25.6 C
Jakarta

Ikon Bisnis

Must read

BMN 2020, BSN Tekankan Pentingnya Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian Era New Normal

JAKARTA, MENARA62.COM – Badan Standardisasi Nasional (BSN) kembali menggelar Bulan Mutu Nasional (BMN). Tahun ini, kegiatan BMN mengambil tema “Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian untuk...

Potret Perayaan Maulid Nabi di salah satu Desa di Indonesia

PAMEKASAN, MENARA62.COM -- Potret perayaan Maulid Nabi di salah satu musala di Desa Waru Timur, Pamekasan, Madura pada Rabu malam (28/10/2020).

Lolonyo Chicken Katsu, Brand Milenial yang Bikin Nagih!

MAU  mencecap gurihnya chicken katsu? Ada baiknya coba Lolonyo chicken katsu. Brand milenial yang belum lama diluncurkan tersebut dapat menjadi pilihan yang tepat untuk...

Gudeg Yu Brindil, Melekatkan Pakem Jogja ke Lidah Orang Jakarta

PRADYNA Paramita yang akrab disapa Mitha bukan berdarah Yogyakarta. Tetapi naluri bisnisnya untuk mengangkat makanan lokal tradisional membawanya untuk mengesplorasi gudeg. Makanan khas Yogyakarta...

Saya ke kota Palu lagi. Setelah meninggalkan Ibukota provinsi Sulawesi Tengah itu selama 20 tahun. Saya pernah tinggal di bibir Teluk Palu itu selama 6 tahun (1993 – 1999).

Kondisi kota Palu, banyak yang sudah berubah selama 20 tahun terakhir. Kotanya tambah padat. Penduduknya sudah lebih dari 250 ribu jiwa. Kawasan pemukiman warga kota juga semakin lebar. Hingga menyeberangi perbatasan dengan Kabupaten Sigi Biromaru dan Kabupaten Donggala.

Hanya dua hari saya berada di kota Palu. Tiba hari Sabtu. Kembali ke Jakarta hari Ahad.

Memang tidak banyak agenda saya di kota itu. Hanya mengunjungi lokasi pembangunan rumah sakit milik Muhammadiyah: RS PKU Siti Fadillah Supari.

Rumah sakit ini awalnya hanya klinik dokter biasa. Gara-gara bencana gempa dan tsunami, klinik akhirnya dilengkapi dengan kamar-kamar perawatan. Untuk melayani korban bencana yang harus opname.

Kegiatan pertolongan medis itu rupanya menarik perhatian berbagai lembaga donor. Masuklah sejumlah bantuan untuk klinik itu. Maka status sebagai klinik pratama meningkat menjadi klinik utama. Meningkat lagi menjadi RS tipe D. Dengan 50 ruang perawatan.

Ikon

Tapi bukan itu yang ingin saya bahas. Saya justru ingin mengulas tentang ikon bisnis kota Palu. Ikon itu adalah bawang goreng.

Saya sebut bawang goreng sebagai ikon bisnis kota Palu, karena semua kawan saya di Palu menjawab itu. Berarti bawang goreng identik dengan kota Palu. Perjalanan bawang goreng menjadi ikon bisnis kota Palu ternyata cukup panjang. Dimulai 25 tahun lalu.

Adalah perusahaan perkebunan Hasfarm yang memulai penanaman bawang merah di dataran tinggi wilayah Sigi Biromaru. Program pertama hanya 10 hektar.

Bibit bawang merah didatangkan dari Sumenep, Madura. Bawang merah Sumenep terkenal sebagai bahan baku bawang goreng di restoran-restoran besar di Pulau Jawa karena rasanya yang khas: manis dan gurih dengan tekstur getas. Kalau dikunyah menimbulkan bunyi kriuk-kriuk.

Dua puluh lima tahun lalu, belum ada restoran di Palu yang mau membeli bawang goreng itu. Semua restoran membuat bawang goreng sendiri. Menggunakan bawang merah yang dibeli di pasar sayur.

Hasfarm pun mengirimkan bawang goreng itu ke restoran-restoran di Pulau Jawa. Kemudian menjadikan bawang goreng sebagai oleh-oleh khas Palu bagi para pelancong yang hendak kembali ke kota awalnya.

Hari ini saya mengunjungi sebuah outlet penjualan buah tangan khas Palu. Namanya Raja Bawang. Rupanya Raja Bawang mengolah dan memasarkan sendiri produk bawang gorengnya.

Bahan baku bawang merah itu tidak lagi dari Hasfarm. Tetapi sudah dari petani bawang merah di Biromaru. Berarti budidaya bawang merah sudah menyebar luas. Sudah menjadi pengetahuan masyarakat petani.

Di Bandara Sis Al-Jufri Mutiara, bawang goreng dipasang di berbagai outlet. Mereknya beragam. Kemasannya bagus-bagus. Bawang goreng sudah identik dengan oleh-oleh dari kota Palu. Kota Palu sudah identik dengan bawang goreng. Itulah yang saya sebut sebagai ikon. Tepatnya: ikon bisnis. Ikon itu telah menggerakkan ekonomi dengan rantai yang panjang. Mulai hulu ke hilir.

Indonesia memiliki wilayah dengan karakter tanah yang Unik. Masing-masing wilayah tidak sama. Selayaknya setiap wilayah memiliki ikon bisnis yang berbeda-beda.

Ikon bisnis itulah yang akan menggerakkan perekonomian rakyat. Sayangnya masih lebih banyak pejabat yang memahami koon dengan konsep monumen: membuat bangunan unik.

Bangunan yang menghabiskan dana besar itu pun mangkrak seiring dengan habisnya masa jabatan. Kemudian jadi bahan olok-olok rakyatnya sendiri.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

BMN 2020, BSN Tekankan Pentingnya Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian Era New Normal

JAKARTA, MENARA62.COM – Badan Standardisasi Nasional (BSN) kembali menggelar Bulan Mutu Nasional (BMN). Tahun ini, kegiatan BMN mengambil tema “Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian untuk...

Potret Perayaan Maulid Nabi di salah satu Desa di Indonesia

PAMEKASAN, MENARA62.COM -- Potret perayaan Maulid Nabi di salah satu musala di Desa Waru Timur, Pamekasan, Madura pada Rabu malam (28/10/2020).

Lolonyo Chicken Katsu, Brand Milenial yang Bikin Nagih!

MAU  mencecap gurihnya chicken katsu? Ada baiknya coba Lolonyo chicken katsu. Brand milenial yang belum lama diluncurkan tersebut dapat menjadi pilihan yang tepat untuk...

Gudeg Yu Brindil, Melekatkan Pakem Jogja ke Lidah Orang Jakarta

PRADYNA Paramita yang akrab disapa Mitha bukan berdarah Yogyakarta. Tetapi naluri bisnisnya untuk mengangkat makanan lokal tradisional membawanya untuk mengesplorasi gudeg. Makanan khas Yogyakarta...

MDMC Gelar Jambore Relawan Muhammadiyah Secara Online

    Yogyakarta,MENARA62.COM- Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PP Muhammadiyah hari ini (29/10) melaksanakan Jambore Nasional Relawan Muhammadiyah dengan tema “Meneguhkan Gerakan Keagamaan Hadapi Pandemi dan...