31.1 C
Jakarta

“Di timur Matahari Mulai Bercah’ya, Bangun Dan Berdiri, Kawan Semua!…”

Baca Juga:

Tulisan ini merupakan bagian dari “Mencapai Indonesia Merdeka” karya Ir. Sukarno, Dibawah Bendera Revolusi

“Di timur Matahari Mulai Bercah’ya, Bangun Dan Berdiri, Kawan Semua!…”

Tetapi hal-hal yang saya ceritakan di atas ini hanyalah kerusakan lahir saja. Kerusakan batinpun ternayata di mana-mana. Stelsel imperialisme yang membutuhkan kaum buruh itu, sudah memutarkan semangat kita menjadi semangat perburuhan samasekali, semangat perburuhan yang hanya senang jikalau bisa menghamba. Rakyat Indonesia yang sediakala terkenal sebagai Rakyat yang gagah-berani, yang tak gampang-gampang suka tunduk, yang perahu-perahunya melintasi lautan dan samudra sampai ke India, Tiongkok, Madagaskar dan Persia,–Rakyat Indonesia itu kini menjadilah Rakyat yang terkenal sebagai “het zachtste volk der aarde”, “Rakyat yang paling lemah budi di seluruh muka bumi”. Rakyat Indonesia itu kini menjadi suatu Rakyat yang hilang kepercayaannya pada diri sendiri, hilang kepribadiannya, hilang kegagahannya, hilang ketabahannya sama sekali. “Semangatharimau” yang menurut katanya profesor Veth adalah semangat Rakyat Indonesia di zaman sediakala, semangat itu sudah menjadi semangat-kambing yang lunak dan pengecut.

Dan itupun belum bencana-batin yang paling besar! Bencana-batin yang paling besar ialah bahwa Rakyat Indonesia itu percaya, bahwa ia memang adalah “Rakyat-kambing” yang selamanya harus dipimpin dan dituntun. Sebagai juga tiap-tiap stelsel imperialisme di mana-mana, maka stelsel imperialisme yang ada di Indonesiapun selamanya menggembar-gemborkan ke dalam telinga kita, bahwa maksudnya bukanlah maksud mencari rezeki, tetapi ialah “maksud suci” mendidik kita dari kebodohan ke arah kemajuan dan kecerdasan. Sebagai juga tiap-tiap stelsel imperialisme, ia tak jemujemu  meneriakkan ia punya “mission-sacree”(misi suci). Di atas panjipanjinya, imperialisme selamanya adalah tertulis semboyansemboyan dan anasir-anasir “beschaving” dan “orde en rust”,– “kesopanan” dan “keamanan umum”.

“Kesopanan” dan “keamanan umum”! Tidakkah kita ini katanya Rakyat yang masih bodoh dan biadab, yang perlu mendapat guru dan perlu mendapat bapak? Amboi, seolah-olah benar kita pada saat datangnya imperialisme masih bodoh, seolah-olah benar kita zaman dulu Rakyat biadab! Seolah-olah Rakyat kita tidak pernah mempunyai kultur yang membikin tercengangnya dunia! Jikalau benar stelsel imperialisme tidak buat mencari rezeki, tidak buat “urusan-fulus”, tidak buat memenuhi nafsu perbendaan, jikalau benar stelsel imperialisme dahaga sekali akan “kerja menyopankan”, apakah sebabnya stelsel imperialisme datang lebih dahulu pada Rakyat-Rakyat yang justru berketinggian kultur, seperti Indonesia, seperti India, seperti Mesir, dan tidak pergi saja ke negerinya bangsa Eksimo yang ada di kutub Utara!

