SUKOHARJO, MENARA62.COM — Tim pengabdian masyarakat Jurusan Ortotik Prostetik Poltekkes Kemenkes Surakarta menggelar edukasi pencegahan amputasi akibat diabetes melitus bagi masyarakat di Posyandu Menur 10, Dusun Jetis, Desa Makamhaji, Kecamatan Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah.
Kegiatan bertajuk “Pemberdayaan Kader Desa dan Edukasi Masyarakat dalam Upaya Pencegahan Amputasi karena Diabetes Mellitus” tersebut dilaksanakan Kamis (16/7/2026). Program menyasar masyarakat, kader kesehatan desa, tokoh masyarakat, serta anggota posyandu lansia.
Kegiatan ini dilatarbelakangi tingginya risiko komplikasi kaki pada penderita diabetes. Kerusakan saraf dan gangguan pembuluh darah dapat menyebabkan kaki kehilangan sensasi sehingga luka kecil sering tidak disadari.
Lecet, kapalan, hingga luka di sela jari kaki yang terlambat ditangani berpotensi berkembang menjadi infeksi dan ulkus diabetikum yang dapat berujung pada amputasi.
Karena itu, tim pengabdian menekankan pentingnya kemampuan masyarakat mengenali tanda-tanda gangguan pada kaki serta melakukan perawatan kaki secara mandiri dan pengendalian diabetes.
Kegiatan dilaksanakan oleh tim dosen yang terdiri atas Muhibbah Fatati, S.Tr.Kes., M.K.M., dan Dwi Setyawan, B.Sc.P.O., M.Kes., bersama mahasiswa Jurusan Ortotik dan Prostetik Poltekkes Kemenkes Surakarta.
Kader Kesehatan Jadi Garda Terdepan
Program tersebut melibatkan tiga elemen penting di tingkat desa, yakni anggota posyandu lansia, tokoh masyarakat, serta kader kesehatan desa.
Kader kesehatan diharapkan menjadi garda terdepan dalam membantu menemukan penderita diabetes yang memiliki risiko tinggi di lingkungan sekitar.
Rangkaian kegiatan diawali koordinasi dengan Siti Sholikhah selaku koordinator kader kesehatan Posyandu Menur 10. Peserta kemudian mengikuti senam pagi yang dipimpin kader kesehatan untuk mendukung aktivitas fisik.
Setelah itu, peserta mengisi pretest untuk mengetahui tingkat pengetahuan awal. Tim kemudian membagikan leaflet dan memberikan materi edukasi mengenai pencegahan amputasi akibat diabetes melitus yang disampaikan Dwi Setyawan.
Untuk mengetahui dampak edukasi, peserta kembali mengisi post-test. Tim juga menyediakan layanan pemeriksaan gula darah dan tekanan darah secara gratis.
Skor Pengetahuan Peserta Meningkat
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta setelah mengikuti edukasi.
Nilai rata-rata peserta meningkat dari 90,22 pada pretest menjadi 99,68 pada post-test. Selain itu, sebanyak 95 persen peserta memperoleh skor 100 setelah mengikuti edukasi.
Capaian tersebut menunjukkan edukasi dapat menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pencegahan komplikasi diabetes yang berisiko menyebabkan amputasi.
Tim pengabdian berharap peningkatan pengetahuan tersebut tidak berhenti pada pemahaman, tetapi berlanjut menjadi perilaku perawatan kaki yang lebih baik.
Perawatan kaki secara tepat, pemeriksaan kaki secara berkala, pengendalian diabetes, serta keterlibatan kader dan keluarga dinilai penting untuk membantu menekan risiko luka kaki diabetik dan komplikasi lebih lanjut.
Melalui program tersebut, Poltekkes Kemenkes Surakarta juga mendorong edukasi kesehatan dilakukan secara berkelanjutan. Dengan dukungan kader, keluarga, dan masyarakat, penderita diabetes diharapkan semakin mampu mengenali risiko sejak dini dan mengambil langkah pencegahan sebelum komplikasi berkembang. (*)
