SOLO, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id terus memperkuat kualitas layanan mahasiswa internasional melalui pengembangan International Student Buddy Program. Langkah ini dilakukan dengan mempelajari praktik pengelolaan program pendampingan mahasiswa internasional di Universitas Islam Indonesia (UII) dan Universitas Gadjah Mada (UGM).
Kegiatan benchmarking yang diinisiasi Direktorat Reputasi, Kemitraan, dan Urusan Internasional (DRKUI) UMS tersebut menjadi bagian dari upaya membangun sistem pendampingan yang lebih profesional, terstruktur, dan berkelanjutan.
Kunjungan pada Rabu (28/10/2026) dipimpin Kepala Subdirektorat Hospitality DRKUI UMS, Ir. Wijianto, M.Eng.Sc., bersama staf DRKUI dan 15 mahasiswa Buddy UMS. Dalam kegiatan tersebut, delegasi berdiskusi dengan pengelola serta mahasiswa Buddy dari kedua perguruan tinggi untuk bertukar pengalaman dan mempelajari praktik baik pendampingan mahasiswa internasional.
Kepala Subdirektorat Hospitality DRKUI UMS, Wijianto, mengatakan program Buddy memiliki peran strategis dalam mendukung internasionalisasi perguruan tinggi. Mahasiswa pendamping tidak hanya membantu mahasiswa asing beradaptasi dengan lingkungan kampus, tetapi juga menjadi representasi keramahan dan kualitas layanan UMS.
“ Kami berharap praktik baik yang diperoleh ini dapat menjadi bahan evaluasi dan pengembangan program Buddy UMS agar semakin terstruktur, profesional, dan berkelanjutan. Dengan demikian, kualitas pendampingan mahasiswa internasional dapat terus ditingkatkan sekaligus memberikan pengalaman lintas budaya yang bermakna bagi mahasiswa lokal,” ungkapnya, Selasa (3/11/2026).
Menurutnya, penguatan program Buddy juga diarahkan untuk menciptakan lingkungan kampus yang inklusif dan ramah terhadap keberagaman budaya. Dengan sistem pendampingan yang baik, mahasiswa internasional diharapkan memperoleh pengalaman akademik dan sosial yang positif selama menempuh pendidikan di UMS.
Dalam benchmarking tersebut, terdapat empat aspek utama yang menjadi perhatian UMS. Pertama, penguatan tata kelola program Buddy, termasuk pembagian peran, tanggung jawab, serta koordinasi antara pengelola International Office dan mahasiswa pendamping.
Tata kelola yang jelas dinilai penting agar proses pendampingan berjalan terarah, memiliki standar pelayanan, serta mampu merespons kebutuhan mahasiswa internasional secara efektif.
Kedua, pengembangan sistem pendampingan mahasiswa internasional. Pendampingan tidak hanya mencakup pengenalan fasilitas dan lingkungan universitas, tetapi juga membantu mahasiswa memahami budaya, kebiasaan, serta kehidupan sosial masyarakat Indonesia.
Ketiga, peningkatan kapasitas dan pemberdayaan mahasiswa Buddy. Mahasiswa pendamping perlu dibekali kemampuan komunikasi lintas budaya, pemahaman terhadap keberagaman, serta keterampilan pelayanan kepada mahasiswa dari berbagai negara.
Kompetensi tersebut menjadi modal penting agar mahasiswa Buddy mampu menjalankan perannya sebagai penghubung antara mahasiswa internasional dengan lingkungan kampus.
Keempat, penguatan kolaborasi antara DRKUI, khususnya International Office, dengan organisasi kemahasiswaan. Sinergi ini diharapkan memperluas keterlibatan mahasiswa dalam mendukung internasionalisasi kampus melalui berbagai kegiatan interaksi lintas budaya.
Lebih dari sekadar layanan pendampingan, program Buddy juga diarahkan menjadi ruang pengembangan kompetensi mahasiswa lokal. Melalui interaksi langsung dengan mahasiswa dari berbagai negara, mahasiswa Buddy berkesempatan meningkatkan kemampuan komunikasi, memperluas wawasan global, serta membangun jejaring internasional.
Pengalaman tersebut sekaligus memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal perspektif budaya yang berbeda dan mengembangkan kemampuan beradaptasi dalam lingkungan multikultural.
Melalui penguatan tata kelola, sistem pendampingan, dan kolaborasi kemahasiswaan, UMS berupaya membangun ekosistem internasionalisasi yang melibatkan seluruh unsur kampus.
Program Buddy diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas layanan bagi mahasiswa internasional, tetapi juga memperkuat citra UMS sebagai perguruan tinggi yang terbuka, inklusif, dan memiliki daya saing di tingkat global. (*)

