28.1 C
Jakarta

Dukung Swasembada Kedelai Nasional, BATAN Tawarkan 14 Varietas Unggul Hasil Radiasi Nuklir

Must read

PC IMM Semarang Luncurkan Buku “Ekspedisi Ideologi”

SEMARANG, MENARA62.COM -- Kader IMM Semarang kembali menunjukkan hasil produktivitasnya dengan Luncurkan Buku Bunga Rampai “Ekpedisi Ideologi” pada Ahad (17/01/2021). Buku ini berisi 22 tulisan...

Hadapi Prediksi Lonjakan Kasus Covid-19, Ini 4 Hal yang Disiapkan RS Kanker Dharmais

JAKARTA, MENARA62.COM - Banyak pihak memprediksi terjadi lonjakan kasus positif Covid-19 dampak dari liburan akhir tahun 2020. Menurut catatan terjadi rekor tertinggi dalam kasus...

Membangun Ketangguhan Masyarakat Di Tengah Bencana Pandemi Covid-19

Oleh: Farida Hidayati, S.Psi.Msi )* BENCANA memiliki lingkup yang luas, tidak terbatas pada bencana yang diakibatkan oleh alam. Situasi yang kita hadapi saat inipun yakni...

Banjir di Kalsel, LAPAN Temukan Terjadi Perubahan Penutup Lahan yang Signifikan

JAKARTA, MENARA62.COM - Tim tanggap darurat bencana Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) melakukan analisa penyebab banjir yang terjadi sejak tanggal 12-13 Januari 2021...

JAKARTA, MENARA62.COM – Kelangkaan kedelai beberapa waktu lalu menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk menguatkan program swasembada kedelai secara nasional. Jenis komoditas pangan ini kata Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Anhar Riza Antariksawan tergolong mudah dalam hal pembudidayaannya, sehingga potensi swasembada kedelai sangat besar.

“Kedelai sebenarnya bisa dibudidayakan di hampir semua daerah. Dan jika ini dilakukan, tentu Indonesia tidak harus bergantung banyak pada impor kedelai,” kata Anhar dalam konferensi pers yang dilakukan secara daring, Rabu (13/1/2021).

Data menyebutkan saat ini jumlah kebutuhan kedelai nasional mencapai 2,8 juta ton. Dari jumlah tersebut lebih dari separuhnya merupakan impor.

Padahal kedelai merupakan salah satu bahan pangan yang sangat dibutuhkan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Apalagi kedelai terkait erat dengan makanan yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia yaitu tempe, tahu dan kecap.

Menurutnya, kelangkaan kedelai ini menjadi hal yang serius dan perlu dicarikan solusinya sesegera mungkin. Terlebih lagi diketahui bahwa kenaikan harga kedelai di Indonesia dikarenakan naiknya harga kedelai impor, sedangkan kebutuhan kedelai nasional saat ini, sebagian besar dipenuhi melalui impor.

“Sebagai lembaga penelitian, BATAN melihat hal ini juga sebagai momentum untuk kembali menguatkan program swasembada kedelai secara nasional. Permasalahan ketersediaan benih unggul, lahan, dan harga kedelai perlu dicarikan solusi oleh semua kementerian dan lembaga yang terkait,” tambahnya.

Sebagai bentuk kontribusi dalam upaya meningkatkan produksi kedelai nasional, Anhar menegaskan, BATAN telah berkontribusi dalam penyediaan benih unggul kedelai. Hingga saat ini BATAN telah menghasilkan 14 varietas unggul benih kedelai yang sebagian besar telah diperkenalkan kepada para petani melalui program pendayagunaan hasil litbang iptek nuklir yang bekerja sama dengan pemerintah daerah dan perguruan tinggi.

“Varietas unggul kedelai BATAN dihasilkan melalui sebuah proses yang memanfaatkan radiasi gamma. Pengembangan produksi varietas unggul baik padi dan kedelai menjadi salah satu program prioritas BATAN,” ungkapnya.

Dua varietas baru yakni Sugentan 1 dan Sugentan 2 masih menunggu sertifikasi dari Kementerian Pertanian. Sugentan kependekan dari Super Genjah BATAN adalah varietas kedelai hasil perbaikan dari varietas Argomulyo diharapkan mampu menjadi salah satu upaya mengatasi kelangkaan kedelai di Indonesia.

Anhar berharap varietas benih unggul kedelai hasil mutasi radiasi gamma yang dihasilkan BATAN dapat dijadikan varietas yang dimanfaatkan secara nasional. Namun demikian, persoalan peningkatan produksi kedelai tidak hanya ditentukan oleh jenis varietasnya saja, tetapi dipengaruhi oleh faktor lain seperti teknik budi daya, ketersediaan lahan, dan harga kedelai di tingkat petani.

Peneliti BATAN Arwin menunjukkan varietas kedelai unggulan hasil mutasi radiasi nuklir (ist)

“Terkait ketersediaan lahan dan harga kedelai di tingkat petani, bukan merupakan kewenangan BATAN sehingga saya berharap ada kebijakan kementerian teknis terkait dan pemerintah daerah yang dapat membantu petani yang bersedia menanam kedelai agar produktivitas kedelai secara nasional benar-benar bisa meningkat,” harapnya.

