Rektor UMS Ungkap 4 Kunci Guru Muhammadiyah Hebat

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., mengungkapkan empat kunci utama untuk membentuk guru Muhammadiyah Aisyiyah yang hebat dan berdaya saing di tengah perubahan zaman. Keempat kunci tersebut adalah daya panggil, daya juang, daya saing, dan daya inovasi tiada henti.

 

Pesan tersebut disampaikan Harun saat memberikan sambutan dalam kegiatan Silaturahmi Akbar Guru Muhammadiyah Jawa Tengah di Edutorium KH Ahmad Dahlan UMS, Sabtu (7/11/2026). Kegiatan ini menjadi momentum mempererat silaturahmi, memperkokoh ideologi, sekaligus meningkatkan martabat dan profesionalisme guru Muhammadiyah Aisyiyah.

 

Di hadapan ribuan guru yang hadir, Harun menegaskan bahwa guru Muhammadiyah tidak cukup hanya menjalankan tugas mengajar. Mereka harus memiliki semangat perjuangan, mampu menghadirkan pembaruan, serta menjadi sumber inspirasi bagi peserta didik.

 

“Guru Muhammadiyah Aisyiyah yang hebat dan luar biasa harus memiliki empat resep, yakni daya panggil, daya juang, daya saing, dan daya inovasi tiada henti,” tegasnya.

 

Menurut Harun, daya panggil merupakan energi yang membuat guru memiliki magnet untuk menggerakkan, menginspirasi, dan membangkitkan semangat belajar peserta didik. Guru harus mampu menghadirkan sugesti positif sehingga murid merasa senang belajar dan terdorong menjadi pribadi yang lebih baik.

 

Ia mengaitkan semangat tersebut dengan Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Menurutnya, jika murid dituntut memiliki tujuh kebiasaan positif, guru justru harus memberikan keteladanan melalui kebiasaan yang lebih kuat.

 

“Kalau muridnya tujuh kebiasaan anak hebat, guru harus punya delapan kebiasaan anak hebat. Boleh jatuh tujuh kali, tetapi harus bangun delapan kali,” ujarnya yang disambut antusias peserta.

 

Kunci kedua adalah daya juang. Harun menyebut semangat juang sebagai ruh perjuangan guru Muhammadiyah Aisyiyah yang tidak dapat diukur dengan materi maupun imbalan finansial.

 

Ia menggunakan istilah Jawa getih untuk menggambarkan militansi, ketulusan, dan loyalitas dalam mengemban amanah pendidikan.

 

“Semangat itu tidak bisa dikonversi dengan uang atau barang. Di dalamnya ada getih perjuangan Muhammadiyah Aisyiyah,” ungkapnya.

 

Selanjutnya, guru dan sekolah Muhammadiyah Aisyiyah harus memiliki daya saing. Harun menekankan pentingnya prinsip fastabiqul khairat atau berlomba-lomba dalam kebaikan untuk membangun keunggulan pendidikan.

 

Menurutnya, sekolah Muhammadiyah tidak boleh hanya berkompetisi di lingkungan internal persyarikatan. Kompetisi harus diarahkan lebih luas dengan tetap mengedepankan kolaborasi dan keterbukaan.

 

“Muhammadiyah bukan eksklusif, tetapi inklusif. Kompetisi harus dimulai ke luar. Sekolah Muhammadiyah harus mampu menghadirkan nilai-nilai kebaikan dan keunggulan yang berbeda,” jelasnya.

 

Adapun kunci keempat adalah daya inovasi tiada henti. Harun mengingatkan guru agar tidak tertinggal menghadapi perkembangan teknologi, terutama kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

 

Menurutnya, perkembangan AI harus menjadi tantangan sekaligus peluang bagi guru untuk terus memperbarui kompetensi dan metode pembelajaran. Tanpa inovasi, bukan tidak mungkin peserta didik justru lebih mempercayai teknologi dibandingkan gurunya.

