33.8 C
Jakarta

Menhub: Rencana Impor KRL Bekas dari Jepang Masih dalam Tahap Pembahasan

Baca Juga:

BANDUNG, MENARA62.COM – Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyebut rencana impor kereta rel listrik (KRL) bekas dari Jepang masih dalam tahap pembahasan. Masih ada aturan yang mengganjal, antara lain usia pakai maksimal 20 tahun tetapi rata-rata KRL bekas dari Jepang usia pakainya rata-rata 25 tahun. Dia menyatakan akan berkoordinasi dengan kementerian/ lembaga terkait untuk memuluskan rencana tersebut.

“Saya ingin semua duduk berbicara ada kebutuhan tetapi juga ada kendala dari produksi (INKA),” ujar Dudy dalam Lokakarya Forwahub 2026 bertema “Membangkitkan Kesadaran Keselamatan, Keamanan dan Kenyamanan Transportasi” di Bandung, Jumat, 2 Oktober 2026.

Kebutuhan armada KRL diperkirakan semakin besar dalam beberapa tahun mendatang. PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) memproyeksikan sebanyak 87 trainset harus diganti hingga 2031 seiring bertambahnya usia armada. Terdapat 92 trainset yang telah berusia sekitar 40 tahun, sementara standar penggunaan trainset berada di kisaran 20 tahun.

Pada semester I 2026, pertumbuhan penumpang mencapai 11,5% dibandingkan semester I 2025. Rata-rata penumpang harian yang sebelumnya masih di bawah 1 juta orang kini telah mencapai sekitar 1,1 juta orang. Jumlah tersebut bahkan lebih tinggi dari asumsi konservatif yang digunakan dalam proyeksi kebutuhan armada.

Untuk 2026, KAI memperkirakan kebutuhan trainset mencapai 104 unit dengan asumsi 1 juta penumpang per hari. Perhitungan tersebut sudah mencakup kebutuhan operasional, cadangan sekitar 3%, dan kebutuhan perawatan sekitar 16%. Sementara itu, jumlah sarana pada awal 2026 baru mencapai 102 trainset. Di saat kebutuhan meningkat, sebagian kereta tua juga harus dipensiunkan.

Dudy mengatakan, permasalahan ini harus dilihat secara komprehensif. Semua pihak harus melihat keadaan industri dan kebutuhan transportasi. “Harus ada jalan tengahnya. Kami tidak mungkin harus memaksakan apakah ini impor atau harus dipenuhi oleh industri dalam negeri dengan segala keterbatasannya,” ucapnya.

Dikatakan Dudy, sambil menunggu keputusan impor atau tidak, dia menyatakan akan fokus pada segala teknis, jika memang akhirnya dilakukan impor KRL Bekas. “Kami dari Kementerian Perhubungan menyiapkan hal terkait teknis, berkaitan dengan pengadaan KRL-nya. Izinnya itu ada di Kemendag,“ tuturnya.

Skema Hibah Direktur Operasi, Prasarana dan Keselamatan Area 2 PT Kereta Api Indonesia (KAI) Dadan Rudiansyah mengatakan, rencana impor kereta rel listrik (KRL) bekas dari Jepang dilakukan melalui skema hibah, bukan jual beli. Namun, perusahaan tetap menyiapkan sejumlah biaya yang berkaitan dengan proses pengiriman dari Jepang ke Indonesia. “Nah, ini untuk kepastiannya kami belum menghitung, tapi intinya itu bukan jual beli ya, artinya itu nanti hibah. Mungkin nanti ada beberapa biaya yang sedang difinalkan untuk pengirimannya saja,” ujarnya.

Dadan mengatakan, KAI masih menghitung besaran biaya yang diperlukan untuk pengiriman KRL tersebut dari Jepang ke Indonesia. Dia memastikan proses impor KRL tidak dilakukan tanpa pemeriksaan. Sebelum dikirim ke Indonesia, rangkaian KRL akan menjalani assessment untuk memastikan kondisinya memenuhi persyaratan dan laik beroperasi. “Tapi yang pasti di sana itu, KRL yang belum dikirim ke sini, itu dilakukan dulu, assessment dulu di sana, supaya di sana sudah bisa tinggal laik jalan di sini,” kata Dadan.

Setelah tiba di Indonesia, KRL tersebut juga akan kembali menjalani pemeriksaan. Tim Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan akan melakukan pengujian untuk memastikan aspek keselamatan dan kelayakan operasionalnya. “Nanti setelah datang ke sini, nanti mungkin dari tim DJKA melakukan uji pertama lagi di sini,” kata Dadan.

Sebelumnya, Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria menyatakan impor KRL bekas dari Jepang akan menjadi salah satu opsi untuk menyediakan sarana kereta commuter Jabodetabek. Opsi ini diambil setelah PT INKA (Persero) tengah masuk transformasi bisnis yang berimbas pada keterbatasan produksi lokal. “Makanya proses transformasi INKA ini kan sedang berjalan, ya. Tapi kapasitas produksi mereka, kan juga sangat terbatas, kan? Jadi ada pilihan-pilihan yang harus kita buat nih,” ujar Dony.(*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!