34.4 C
Jakarta

Dubes Iran Ungkap Rahasia Tahan Sanksi: Kemandirian & Dukungan Rakyat Jadi Kunci Ketangguhan Ekonomi

Baca Juga:

JAKARTA, MENARA62.COM – Ketangguhan Iran dalam menghadapi sanksi ekonomi internasional menjadi sorotan dalam forum Ambassador Talk yang digelar Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui Lembaga Hubungan dan Kerjasama Internasional (LHKI). Diskusi yang berlangsung di Gedung PP Muhammadiyah ini mengangkat tema “Surviving Sanction: Iran’s Economic Resilience and Innovation under Embargo”.

Hadir sebagai pembicara utama, Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, memaparkan bagaimana negaranya mampu bertahan bahkan berkembang di tengah tekanan embargo yang berkepanjangan, khususnya dari Amerika Serikat.

Menurut Boroujerdi, kunci utama ketahanan tersebut terletak pada kemandirian nasional dan kepercayaan diri rakyat. Ia menyebut bahwa meskipun sanksi dinilai tidak adil, Iran justru berhasil mencatat kemajuan signifikan di berbagai sektor.

“Sebelum Revolusi Islam Iran 1979, tingkat literasi kami hanya sekitar 30 persen. Namun setelah itu, jumlah mahasiswa meningkat pesat, penguasaan ilmu pengetahuan berkembang, dan infrastruktur pendidikan menjangkau hingga desa,” jelasnya.

Ia juga menyoroti kekuatan utama sebuah negara bukan pada persenjataan, melainkan dukungan rakyat. Dalam paparannya, Boroujerdi menyinggung kisah Nelson Mandela yang pernah berkonsultasi dengan Iran dalam perjuangannya melawan apartheid di Afrika Selatan.

Atas arahan Ali Khamenei, Mandela mengubah strategi dari perjuangan bersenjata menjadi mobilisasi massa berbasis solidaritas rakyat—yang kemudian berujung pada kemenangan bersejarah tahun 1994.

“Ini membuktikan bahwa kekuatan sejati bangsa ada pada rakyatnya, bukan pada rudal atau drone,” tegas Boroujerdi.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan adanya gerakan nasional bertajuk “Jan Fada”, yang mencerminkan loyalitas tinggi masyarakat terhadap negara. Hingga kini, sekitar 31 juta warga Iran disebut telah mendaftar, menunjukkan kesiapan berkorban demi kedaulatan bangsa.

Di bidang pembangunan, Iran juga memprioritaskan investasi pada pendidikan dan riset dengan mengintegrasikan dunia akademik, industri, dan pemerintahan. Bahkan, untuk bergabung di Kementerian Luar Negeri, minimal harus bergelar magister.

Boroujerdi menegaskan bahwa serangan terhadap fasilitas fisik seperti laboratorium atau pusat penelitian tidak akan melemahkan Iran. “Kekuatan kami ada pada ilmuwan dan pengetahuan. Itu tidak bisa dihancurkan secara fisik,” ujarnya.

Kegiatan ini turut dimoderatori oleh Bunyan Saptomo dan menjadi bagian dari rangkaian rutin Ambassador Talk yang sebelumnya telah menghadirkan perwakilan dari berbagai negara.

Selain menjadi forum diskusi global, acara ini juga mempererat hubungan diplomatik antara Indonesia dan Iran. Sebelumnya, Dubes Boroujerdi juga telah melakukan kunjungan resmi dan bertemu dengan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir.

Melalui forum ini, pesan kuat disampaikan: di tengah tekanan global, kemandirian, inovasi, dan dukungan rakyat adalah fondasi utama bagi ketahanan sebuah bangsa. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!