 

“Jangan sampai hasil survei membuktikan anak-anak kita lebih percaya kepada AI daripada kepada gurunya karena guru tidak memiliki daya inovasi tiada henti,” pesannya.

 

Ia menambahkan, AI bekerja berdasarkan algoritma dan data yang diberikan manusia. Karena itu, guru harus mampu mengembangkan kapasitas diri agar tetap menjadi sumber pengetahuan, inspirasi, sekaligus pembentuk karakter peserta didik.

 

Harun juga mengaitkan empat daya tersebut dengan kesejahteraan guru. Menurutnya, penguatan daya panggil, daya juang, daya saing, dan daya inovasi akan bermuara pada daya beli yang lebih baik.

 

“Daya beli Muhammadiyah itu dari kita, oleh kita. Keempat daya tersebut harus menjadi kekuatan yang mengantarkan guru-guru Muhammadiyah sejahtera dan melahirkan murid-murid yang hebat serta bermartabat,” paparnya.

 

UMS Tawarkan Beasiswa 50 Persen untuk Guru

 

Dalam kesempatan tersebut, Harun juga membuka peluang bagi guru Muhammadiyah Aisyiyah untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang magister (S2) dan doktor (S3) di UMS.

 

Sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia pendidikan, UMS menawarkan beasiswa sebesar 50 persen bagi guru yang melanjutkan studi pada kedua jenjang tersebut.

 

“Kami siap memberikan beasiswa 50 persen kepada Bapak dan Ibu guru yang ingin mengambil program S2 maupun S3 di UMS,” ungkapnya.

 

Ia menjelaskan, UMS memiliki 86 program studi yang mencakup 42 program sarjana (S1), 23 program magister (S2), 10 program doktor (S3), serta 11 program profesi.

 

Harun berharap kesempatan tersebut dapat dimanfaatkan para guru untuk meningkatkan kapasitas akademik, profesionalisme, dan kualitas pengabdian di dunia pendidikan.

 

Lebih jauh, ia mengusulkan agar forum Silaturahmi Akbar Guru Muhammadiyah Aisyiyah dapat dikembangkan menjadi wadah kolaborasi berkelanjutan bagi sekitar 6.500 sekolah Muhammadiyah Aisyiyah.

 

Menurutnya, forum semacam ini penting untuk memperkuat jejaring antarguru, menyatukan visi pendidikan, dan memperluas praktik-praktik baik di lingkungan sekolah Muhammadiyah Aisyiyah.

 

Pada bagian lain, Harun menyampaikan bahwa UMS terus memperluas kontribusinya dalam pengembangan pendidikan tinggi Muhammadiyah melalui jejaring perguruan tinggi di berbagai daerah.

 

Ia menyebut sejumlah kader dan akademisi yang berasal dari lingkungan UMS turut mengambil peran kepemimpinan di berbagai perguruan tinggi Muhammadiyah Aisyiyah, termasuk Universitas Muhammadiyah Papua, Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur, Universitas Muhammadiyah Banjarmasin, hingga Universitas Muhammadiyah Gombong.

 

Harun juga memperkenalkan Bali International Muhammadiyah University (BIM University) di Denpasar sebagai bagian dari pengembangan jejaring pendidikan tinggi Muhammadiyah.

 

Menutup sambutannya, Harun mengajak seluruh guru Muhammadiyah Aisyiyah untuk terus meningkatkan kualitas diri, memperkuat semangat pengabdian, dan menghadirkan inovasi yang berdampak bagi peserta didik.

 

Baginya, guru hebat bukan sekadar mereka yang mampu mentransfer ilmu pengetahuan, melainkan juga pendidik yang mampu menginspirasi, membangun karakter, dan menyiapkan generasi masa depan yang unggul.

 

Empat daya tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai slogan, tetapi menjadi budaya kerja guru Muhammadiyah Aisyiyah dalam memajukan pendidikan, mencerdaskan bangsa, serta menebarkan kebermanfaatan bagi umat dan masyarakat. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!