30.2 C
Jakarta

Idulfitri, Hari Suci yang Melimpah Rezeki

Baca Juga:

Oleh: Ace Somantri

KARAWANG, MENARA62.COM – Allahuakbar…Allahuakbar walillahilhamdu. Lantunan gema takbir sejak malam terakhir bulan Ramadan, masuk awal bulan Syawal yang kemudian dikenal Idulfitri. Tradisi berbagi sudah melekat dalam tabiat umat muslim saat berhari raya, termasuk setiap tahun pada Idulfitri yang tepatnya tanggal 1 Syawal tahun hijriyah. Unik dan menarik dicermati, sependek yang diketahui dari pengalaman yang pernah dialami hingga kini masih terus berjalan tradisi berbagi antar sesama khususnya tetangga dan kerabat famili dekat. Istilah yang dikembangkan budaya berbagi dikenal hantaran, praktisnya satu sama lain saling menghantarkan dari yang lebih muda ke yang lebih tua atau yang dituakan, termasuk memberi hantaran ke tokoh-tokoh kampung seperti tokoh agama, tetua desa, serta para tokoh lainnya yang dianggap orang berpengaruh di suatu kampung tersebut. Hal itu berjalan hampir di berbagai daerah, apalagi di Jawa Barat sudah berjalan cukup lama dari generasi ke generasi. Yang unik dan menariknya lagi bukan di hantarannya, melainkan yang menghantarkan biasanya anak-anak atau remaja belia sehingga saat menghantarkan makanan ada timbal balik dari orang tua yang menerima makanan, yaitu memberi uang ala kadarnya sehingga anak sangat bahagia walaupun dikonversi dengan makanan yang dihantarkan kadang tidak sebanding nilainya.

Hari Fitri memang melimpah rezeki, malahan sebutan lain hari lebaran yang konon kabarnya istilah tersebut berasal dari perilaku orang-orang saat Idulfitri saat banyak melimpah makanan cenderung diabaikan dan disia-siakan hingga dimubazirkan yang berdampak pada pembiaran makanan terbuang begitu saja tanpa merasa beban orang Sunda menyebutnya “dilelebar atau dilebar-lebar” yang konotasinya membiarkan makanan berserakan tidak dipedulikan apakah makanan tersebut akan dimakan atau tidak. Tidak dimungkiri sudah menjadi tradisi dari generasi ke generasi perilaku tersebut, seolah hal tersebut biasa-biasa saja tak ada konsekuensi buruk yang berdampak langsung dirasakan menyakitinya. Namun, sebenarnya jika dipelajari dan direnungkan dengan seksama selain perbuatan buruk memubazirkan makanan juga menambah sampah terbuang begitu saja tanpa ada usaha keras menyiasati mengurangi limbah yang tak seimbang dengan rekayasa sirkulasinya secara baik dan benar.

Mendapatkan rezeki seperti susah bagi yang malas, namun sebanarnya tidak juga selama ada usaha keras berpikir dan berkarya dengan kreatifitas dan inovasi berbagi hal. Pada hari Fitri, semua umat muslim dan umat lainnya ketiban rezeki. Perekonomian dalam hitungan beberapa hari mengalami peningkatan. Hampir dipastikan, umat muslim saat Idulfitri memiliki spirit dan motivasi kuat untuk mendapatkan rezeki lebih selain dari waktu tersebut, dan hasilnya rata-rata memenuhi apa yang diharapkan. Perjuangan untuk menghadapi hari Fitri penuh kesucian, dapat mendorong etos kerja yang baik. Bahkan, yang asalnya tidak bekerja pun sekuat tenaga berupaya mendapatkan kerja tanpa melihat jenis pekerjaannya, yang penting baginya hanya satu tujuan dapat pekerjaan saat hari Fitri ikut menikmati dan merayakan dengan bahagia seperti orang lain pada umumnya. Tidak peduli hina atau tak berharga secara sosial, karena lebih baik bekerja hina daripada pengangguran karena malas-malas. Begitulah fenomena menghadapi hari Fitri, sangat berbeda suasana spiritnya terlebih dibarengi bulan kemuliaan yang sangat transedental.

Melimpah rezeki pada hari Fitri sulit dibendung dan dihalangi, derasnya makanan dan minuman di tengah dan di pojok-pojok rumah tersedia. Berbagai jenis macam ragam kue-kue khas hari Fitri hampir dipastikan pada setiap rumah pasti ada, hal itu terjadi karena semata ada motivasi untuk berbagi kepada sesama. Pada saat ada tamu mampir bersilaturahmi, minimal dapat mencicipi hidangan yang disajikan. Dan juga sikap demikian bagi umat Islam atau masyarakat pada umumnya kalau bukan hari raya kadang jarang ditemukan standby makanan seperti halnya pada hari Fitri. Tetap bersama menjaga dan memupuk sikap berbagai, semakin banyak diberikan apa yang dimiliki maka akan terus semakin bertambah. Sehingga pada hari Fitri, semua orang berlomba-lomba berbuat baik. Hanya sayang, saat bersamaan semua memiliki makanan yang relatif sama maka konsekuensinya kebermanfaatannya berkurang atau tidak maksimal. Fenomena tersebut harus jadi ibroh, bahwa berbagi kebaikan apa pun manakala saat semua orang dalam posisi tidak butuh atau tidak memerlukan maka nilai manfaat relatif akan berkurang. Sehingga kita berupaya saat berbagi harus pada orang yang tepat, khususnya terhadap orang yang benar-benar membutuhkan.

