JOMBANG, MENARA62.COM — Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Buya Dr. Amirsyah Tambunan menyaksikan langsung pembukaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Jawa Timur, Kamis (27/8/2026).
Kehadiran Sekjen MUI dalam pembukaan Muktamar NU tersebut memberikan kesan mendalam, khususnya atas sambutan Presiden RI Prabowo Subianto yang menyampaikan sejumlah pesan penting mengenai peran organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam, khususnya Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, dalam perjalanan bangsa Indonesia.
Menurut Buya Amirsyah, terdapat sejumlah pesan penting yang disampaikan Presiden. Pertama, apresiasi terhadap NU dan Muhammadiyah yang selama ini telah menanamkan kecintaan terhadap tanah air kepada masyarakat.
“Kedua organisasi ini telah memberikan kontribusi besar dalam membangun semangat kebangsaan dan kecintaan terhadap tanah air,” ujar Buya Amirsyah kepada media usai menyaksikan pembukaan Muktamar NU.
Kedua, Presiden menyebut NU dan Muhammadiyah sebagai dua organisasi besar yang menjadi pelopor pergerakan dan turut merintis kemerdekaan Indonesia hingga bangsa ini memasuki usia 81 tahun.
Ketiga, NU dan Muhammadiyah dinilai sebagai dua organisasi besar yang memiliki jasa penting dalam perjalanan bangsa Indonesia.
Buya Amirsyah kemudian mengibaratkan NU dan Muhammadiyah sebagai dua sayap burung Garuda yang harus bergerak secara seimbang dan harmonis.
“Bangsa Indonesia yang utuh membutuhkan dua sayap yang kuat. NU dan Muhammadiyah ibarat dua sayap burung Garuda. Keduanya tidak terpisahkan dalam memperkuat umat dan bangsa,” jelasnya.
Menurutnya, sinergi NU dan Muhammadiyah juga semakin penting untuk memperkuat persatuan umat melalui “tenda besar” umat Islam dalam wadah Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai rumah bersama bagi organisasi kemasyarakatan Islam.
Dua Sayap Besar untuk Bangsa
Buya Amirsyah mengatakan, metafora NU dan Muhammadiyah sebagai dua sayap bangsa menggambarkan pentingnya harmoni, keseimbangan, dan kerja sama kedua ormas Islam terbesar tersebut dalam menjaga keutuhan serta kemajuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Dalam perspektif gerakan keislaman, kata dia, NU memiliki kekuatan dalam menjaga tradisi keagamaan dan kultur masyarakat, sementara Muhammadiyah dikenal dengan gerakan pembaruan, modernisasi, pendidikan, dan penguatan tata kelola organisasi.
“Keduanya memiliki karakter dan kekuatan yang saling melengkapi. Seperti burung Garuda, bangsa ini tidak akan mampu terbang tinggi jika hanya mengandalkan satu sayap,” kata Buya Amirsyah yang juga Ketua Majelis Pendayagunaan Wakaf (MPW) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Karena itu, menurut Buya Amirsyah, NU dan Muhammadiyah harus terus “mengepakkan sayap” secara serasi, seimbang, dan seirama agar Indonesia mampu terbang tinggi menuju kemajuan dan kejayaan.
“NU dan Muhammadiyah harus terus bersinergi, saling menguatkan, dan menjaga persatuan. Jika kedua sayap ini kuat dan bergerak bersama, insyaallah bangsa Indonesia akan semakin kokoh dan mampu mencapai cita-cita kemerdekaan,” tegasnya.
Berakar dari Tradisi Keilmuan yang Sama
Lebih lanjut, Buya Amirsyah menilai kedekatan NU dan Muhammadiyah bukan sesuatu yang baru. Kedua organisasi tersebut memiliki akar sejarah dan tradisi keilmuan yang saling beririsan.
Pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, dan pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy’ari, diketahui pernah menimba ilmu di Makkah dan memiliki sejumlah mata rantai guru yang sama. Hal tersebut menjadi salah satu fondasi penting yang menunjukkan bahwa hubungan keilmuan dan persaudaraan antara kedua tokoh telah terbangun sejak sebelum kedua organisasi berdiri.
“Secara historis, NU dan Muhammadiyah memiliki akar keilmuan yang kuat. KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari memiliki pengalaman belajar di Makkah dan berada dalam tradisi keilmuan yang memiliki banyak titik temu,” ungkapnya.
Buya Amirsyah menambahkan, NU dan Muhammadiyah juga memiliki karakter yang saling melengkapi. Muhammadiyah memiliki pengalaman dalam pengembangan manajemen organisasi modern, sementara NU memiliki kekuatan kultural dan basis masyarakat tradisional yang tumbuh melalui pesantren dan tradisi keagamaan.
“Karena itu, keduanya tidak perlu dipertentangkan. Justru harus saling belajar dan melengkapi. Muhammadiyah kuat dalam pembaruan dan manajemen modern, sementara NU memiliki kekuatan kultural dan tradisi pesantren yang sangat mengakar,” pungkasnya.