Tidak, memang tidak! Itu “misi suci” hanyalah omong-kosong belaka, itu “mission-sacree” hanyalah buat menjaga kedudukannya imperialisme saja. Sebab tidak ada satu imperialisme di muka bumi yang bisa terus-menerus mengambil rezeki sesuatu Rakyat, sehingga Rakyat itu tahu dan insyaf bahwa rezekinya diambil dan diangkuti; tidak ada satu imperialisme yang “tahan lama”, bilamana Rakyang insyaf bahwa badannya adalah sebagai pohon yang dihinggapi kemadean yang hidup daripada ia punya zat-zat-hidup. Maka oleh karena itulah Rakyat lantas tak henti-henti diinjeksi, bahwa imperialisme datangnya ialah buah memenuhi suatu “misi yang suci” mendidik Rakyat itu dari kebodohan ke arah kecerdasan, mendidik Rakyat itu dari kemunduran ke arah kemajuan. Dan Rakyat lantas percaya akan “misi suci” itu: imperialisme tidak lagi dipandang olehnya sebagai musuh yang harus dienyahkan selekaslekasnya, tidak sebagai kemadean yang menghinggapi tubuhnya, imperialisme lantas dipandang olehnya sebagai sahabat yang harus diminta terima kasih..

Jawaharlal Nehru, itu pemimpin Hindustan yang kenamaan, pernah berkata: “Kebesarannya negeri dan Rakyat kita adalah sudah begitu dalam terbenamnya oleh kabut-kepurbakalaan, dankebesarannya imperialisme adalah begitu sering kita lihat sehari-hari, sehingga kita lupa bahwa kita bisa besar, dan mengira bahwa hanya kaum imperialis saja yang bisa pandai.” Perkataan Jawaharlal Nehru ini, yang menggambarkan kerusakan batinnya Rakyat Hindustan, satu per satunya bolehlah juga dipakai untuk Rakyat Indonesia sekarang ini. Juga kita lupa bahwa kita bisa menjadi besar, juga kita lupa bahwa kemunduran kita ialah karena kita terlalu lama sekali kena pengaruh imperialisme, juga kita lupa bahwa kemunduran kita itu bukan suatu kemunduran yang memang karena natur, tetapi ialah suatu kemunduran yang karena imperialisme, suatu kemunduran bikinan, suatu kemunduran “cekokan”, suatu kemunduran injeksian yang berabad-abad. Juga kita mengira, bahwa hanya kaum imperialisme saja yang bisa pandai, bahwa hanya mereka saja yang bisa berilmu, bisa membikin jalan, bisa membikin kapal, bisa membikin listrik, bisa membikin kereta-api dan auto dan bioskop dan kapal udara dan radio,–dan tak pernah satu kejap mata kita bertanya di dalam batin, apakah kita kini juga tidak bisa mengadakan semua hal itu, umpamanya kita tidak tiga ratus tahun di “sahabati” imperialisme? Ya, juga kita percaya, bahwa kita sekarang ini belum boleh merdeka dan berdiri sendiri…

Bahwasanya, memang sudah “makan” sekali injeksian imperialisme itu. Kita kini sangat gampang dilipat-lipat,–“plooibaar” en “gedwee”—“buntutnya tekanan yang berabad-abad”, sebagai Schmalhausen mengatakannya. Kita ini sudah 100% menjadi Rakyat kambing. Kita kini kaum putus-asa, kita kaum zonder kepribadian, kita kaum penakut, kita kaum pengecut. Kita kaum be-roch budak, kita banyak yang jadi penjual bangsa. Kita hilang samasekali kelakilakian kita, kita hilang sama-sekali rasa-kemanusiaan kita. Oleh karena itu, jika terus-menerus begitu, kita akan binasa samasekali tersapu dari muka-bumi, dan pantas binasa di dalam lumpur perhinaan dan nerakanya kegelapan.

Tetapi . . . Alhamdulillah, di Timur matahari mulai bercah’ya, fajar mulai menyingsing!