Melimpahnya rezeki pada saat hari Fitri sebuah pertanda, bahwa itu bagian dari kekuasaan Allah Ta’ala yang memberi ibroh pentingnya kapan waktu berbagi yang tepat, sangat mungkin suatu ketika akan ada petistiwa manusia di muka bumi dalam waktu tertentu ini tidak saling membutuhkan satu sama lainnya dikarenakan semua orang dalam posisi memiliki harta yang melimpah, sehingga harta tersebut tidak bernilai guna dan tak ada manfaat kecuali makanan yang dapat dikonsumsi sendiri. Hal itu tak ubahnya kita saat ini memiliki harta hanya sebagai hiasan semata atau hanya berwujud namun tak bernilai buat dirinya, kemudian tetiba meninggalkan harta tersebut entah siapa yang akan menikmati. Sangat mungkin akan menjadi malapetaka karena berebut saling mengklaim akan keberhakan kepemilikan, atau sangat mungkin semakin tak bernilai. Padahal untuk mendapatkan harta tersebut bukan main perjuangannya, sehingga banyak menyita waktu yang sangat melelahkan. Tanda-tanda tersebut secara kasat mata sudah mulai muncul dihadapan kasat mata, dan sebenarnya kita sendiri merasakan hal tersebut.

Harta sebuah rezeki melimpah menjadi impian setiap orang, sehingga untuk mencapai impian tersebut rela meruntuhkan moral dan etika bahkan meruntuhkan keimanan beragama. Padahal realita yang terlihat, saat hari Fitri dengan melimpahnya makanan baik itu seperti daging hewan sapi dan kerbau siap saji banyak yang basi karena tidak ada yang mengkonsumsi saking bosannya dan diberikan kepada orang juga tidak mungkin karena hampir setiap orang memilikinya. Termasuk kue-kue kering terlihat berserakan karena banyak sehingga terbuang begitu saja. Pertanyaan berikutnya, apakah fenomena di hari Fitri hanya terjadi di Indonesia atau memang sama halnya terjadi di negara lainnya. Terlepas itu semua, tidak ada alasan apapun manakala ada peristiwa di depan mata yang anggap keluar dari norma-norma seharusnya lantas berdiam diri tidak berbuat sesuatu untuk memperbaikinya. Sehingga tidak terjadi keberlanjutan sesuatu yang buruk bertransformasi pada pelanggaran kaidah-kaidah agama.

Hari Fitri sebuah hari kesucian, di mana pemaknaannya dibuat menjadi rentang ruang dan waktu seolah awal hidup menjadi seorang muslim yang sebenarnya. Pada umumnya, tidak jauh beda memaknai Ied Fitri secara sederhana yaitu umat muslim kembali suci seperti bayi baru lahir. Hanya saja dalam praktiknya saat berganti hari dan bertambah hari berikutnya, jarang sekali orang mampu mempertahankan kesuciannya dalam perbuatan dan tindakannya. Ada hal yang dapat dipahami, melimpah rezeki tanda kasih dan sayang Allah Ta’ala pada mahluk-Nya, namun sangat memungkinkan hal tersebut menjadi ibroh berharga dibalik melimpahnya rezeki. Bahkan, tidak menutup kemungkinan menjadi pemancing malapetaka tanpa disadari akibat salah memaknai. Hari kesucian dikenal dengan Ied Fitri serta dibarengi dengan simbol melimpah rezeki bukan sesuatu yang tidak bernilai, melainkan sangat bermakna lebih terhadap kehidupan sosial kemasyarakatan dalam lingkup sangat besar. Fenomena Ied Fitri yang unik, sangat berbeda dengan di negara Arab yang disimbolkan sebagai rujukan budaya dan tradisi sosial umat muslim, mereka tidak membuat tradisi apa yang terjadi di negara Indonesia dan yang lainnya. Justru yang meriah dan ramai saat tiba hari raya Ied Adha di bulan Dzulhijah atau bulan musim Haji.

Terlepas dari itu semua, Ied Fitri dengan tradisi simbol rezeki melimpah dapat dijadikan sebuah ibroh yang berharga untuk menunjukan bahwa umat muslim Indonesia memiliki khazanah budaya yang kaya raya, selain memperkuat nilai moral spiritual namun juga memperkuat budaya lokal yang menginspirasi negara lainnya. Sehingga penampilan suasana beragama Islam performanya lebih cepat dapat diterima oleh masyarakat dunia, khususnya bagi yang mengidap penyakit Islamofhobia atau penyakit lainnya yang sejenis. Islam dengan kekayaan khazanah ajaran, bukan hanya memberikan informasi kisah-kisah manusia masa lalu, juga memberi pelajaran manusia saat ini hingga manusia-manusia yang akan datang di masa depan. Sekecil apapun khazanah yang muncul dalam dinamika sosial masyarakat muslim, pada dasarnya selalu mengandung nilai-nilai ajaran yang terkandung. Mulianya ajaran Islam tidak berhenti pada teks-teks nash, melainkan setiap yang tumbuh dalam budaya dan tradisi yang dicipta manusia hakikatnya dibalik semua yang terjadi dan muncul dalam tata kehidupan ada sebuah ibroh yang harus digali dan dipelajari dengan seksama, sungguh-sungguh dan penuh keikhlasan. Alhamdulillah ala kulli hal, semoga kita bertemu di hari kesucian tahun yang akan datang dalam kondisi kualitas suci yang lebih baik. Wallahu’alam.

Karawang, April 2024

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!