29.9 C
Jakarta

Angkat Isu Pemulung dan Sampah, Mahasiswa FHIP UMS Raih Penghargaan Nasional

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Kepedulian terhadap nasib pemulung dan persoalan lingkungan di kawasan Putri Cempo, Surakarta, mengantarkan Jody Julian Putra Caesar, mahasiswa Fakultas Hukum dan Ilmu Politik (FHIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id, meraih penghargaan Most Inspiring Participant dalam ajang Future Leader Summit 2026.

 

Penghargaan tingkat nasional tersebut diraih dalam kegiatan yang berlangsung pada 7–9 Oktober 2026 di BBPPMPV Bisnis dan Pariwisata, Depok. Dalam forum yang diinisiasi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) itu, Jody mengangkat advokasi lingkungan yang menyoroti polemik Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Putri Cempo serta pentingnya perlindungan bagi pekerja informal di sektor persampahan.

 

Jody menempatkan pemulung sebagai kelompok yang memiliki peran penting dalam pengelolaan sampah, tetapi belum memperoleh perlindungan dan pengakuan yang sepadan. Baginya, persoalan sampah bukan sekadar urusan teknologi pengolahan limbah, melainkan juga menyangkut keadilan sosial dan hak masyarakat yang terdampak.

 

“Penghargaan ini bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan pengingat bahwa suara akar rumput, seperti para pemulung di Putri Cempo, harus mendapatkan ruang terhormat dalam kebijakan transisi energi kita. Saya berharap advokasi ini bisa mendorong kebijakan yang lebih inklusif dan berkeadilan lingkungan,” ujar Jody, Senin (12/10/2026).

 

Soroti Nasib Pemulung di Tengah Persoalan Sampah

 

Ketertarikan Jody terhadap persoalan lingkungan di Putri Cempo bermula pada 2024. Saat menjabat sebagai Ketua BEM Surakarta, ia diajak Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Solo untuk mengadvokasi persoalan pencemaran limbah di kawasan tersebut.

 

Dalam bahan advokasi yang diangkatnya, Jody menyoroti persoalan kompensasi bagi masyarakat terdampak yang disebut belum terselesaikan sejak 1986. Isu tersebut menjadi salah satu latar belakang penting bagi upayanya mendorong perlindungan masyarakat di sekitar kawasan pengelolaan sampah.

 

Menurut Jody, pemulung perlu diposisikan sebagai bagian integral dari sistem pengelolaan sampah terpadu. Selama ini, mereka membantu memilah dan mengurangi timbulan sampah, tetapi harus menghadapi risiko paparan kuman, virus, dan berbagai bahaya di lingkungan kerja.

 

Karena itu, ia mendorong langkah konkret berupa penyediaan jaminan sosial, jaminan kesehatan, serta alat pelindung diri (APD) bagi para pemulung.

 

Perlindungan tersebut dinilai penting agar kontribusi pekerja informal dalam pengelolaan sampah diakui sekaligus diimbangi dengan pemenuhan hak dan keselamatan kerja.

 

Selain perlindungan pekerja, Jody menyoroti persoalan dampak lingkungan dan kesehatan yang dikaitkan dengan operasional PLTSa Putri Cempo. Dalam advokasinya, ia mengangkat laporan mengenai kondisi kelompok rentan, termasuk ibu hamil dan anak-anak, di tengah persoalan pengelolaan residu.

 

Ia juga menyoroti informasi mengenai balita yang mengalami penurunan berat badan dan anak-anak yang terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Menurutnya, persoalan tersebut membutuhkan perhatian serius melalui evaluasi lingkungan dan perlindungan kesehatan masyarakat.

 

Berbagai temuan dan laporan mengenai dampak tersebut perlu ditindaklanjuti melalui pemeriksaan serta kajian yang dapat dipertanggungjawabkan agar penanganan masalah lingkungan dan kesehatan masyarakat berjalan secara tepat.

 

Care Food Solo, Solusi Kurangi Sampah Makanan

 

Selain advokasi persampahan, Jody membawa gagasan pengelolaan pangan berlebih (food surplus management) melalui gerakan Care Food Solo. Esai mengenai inisiatif tersebut menjadi salah satu karya yang mengantarkannya terpilih sebagai peserta Future Leader Summit 2026.

 

Gagasan ini berangkat dari persoalan pangan berlebih yang masih layak dikonsumsi, tetapi berpotensi terbuang dan menambah timbulan sampah organik. Melalui pendekatan food rescue, pangan yang masih layak dapat diselamatkan dan disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan.

 

“Melalui pendekatan food rescue, pangan berlebih yang masih layak konsumsi dapat diselamatkan dan disalurkan kepada pihak yang membutuhkan. Langkah ini tidak hanya membantu mengurangi pemborosan pangan, tetapi juga berpotensi menekan timbulan sampah organik yang menghasilkan gas metana di tempat pemrosesan akhir (TPA),” paparnya.

 

Menurut Jody, upaya mengatasi persoalan sampah tidak selalu harus dimulai melalui kebijakan berskala besar. Perubahan kebiasaan masyarakat, seperti mengambil makanan sesuai kebutuhan, menghabiskan makanan, dan menghindari pemborosan pangan, dapat menjadi langkah awal yang berdampak.

 

Gagasan Care Food Solo juga dinilai memiliki potensi untuk diterapkan lebih luas melalui keterlibatan mahasiswa di lima regional Indonesia. Dengan dukungan kolaborasi dan pengelolaan yang tepat, gerakan penyelamatan pangan dapat menjadi bagian dari solusi pengurangan sampah sekaligus membantu masyarakat yang membutuhkan.

 

Dari Forum Internasional hingga Aksi Komunitas

 

Kontribusi Jody dalam isu lingkungan juga terlihat melalui keterlibatannya di forum internasional. Pada 25 September 2026, ia menjadi pembicara dalam Organic and Climate Regional Asia Pacific Congress di Jakarta.

 

Dalam forum tersebut, Jody memaparkan praktik baik pengelolaan pangan berlebih sebagai salah satu upaya konkret untuk mengurangi emisi karbon.

 

Keterlibatannya dalam berbagai forum menunjukkan upaya Jody menghubungkan advokasi lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan solusi berbasis komunitas. Ia memandang persoalan lingkungan tidak semata-mata sebagai masalah teknis, tetapi juga berkaitan dengan perlindungan kelompok rentan dan pemerataan manfaat kebijakan.

 

Penghargaan Most Inspiring Participant menjadi pengakuan atas gagasan dan kontribusinya dalam forum kepemimpinan mahasiswa tingkat nasional. Namun, bagi Jody, penghargaan tersebut juga membawa tanggung jawab untuk memperluas dampak advokasi di tengah masyarakat.

 

Ia menilai kepemimpinan mahasiswa tidak cukup berhenti pada penyampaian kritik atau demonstrasi. Mahasiswa juga perlu melanjutkannya melalui riset, pendampingan masyarakat, pengorganisasian, dan kolaborasi lintas sektor agar gagasan dapat berkembang menjadi solusi nyata.

 

Jody pun mendorong mahasiswa untuk lebih peka terhadap persoalan di sekitarnya, terutama isu yang menyangkut kelompok rentan dan belum mendapatkan perhatian memadai.

 

Melalui langkah tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya menjadi pengamat persoalan sosial dan lingkungan, tetapi juga berperan aktif dalam mendorong kebijakan yang lebih responsif, inklusif, dan berkeadilan. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!