Obat tidur imperialisme yang berabad-abad kita minum, yang telah menyerap di dalam darah daging kita dan tulang sumsum kita, ya, yang telah menyerap di dalam roch kita dan nyawa kita, obat tidur itu perlahan-lahan mulai kurang dayanya. Semangat-perlawanan yang telah ditidurkan nyenyak samasekali, kini mulai sadar dan berbangkit. Semangat perbudakan mulai rontok, dan timbul bersemi semangat baru yang makin lama makin besar dan bersirung. Bukan semangat yang mengeluh karena tahu akan kerusakan nasib lahir dan nasib batin; tetapi semangat yang membangkitkan pengetahuan itu, menjadi kemauan berjuang dan kegiatan berjuang. Bukan semangat yang menangis, tetapi semangat yang terus menitis menjadi wil, menjadi daad. Memang bukan waktunya lagi kita mengeluh: bukan waktunya lagi kita mengaduh, walaupun kerusakan nasib kita itu seakan-akan memecahkan kita punya nyawa. Kita tak dapat terlepas dari keadaan sekarang ini dengan mengeluh dan menangis, kita hanyalah bisa keluar daripadanya dengan bercancut-tali-wanda, dengan berjuang, berjuang dan sekali lagi berjuang. Kita harus berjuang habis-habisan tenaga, berjuang walaupun nafas hampir pecat dari kita punya dada. Kita harus meniru ajarannya itu orang Hindu yang berkata: “Kita sekarang tidak boleh berkesempatan lagi untuk menangis, kita sudah kenyang menangis. Bagi kita sekarang ini bukan saatnya buat lembek-lembekhati. Berabad-abad kita sudah lembek sehingga menjadi seperti kapuk dan agar-agar. Yang dibutuhkan oleh tanah air kita kini ialah otot-otot yang kerasnya sebagai baja, urat-urat syaraf yang kuatnya sebagai besi, kemauan yang kerasnya sebagai batu-hitam yang tiada barang sesuatu bisa menahannya, dan yang jika perlu, berani terjun ke dasarnya samudra!”

Alhamdulillah, kini fajar mulai menyingsing! Pergerakan memang pasti lahir, pasti hidup, pasti kelak membanjir, walaupun obat tidur yang bagaimana juga manjurnya, atau walaupun terang-terangan dirintangi oleh musuh dengan rintangan yang bagaimana juga, selama nasib kita masih nasib yang sengsara. Pergerakan memang bukan tergantung dari adanya seseorang pemimpin, bukan bikinannya seseorang pemimpin, pergerakan adalah bikinannya nasib kita yang sengsara. Ia pada hakekatnya adalah usaha masyarakat sakit yang mengobati diri sendiri. Ia ada kalau kesakitan masih ada, ia hilang kalau kesakitan sudah hilang. Ia, sebagai dikatakan oleh seorang pemimpin Jerman “di dalam dunia yang tak adil ini selalu mengikuti musuhnya sebagai bayangan, yang akhirnya meliputi musuhnya itu sehingga mati”.

“Tiap-tiap makhluk, tiap-tiap umat, tiap-tiap bangsa tidak boleh tidak, pasti akhirnya berbangkit, pasti akhirnya bangun, pasti akhirnya menggerakkan tenaganya, jikalau ia sudah terlalu-lalu sekali merasakan celakanya diri yang teraniaya oleh sesuatu daya yang angkara-murka,–begitulah saya pernah menulis. “Jangan lagi manusia, jangan lagi bangsa,–walau cacingpun tentu bergerak berkeluget-keluget kalau merasakan sakit!”

Memang; memang! Pergerakan lahir karena pada hakekatnya dilahirkan oleh tenaga-tenaga pergaulan hidup sendiri. Pemimpin pun bergerak karena hakekatnya tenaga-tenaga pergaulan hidup itu membikin ia bergerak. Bukan fajar menyingsing karena ayam-jantan berkokok, tapi ayam jantan berkokok karena fajar menyingsing…

