SOLO, MENARA62.COM — Loyalitas dinilai menjadi salah satu kunci penting dalam membangun pendidikan Muhammadiyah yang berkemajuan dan mencerahkan. Namun, loyalitas tidak cukup diwujudkan melalui slogan, melainkan harus diterapkan dalam kebiasaan positif, kedisiplinan, penguatan keagamaan, serta keterlibatan seluruh warga sekolah.
Hal tersebut disampaikan Humas SD Muhammadiyah 1 Surakarta, Dwi Jatmiko, dalam program Dinamika Pendidikan di Radio Mentari FM, Rabu (16/9/2026).
Siaran yang berlangsung di Studio Radio Mentari FM pukul 13.30–14.20 WIB tersebut mengangkat tema “Manajemen Amal Usaha Muhammadiyah.”
Jatmiko mengatakan, loyalitas di lingkungan pendidikan merupakan bagian dari upaya menjaga amanah sekaligus memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan sekolah.
Menurut dia, guru, siswa, keluarga, dan seluruh warga sekolah memiliki peran masing-masing dalam membangun budaya pendidikan yang unggul dan positif.
“Loyalitas bukan sekadar bertahan di sebuah lembaga. Loyalitas harus diwujudkan dalam tindakan nyata, kedisiplinan, kebersamaan, dan kesediaan memberikan yang terbaik,” ujar Jatmiko.
Loyalitas Dibentuk dari Kebiasaan
Jatmiko menjelaskan, nilai loyalitas juga memiliki landasan keagamaan. Ia merujuk pada QS An-Nahl ayat 97 yang menegaskan bahwa orang beriman yang mengerjakan kebajikan akan memperoleh kehidupan yang baik serta balasan atas amal yang dikerjakannya.
Nilai tersebut, lanjut dia, diterapkan melalui berbagai kegiatan pembiasaan di SD Muhammadiyah 1 Surakarta yang telah berdiri sejak 1935.
Sejumlah kegiatan tersebut antara lain Baitul Arqam, pengajian Jumat malam, pengajian keluarga, serta apel pagi yang dimulai pukul 06.45 WIB.
Kegiatan pembiasaan itu tidak hanya bertujuan meningkatkan pemahaman keagamaan, tetapi juga membangun kedisiplinan dan rasa handarbeni atau rasa memiliki terhadap sekolah.
“Kalau kebiasaan baik dilakukan secara konsisten, lama-kelamaan akan menjadi budaya. Dari budaya itulah karakter warga sekolah terbentuk,” katanya.
Kemajuan Pendidikan Butuh Kolaborasi
Jatmiko menambahkan, kemajuan pendidikan Muhammadiyah membutuhkan kerja bersama. Sekolah tidak dapat berjalan sendiri tanpa dukungan guru, siswa, orang tua, dan masyarakat.
Karena itu, loyalitas perlu ditempatkan sebagai bentuk komitmen bersama untuk menjaga dan meningkatkan kualitas pendidikan, bukan sekadar keterikatan terhadap sebuah lembaga.
“Memajukan pendidikan adalah kerja bersama. Semua harus mengambil peran sesuai tanggung jawabnya,” tegasnya.
Ia menilai keberlanjutan pendidikan Muhammadiyah juga membutuhkan kepemimpinan dan kaderisasi yang terarah. Proses tersebut, menurutnya, tidak hanya bergantung pada individu tertentu, tetapi dibangun melalui sistem perkaderan yang disiplin dan sistematis.
“Pendidikan Muhammadiyah diorkestra pemimpin melalui penjenjangan perkaderan yang sangat disiplin dan sangat sistematis, bukan tergantung sinten,” tandasnya. (*)

