampir tiga tahun bertugas sebagai Duta Besar Laos untuk Indonesia, ia merasa semakin percaya diri menggunakan bahasa Indonesia dalam berbagai kesempatan, termasuk ketika berkomunikasi dengan mitra di Indonesia.
Atas nama para peserta program, Khamfeuang menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta Kementerian Luar Negeri yang telah mendukung penyelenggaraan program tersebut.
Ia berharap Kelas Bahasa Indonesia bagi diplomat dapat terus dilaksanakan sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak diplomat dan perwakilan negara sahabat.
Menurutnya, program tersebut bukan sekadar program pembelajaran bahasa, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk membangun persahabatan yang lebih kuat antara Indonesia dan negara-negara sahabat, termasuk Laos.
Festival Handai Indonesia 2026 menjadi salah satu gambaran dari perkembangan tersebut. Ratusan warga negara asing dari berbagai negara menunjukkan bahwa bahasa Indonesia telah menarik perhatian masyarakat internasional.
Festival Handai Indonesia 2026 pun ditutup dengan pesan agar para peserta terus menggunakan dan mengembangkan kemampuan berbahasa Indonesia setelah kembali ke negara masing-masing.
Bagi Indonesia, pembelajaran tersebut bukanlah akhir dari sebuah program, melainkan awal dari hubungan persahabatan yang diharapkan dapat berlangsung panjang.