Prospek Penelitian Kedelai di BATAN

Pada tahun 2020, pemerintah melalui Kementerian Pertanian menargetkan peningkatan produksi kedelai 7% yakni dari 358.627 ton pada tahun 2019 menjadi 383.371 ton pada 2020. Untuk mencapai hal ini, pemerintah membuat program 300.000 ha di 21 provinsi ditanami kedelai.

Deputi Pendayagunaan Teknologi Nuklir, Totti Tjiptosumirat mengatakan, terkait upaya pemerintah meningkatkan produksi kedelai nasional, BATAN turut berkontribusi dalam penyediaan benih unggul kedelai hingga mencapai 5 ton.

“Benih kedelai saat itu yang tersedia adalah varietas Anjasmoro, Grobogan, dan Mutiara 1. Benih FS Mutiara 1 yang disiapkan oleh BATAN pada akhir tahun 2018 lebih kurang 5 ton,” kata Totti.

Melihat kondisi ketersediaan pasokan kedelai nasional yang belum mencukupi, lanjut Totti, prospek penelitian dan pengembangan varietas kedelai di BATAN sangat baik. Terlebih lagi Lembaga Tenaga Atom Internasional/International Atomic Energy Agency (IAEA) memberikan dukungan penuh kepada Indonesia melalui program kerja sama teknik.

“Keseriusan BATAN dalam melakukan penelitian kedelai ini dibuktikan dengan melepas 4 varietas tanaman kedelai pada dua tahun terakhir, yaitu varietas Kemuning 1 dan Kemuning 2 untuk kedelai tahan cekaman, dan varietas Sugentan 1 dan Sugentan 2,” tambah Totti.

Peneliti BATAN, Arwin mengatakan, varietas unggul kedelai Sugentan 1 dan Sugentan 2 merupakan hasil perbaikan varietas yang telah ada sebelumnya yakni Argomulyo. Dengan penyinaran radiasi gamma pada dosis 250 gray, didapatkan varietas baru yang mempunyai karakter lebih baik dibandingkan varietas induknya.

“Dibandingkan dengan induknya, Sugentan mempunyai beberapa keunggulan diantaranya umur tanamnya super genjah yakni sekitar 67-68 hari lebih cepat dibandingkan induknya yang mencapai umur antara 86-87 hari. Produktivitasnya juga lebih tinggi yakni 3,01 ton per ha dengan rata-rata 2,7 ton per ha, sedangkan induknya pada kisaran 2,2-2,4 ton/ha,” kata Arwin.

Sejumlah narasumber pada keterangan pers terkait kedelai varietas unggulan hasil penelitian BATAN

Selain itu, Sugentan 1 dan Sugentan 2 ini diklaim sebagai varietas kedelai yang tahan terhadap penyakit karat daun, hama pengisap polong, dan hama ulat kerayak. Kedua varietas ini tergolong super genjah, sehingga cocok ditanam di lahan sawah atau tegalan. Lanjut Arwin, untuk mendapatkan varietas Sugentan 1 dan 2 ini, penelitiannya dimulai sejak tahun 2012 dan telah dilakukan uji multilokasi di 7 daerah yakni Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Maluku, Bogor, Yogyakarta, dan Citayam sebanyak 2 lokasi.

Dari ketujuh lokasi tersebut, sebagian besar menunjukkan hasil yang baik kecuali di Maluku hasilnya termasuk dalam kategori sedang.

- Advertisement -

More articles

- Advertisement -

Latest article

PC IMM Semarang Luncurkan Buku “Ekspedisi Ideologi”

SEMARANG, MENARA62.COM -- Kader IMM Semarang kembali menunjukkan hasil produktivitasnya dengan Luncurkan Buku Bunga Rampai “Ekpedisi Ideologi” pada Ahad (17/01/2021). Buku ini berisi 22 tulisan...

Hadapi Prediksi Lonjakan Kasus Covid-19, Ini 4 Hal yang Disiapkan RS Kanker Dharmais

JAKARTA, MENARA62.COM - Banyak pihak memprediksi terjadi lonjakan kasus positif Covid-19 dampak dari liburan akhir tahun 2020. Menurut catatan terjadi rekor tertinggi dalam kasus...

Membangun Ketangguhan Masyarakat Di Tengah Bencana Pandemi Covid-19

Oleh: Farida Hidayati, S.Psi.Msi )* BENCANA memiliki lingkup yang luas, tidak terbatas pada bencana yang diakibatkan oleh alam. Situasi yang kita hadapi saat inipun yakni...

Banjir di Kalsel, LAPAN Temukan Terjadi Perubahan Penutup Lahan yang Signifikan

JAKARTA, MENARA62.COM - Tim tanggap darurat bencana Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) melakukan analisa penyebab banjir yang terjadi sejak tanggal 12-13 Januari 2021...

Korban Meninggal Dunia Akibat Longsor di Sumedang Capai 29 Orang

JAKARTA, MENARA62.COM - Tim SAR (Search and Rescue) Gabungan kembali menemukan 1 (satu) korban meninggal dunia serta menemukan 1 (satu) orang yang dinyatakan hilang...