BANDUNG, MENARA62.COM — Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung membekali mahasiswa baru dengan karakter Islami, kemandirian, kepemimpinan, dan semangat kebermanfaatan melalui kegiatan Baitul Arqam.
Kegiatan yang berlangsung pada Kamis–Jumat (24–25 September 2026) di Auditorium KH Ahmad Dahlan tersebut menjadi bagian dari pembinaan mahasiswa agar tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak dan kemampuan kepemimpinan.
Kepala Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Al-Islam Kemuhammadiyahan (LPPAIK) UM Bandung, Dr Dikdik Dahlan Lukman MHum, menyampaikan materi bertajuk “Kampus Islamiku: Islamic Technopreneurial University”.
Dalam paparannya, Dikdik menjelaskan empat konsep utama yang perlu menjadi bekal mahasiswa UM Bandung, yakni karakter Islami, kemandirian, leadership, dan kebermanfaatan.
Menurut dia, keempat aspek tersebut saling berkaitan dalam membentuk pribadi mahasiswa yang unggul sekaligus mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat, agama, dan negara.
Karakter Islami Jadi Fondasi
Dikdik menegaskan bahwa karakter Islami tidak terbentuk secara instan. Mahasiswa perlu memahami nilai-nilai Islam sekaligus membiasakannya dalam sikap dan perilaku sehari-hari.
Ia menjelaskan empat tingkatan kepribadian, yaitu muslim, mukmin, muhsin, dan muttaqin.
Pada tahap muslim, mahasiswa diarahkan untuk meneladani akhlak Nabi, bersikap jujur dan amanah, serta rajin beribadah. Selanjutnya, seorang mukmin dituntut memiliki keyakinan kepada Allah, hati yang bersih, dan keikhlasan dalam beramal.
Adapun muhsin merupakan pribadi yang senantiasa berbuat baik dan merasa diawasi Allah. Sementara muttaqin digambarkan sebagai pribadi yang baik dan konsisten, membawa kedamaian, peduli terhadap kehidupan sosial, serta berpikir positif.
“Karakter Islami bukan sesuatu yang langsung sempurna. Ada tingkatan yang perlu kita pahami dan capai satu per satu,” kata Dikdik.
Ia menekankan bahwa pembentukan karakter membutuhkan proses berkelanjutan. Nilai-nilai Islam perlu dibangun menjadi kebiasaan hingga akhirnya melekat dalam kepribadian mahasiswa.
Mahasiswa Didorong Jadi Pemimpin
Selain karakter Islami, Dikdik menyoroti pentingnya kemandirian dan leadership sebagai bekal menghadapi persoalan kehidupan yang semakin kompleks.
Kemandirian, kata dia, mencakup kemampuan berpikir kreatif dan inovatif, bekerja sama, serta menyelesaikan masalah. Sementara leadership bukan sekadar kemampuan memimpin, tetapi juga memberdayakan orang lain dan menciptakan nilai positif.
“Kemandirian dan leadership adalah dua kemampuan yang saling melengkapi untuk membentuk technopreneur muslim yang tangguh,” ujarnya.
Dalam konsep Islamic Technopreneurial University, kemampuan tersebut diarahkan pada prophetic leadership, yakni kepemimpinan yang membawa nilai-nilai Islam ke dalam dunia teknologi dan bisnis.
Dikdik menggambarkan kepemimpinan tersebut sebagai kemampuan untuk memimpin, memberdayakan orang lain, melayani Allah, dan menciptakan nilai positif.
Dengan bekal tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya mampu mengembangkan potensi diri, tetapi juga mampu menggerakkan dan memberikan dampak positif bagi orang lain.
Ilmu Harus Berujung pada Manfaat
Pesan lain yang ditekankan Dikdik kepada mahasiswa baru adalah pentingnya kebermanfaatan. Menurutnya, ilmu, akhlak, kreativitas, inovasi, kemandirian, dan kepemimpinan pada akhirnya harus menghasilkan dampak nyata.
“Akhlak dan hasil kerja tidak akan bermakna jika tidak memberikan manfaat nyata bagi orang lain,” tandasnya.
Ia menilai manfaat yang diberikan kepada orang lain perlu menjadi perhatian utama mahasiswa ketika mengembangkan kemampuan maupun menghasilkan karya.
“Manfaat yang diberikan lebih penting dibandingkan dengan kreasi atau inovasi apa pun yang dihasilkan,” tegas Dikdik.
Pesan tersebut dinilai semakin relevan di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) yang terus mengubah berbagai aspek kehidupan. Mahasiswa tidak hanya dituntut mampu mengikuti perubahan, tetapi juga memastikan ilmu dan teknologi yang dikuasainya memberikan dampak positif.
Karena itu, perjalanan mahasiswa UM Bandung diharapkan tidak berhenti pada pencapaian akademik. Kampus juga menjadi ruang pembentukan pribadi yang berakhlak, mandiri, mampu memimpin, serta memiliki kepedulian terhadap masyarakat.
Melalui Baitul Arqam, nilai-nilai tersebut diperkenalkan sejak mahasiswa memasuki lingkungan perguruan tinggi agar menjadi bagian dari proses pembentukan karakter selama menempuh pendidikan di UM Bandung. (FK/FA/*)