Tetapi bergerak dan bergerak adalah dua. Benar pergerakan itu pada hakekatnya bikinan nasib kita, bikinan masyarakat kita, bikinan natur,–tetapi natur sendiri sering-seringterlalu lambat berjalannya, oleh karena kejadian-kejadian atau proses-proses di dalam natur itu sering-sering adalah kejadian insting yang onbewust, yakni kejadian yang “tidak insyaf”. Maka pergerakan kitapun akan terlampau lambat jalannya, pergerakan kitapun akan sebagai orang yang pada malam gelap gulita zonder obor berjalan di atas jalan kecil yang banyak batu dan banyak tikungan, pergerakan kitapun akan “pergerakan insting” saja, jikalau pergerakan kita itu hanya onbewust alias “tidak insyaf”, yakni suatu pegerakan yang “yah… bergerak karena sengsara”, tetapi tidak insyaf dengan tajam akan apa yang dituju dan bagaimana harus menuju. Baru jikalau kita berjalan membawa obor, mengetahui persis apa yang kita tuju, mengetahui persis di mana letaknya jalan yang kencang, mengetahui persis segala apa yang akan kita jumpai; baru jikalau kita tidak seolah-olah lagi di dalam malam yang gelap-gulita, tetapi seolah-olah di dalam siang hari yang terang-benderang,– baru jikalau sudah demikian itu kita bisa mencapai apa yang kita maksud dengan sekencang-kencangnya, selekas-lekasnya, sehatsil-hatsilnya. Oleh karena itulah kita harus mempunyai bentukan pergerakan yang saksama, konstruksi pergerakan yang saksama,–bentukan atau konstruksi pergerakan yang harus cocok dan sesuai dengan hukum-hukumnya masyarakat dan terus menuju ke arah doelnya masyarakat, yakni masyarakat yang selamat dan sempurna.

Dengan bentukan atau konstruksi pergerakan yang seksama itu maka pergerakan kita bukan lagi suatu pergerakan yang onbewust, tetapi suatu pergerakan yang bewust sebewust-bewustnya, insyaf seinsyafinsyafnya. Dengan ke-bewust-an dan keinsyafan yang demikian itu, maka pergerakan kita lalu berarti mempercepat jalannya proses natur, suatu pergerakan yang memikul natur dan terpikul natur. Dengan ke-bewust-an dan keinsyafan yang demikian itu pergerakan kita juga lalu menjadi tidak bisa ditundukkan, tidak bisa dipadamkan, on-overwinnelijk,–sebagai natur!

Ia bisa sebentar dirubuhkan, ia bisa sebentar dibubarkan, ia bisa sebentar seolah-olah dihancurkan, tetapi saban-saban kali ia juga akan berdiri lagi dan berdiri lagi, dan maju terus ke arah maksudnya. Ia sekali-sekali seperti binasa samasekali karena terhantam dengan segala kekuatan duniawi yang musuh punya, tetapi kemudian daripada itu ia toh akan muncul lagi dan berjalan lagi. Sebagai mempunyai kekuatan rahasia, sebagai mempunyai kekuatan penghidup, sebagai mempunyai “aji-panca-sona” dan “ajicandabirawa”, maka pergerakan yang memikul natur dan terpikul natur itu tak bisa dibunuh, dan malahan ia makin lama makin membanjir. Sebagai natur sendiri, ia tidak boleh tidak pasti datang pada maksudnya!

Oleh karena itu, kaum Marhaen, besarkanlah hatimu, besarkanlah ketetapan tekadmu, besarkanlah kepercayaanmu akan tercapainya kamu-punya cita-cita. Bukan hanya suatu peribahasa saja, kalau saya mengatakan fajar telah menyingsing. Pergerakan kita sudah mulai berbentuk, emoh akan haluan yang hanya “cita-cita” saja. Pergerakan kita itu sudah mulai jadi pergerakan sebagai yang saya maksudkan di atas tadi. Garis-garis besar dari bentukan atau konstruksi itu kini terletak di hadapanmu, tergurat di dalam risalah yang kecil ini. Bacalah risalah ini dengan teliti dan seksama, simpanlah segala ajaran-ajarannya di dalam fikiran dan kalbumu, kerjakanlah segala ajaran-ajaran itu dengan ketetapan hati dan ketabahan tekad. Haibatkanlah pergerakanmu menjadi pergerakan yang bewust dan insyaf, yang karenanya akan menjadi hebat sebagai tenaganya gempa.

Fajar mulai menyingsing. Sambutlah fajar itu dengan kesadaran, dan kamu akan segera melihat matahari terbit.

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!