SOLO, MENARA62.COM – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id kembali memperkuat tradisi akademiknya dengan melahirkan tiga doktor baru. Ketiganya dikukuhkan melalui Sidang Promosi Doktor Program Studi Pendidikan Program Doktor FKIP UMS di Auditorium Djazman Kampus I UMS, Kamis (27/8/2026).
Tiga doktor tersebut yakni Dr. Sri Purwaningsih, S.Pd., M.Pd., Dr. Supriyono, serta Dr. Efi Miftah Faridli. Ketiganya menjadi doktor ke-27, ke-28, dan ke-29 yang dilahirkan Program Studi Pendidikan Program Doktor FKIP UMS dengan predikat cumlaude.
Sri Purwaningsih meraih IPK 3,80, Supriyono memperoleh IPK 3,81, sedangkan Efi Miftah Faridli mencatat IPK 3,85.
Dekan FKIP UMS, Prof. Dr. Anam Sutopo, M.Hum., menyampaikan kebanggaannya atas lahirnya tiga doktor yang mengangkat isu strategis bagi pengembangan pendidikan.
“Alhamdulillah, hari ini kita melahirkan tiga doktor sekaligus. Doktor yang ke-27, 28, dan 29,” ungkap Anam.
Menurutnya, ketiga disertasi tersebut tidak hanya memiliki nilai akademik, tetapi juga menawarkan kontribusi terhadap pengembangan pendidikan dan kemaslahatan masyarakat.
“FKIP tidak hanya sekadar melahirkan calon guru, tetapi juga melahirkan calon pemikir, melahirkan calon cendekiawan, melahirkan pakar-pakar muda yang siap untuk mewarnai pendidikan di negeri ini,” katanya.
Dorong Pembelajaran Diferensiasi Berbasis Deep Learning
Salah satu gagasan yang mengemuka dalam promosi doktor tersebut datang dari Sri Purwaningsih. Melalui disertasinya berjudul “Pengembangan Model Pembelajaran Diferensiasi Berbasis Deep Learning untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Murid SMP”, ia mengembangkan model pembelajaran yang memadukan pembelajaran diferensiasi dengan pembelajaran mendalam.
Penelitian tersebut dilakukan dengan melihat kebutuhan murid SMP di Kabupaten Klaten. Hasil penelitian menunjukkan pembelajaran diferensiasi mulai diterapkan dengan mempertimbangkan kebutuhan murid, meski masih menghadapi sejumlah keterbatasan dalam strategi dan pemanfaatan teknologi.
Model yang dikembangkan mengintegrasikan aktivitas berpikir mendalam, refleksi, dan kolaborasi. Model tersebut dinyatakan layak dari aspek materi, pedagogik, dan bahasa serta sesuai dengan karakteristik murid SMP.
Hasil penelitian juga menunjukkan model tersebut efektif meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan motivasi belajar murid. Peningkatan terlihat dari hasil tes maupun keterlibatan murid dalam menganalisis persoalan secara lebih mendalam.
Guru Diminta Bijak Menggunakan AI
Sementara itu, perkembangan Artificial Intelligence (AI) menjadi fokus penelitian Supriyono melalui disertasi berjudul “Determinan Perilaku Inovatif Guru melalui Organizational Citizenship Behavior pada Era Artificial Intelligence”.
Penelitian tersebut mengkaji perilaku inovatif guru di tengah semakin luasnya penggunaan AI dalam pendidikan. Teknologi AI dinilai memiliki potensi membantu guru dalam menyusun materi, menganalisis data, memberikan umpan balik, hingga mempersonalisasi pembelajaran.
Namun, pemanfaatan AI juga menghadirkan tantangan, mulai dari keterbatasan infrastruktur dan konektivitas hingga kompetensi teknologi, pelatihan, serta persoalan etika.
Penelitian Supriyono menguji Personality, Self-Efficacy, dan AI Knowledge sebagai faktor personal yang memengaruhi perilaku inovatif guru dengan Organizational Citizenship Behavior sebagai mediator.
Anam menilai perkembangan AI harus disikapi secara bijak oleh pendidik. Menurutnya, teknologi dapat memberikan manfaat besar apabila digunakan secara tepat, tetapi tidak boleh menggeser peran utama guru dalam mendidik dan membentuk karakter peserta didik.
“AI ini semacam tergantung pemakainya, bisa jadi malaikat tetapi juga bisa jadi setan. Guru-guru harus hati-hati menggunakan AI ini, jangan sampai kecanduan karena tugas utama guru adalah mendidik, melatih, dan membentuk karakter anak,” jelasnya.
Kepemimpinan Kepala Sekolah Jadi Kunci
Adapun Efi Miftah Faridli mengangkat tema “Kepemimpinan Transformatif Kepala Sekolah Berbasis Civic Values dalam Implementasi Pembelajaran Mendalam (Studi Kasus di Sebuah Sekolah di Kabupaten Banyumas)”.
Penelitian tersebut menemukan praktik kepemimpinan transformatif kepala sekolah melalui empat dimensi, yakni Idealized Influence, Inspirational Motivation, Intellectual Stimulation, dan Individualized Consideration.
Nilai-nilai kewargaan seperti integritas, gotong royong, musyawarah, dan keadilan diinternalisasikan melalui keteladanan pemimpin, ritualisasi nilai, institusionalisasi aturan, serta tanggung jawab kolektif.
Efi juga menghasilkan Model EFI (Etis, Fasilitatif, Integratif) sebagai konsep kepemimpinan transformatif berbasis civic values untuk mendukung efektivitas pembelajaran mendalam.
Pemberdayaan guru dilakukan melalui penguatan komunitas belajar, fasilitasi pelatihan, kolaborasi lintas mata pelajaran, dukungan teknologi informasi, serta penciptaan lingkungan kerja yang memberikan rasa aman secara psikologis.
Doktor Baru Didorong Jadi Penggerak Perubahan
Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., berpesan agar gelar doktor tidak berhenti sebagai pencapaian akademik. Gelar tersebut harus diinternalisasikan dalam kehidupan dan diwujudkan melalui kontribusi nyata bagi masyarakat.
Harun menekankan pentingnya doktor baru mengambil peran dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
“Sejatinya orang yang mampu memberikan kemanfaatan adalah apabila Ibu sebagai seorang doktor mampu menerangi,” tuturnya.
Ia mengingatkan para doktor agar tidak menjadi akademisi yang pasif. Sebaliknya, doktor harus mampu menjadi pemimpin sekaligus pelopor perubahan yang memberikan dampak bagi masyarakat.
“Penggerak perubahan itu harus dinamis. Maka jangan menjadi doktor yang pasif, tetapi jadilah doktor yang dinamis, doktor yang mampu menyinari negeri, memberikan kemanfaatan diri, masyarakat, dan keluarga,” tegas Harun.
Lahirnya tiga doktor tersebut sekaligus memperkuat posisi FKIP UMS dalam mengembangkan gagasan pendidikan yang responsif terhadap perubahan zaman, khususnya melalui pembelajaran mendalam, pemanfaatan AI, penguatan karakter, dan kepemimpinan pendidikan transformatif. (*)

