SOLO, MENARA62.COM – Program Studi Pendidikan Jasmani Program Magister Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar Focus Group Discussion (FGD) untuk mengembangkan dan menyempurnakan kurikulum. Kegiatan ini melibatkan stakeholder, asosiasi profesi, praktisi olahraga, guru pendidikan jasmani, serta mahasiswa.
FGD tersebut berlangsung di Ruang Meeting Lantai 2 Edutorium UMS, Rabu (4/11/2026). Forum ini menjadi langkah strategis untuk memastikan kurikulum Magister Pendidikan Jasmani UMS semakin adaptif, inklusif, relevan dengan kebutuhan masyarakat, serta mampu menjawab perkembangan dunia pendidikan dan olahraga.
Ketua Program Studi Pendidikan Jasmani Program Magister FKIP UMS, Dr. Pungki Indarto, S.Pd., M.Or., mengatakan penyempurnaan kurikulum harus berangkat dari kebutuhan nyata di lapangan. Karena itu, masukan dari berbagai pihak yang terlibat langsung dalam dunia pendidikan dan olahraga menjadi bagian penting dalam proses pengembangan kurikulum.
“FGD ini tentu saja kita melihat dari sisi membumi, yakni masukan dari pelaku olahraga, guru olahraga, asosiasi, MGMP, dan KKG. Tujuannya untuk memperbaiki serta menyesuaikan kurikulum agar adaptif, berdampak, dan berkelanjutan (sustainable),” ungkapnya.
Menurut Pungki, pelibatan mahasiswa juga menjadi aspek penting. Mahasiswa tidak hanya menjadi penerima manfaat kurikulum, tetapi turut diberikan ruang untuk menyampaikan pengalaman, pandangan, dan kebutuhan pembelajaran selama menempuh pendidikan magister.
Ia menjelaskan, Program Studi Pendidikan Jasmani Program Magister UMS merupakan program studi baru yang resmi berdiri berdasarkan surat keputusan (SK) pendirian pada 4 Agustus 2026. Perkuliahan mulai berlangsung pada September 2026 dengan penerimaan angkatan pertama sebanyak 18 mahasiswa.
Selanjutnya, pada Oktober 2026, program studi tersebut memperoleh status akreditasi pertama. Memasuki November, program studi mulai memperkuat fondasi akademiknya melalui evaluasi dan pengembangan kurikulum berdasarkan kebutuhan pengguna lulusan serta perkembangan keilmuan pendidikan jasmani.
“Agenda November ini menjadi momentum untuk menggali informasi mengenai kebutuhan pembelajaran berdasarkan dokumen kurikulum yang adaptif, inklusif, berkemajuan, dan berkelanjutan,” jelasnya.
FGD tersebut diikuti sekitar 30 peserta dan menghadirkan sejumlah pakar untuk memberikan perspektif akademik dalam penyempurnaan kurikulum. Di antaranya Prof. Gatot Jariono, Agam Ahmad Syaukani, Ph.D., dan calon doktor Muhad Fathoni. Kegiatan ini juga dihadiri Wakil Dekan I FKIP UMS Bidang Akademik, Dr. Miftakhul Huda, S.Pd., M.Pd.
Sementara itu, Wakil Dekan I FKIP UMS, Dr. Miftakhul Huda, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa revitalisasi kurikulum merupakan langkah penting karena menjadi landasan utama dalam penyelenggaraan proses pembelajaran di perguruan tinggi.
Menurutnya, kurikulum harus disusun dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat dan kompetensi yang diharapkan dari lulusan. Oleh sebab itu, keterlibatan mahasiswa dan stakeholder dalam FGD menjadi bagian penting untuk memperoleh gambaran mengenai kompetensi yang benar-benar dibutuhkan di dunia kerja.
“Revitalisasi kurikulum ini sangat penting karena menjadi rule utama dalam proses pembelajaran. Melalui FGD ini, program studi mengundang mahasiswa dan stakeholder untuk memberikan masukan serta pandangan mengenai kurikulum yang dibutuhkan masyarakat,” ujarnya.
Miftakhul menegaskan, fakultas memberikan dukungan penuh terhadap upaya pengembangan program studi, termasuk berbagai kebutuhan yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan.
Ia berharap, proses penyempurnaan kurikulum tersebut mampu mendorong kemajuan Program Studi Pendidikan Jasmani Program Magister, sekaligus memperkuat kontribusi FKIP UMS dalam menghasilkan lulusan yang kompeten dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Melalui FGD ini, Magister Pendidikan Jasmani FKIP UMS menegaskan komitmennya membangun kurikulum yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga responsif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan praktis dunia olahraga.
Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari ikhtiar UMS dalam mempersiapkan sumber daya manusia unggul, Islami, dan mendunia melalui pendidikan tinggi yang berkualitas. (*)

