27.8 C
Jakarta

Ironi Kematian Julia Rahmawati Dan Kanker Serviks

Baca Juga:

JAKARTA, MENARA62.COM– Sabtu siang (10/6/2017) sekitar pukul 11.12 WIB, publik dikejutkan dengan khabar kematian artis dan penyanyi Julia Rahmawati. Perempuan yang dikenal dengan nama Julia Perez alias Jupe tersebut mengembuskan nafas terakhirnya di RSCM setelah tiga bulan terbaring melawan kanker serviks.

Perjuangan perempuan berusia 36 tahun tersebut melawan kanker serviks menjadi berita menarik yang banyak menyedot publik. Bukan sekedar profesi keartisannya, tetapi juga jenis penyakit yang dideritanya.

Jupe dikhabarkan terkena penyakit kanker serviks sejak 2014. Melalui proses pengobatan di sebuah rumah sakit di Singapura, Jupe pernah mengaku telah sembuh dan terbebas dari kanker serviks. Bahkan pasca mengumumkan dirinya sembuh, Jupe pernah menyandang Duta Kanker Serviks.

Tetapi entah apa yang terjadi, mendadak publik dikejutkan dengan serangkaian cerita tentang Jupe yang kembali bergulat dengan penyakit kanker serviks, awal 2017. Berbagai cerita duka, mulai dari kondisi kesehatannya yang naik turun, ketiadaan biaya hingga memilih menggunakan BPJS Kesehatan di RSCM dan lainnya.

Kini, Jupe telah tiada. Perjuangannya melawan kanker serviks berakhir dengan pesan penting yang ditujukan bagi semua perempuan di Indonesia. Jangan abaikan deteksi dini kanker serviks. Karena kanker serviks, jika terdeteksi dini, peluang untuk sembuh sangat besar.

Meski bersifat membunuh, banyak perempuan survivor kanker serviks yang hingga kini masih bertahan hidup, menjalani aktivitas seperti biasa, meski mereka pernah menderita kanker serviks.

Sebut saja Endang Widarti, 56, salah satu anggota Komunitas Paguyuban Pelangi. Saat memberikan testimoni di Siloam Hospital TB Simatupang, Endang mengaku awal gejala kanker serviks adalah munculnya flek dari vagina selama kurang lebih tiga minggu.

“Saya ke dokter, lalu dikasih obat. Tetapi karena nggak sembuh juga, saya akhirnya disarankan melakukan papsmear. Dan hasilnya saya dinyatakan menderita kanker serviks stadium awal,” tutur Endang.

Ia sempat berobat ke sinshe selama 7 bulan atas dasar testimoni seorang pasien kanker serviks yang dibacanya disebuah tabloid kesehatan. Tetapi bukannya sembuh, Endang malah mengalami gejala yang makin parah. Gumpalan darah keluar dari vaginanya. Ternyata setelah dicek di RSCM, kanker serviks yang diderita sudah meningkat menjadi stadium 2A.

Kini ia telah 20 tahun menjadi survivor kanker serviks. Kuncinya berobat secara medis, lakukan apa yang diperintahkan dokter, termasuk rutin minum obat yang diberikan. Tidak perlu berobat ke sinshe atau ‘orang pintar’ meski menjanjikan kesembuhan 100 persen.

Tetapi mengapa Jupe harus meninggal karena kanker serviks? Apakah proses pengobatan yang dilakukan saat kanker serviksnya masih stadium awal tidak tuntas? Kita tidak tahu, karena pasca dinyatakan sembuh, Jupe terlihat amat sering muncul dilayar kaca, seolah tidak sedang sakit, seolah memang sudah sehat sebenar-benarnya. Aktivitasnya sebagai artis dan public figur berjalan normal.

Dr Kartiwa Hadi Nuryanto, SpOG, spesialis Obyn RSCM saat memberikan edukasi bahaya kanker serviks bagi pegawai Kemenhan mengingatkan bahwa papsmear adalah hal yang wajib dilakukan oleh semua perempuan yang sudah menikah atau melakukan hubungan seks. Sebab semua perempuan menikah memiliki risiko sama besar terhadap kanker serviks.

“Jupe tidak salah, memilih pasangan hidup juga tidak salah. Yang salah dan tidak Jupe lakukan adalah tidak melakukan papsmear secara rutin,” kata dr Kartiwa.

Senada juga dikatakan Prof dr Andrijono SpOG (K), salah satu inisitaor Program Koalisi Indonesia Cegah Kanker Serviks (KICKS). Dalam siaran persnya, ia mengakui bahwa saat ini kanker serviks masih menjadi momok di negara berkembang.

“Ini menjadi jenis kanker penyebab kematian paling banyak ke-3 di Indonesia,” jelas Prof dr Andrijono, Minggu (11/6)

Data Globocan yang dirilis oleh WHO/ICO Information Centre on HPV and Cervical Cancer tahun 2012, ada 1 wanita Indonesia meninggal dalam satu jam setiap harinya karena kanker serviks dan diprediksi terdapat 58 kasus baru setiap harinya.

“Perempuan Indonesia saat ini sedang dalam situasi genting terkena kanker serviks. Oleh karena itu, pencegahan dan deteksi melalui skrining dan vaksinasi lebih baik dilakukan sejak dini daripada pengobatan,” tambah Prof. Andrijono yang juga menjadi Ketua Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia (HOGI).

Kematian Jupe menurutnya menjadi momentum penting untuk mendorong program nasional vaksin HPV sebagai salah satu cara paling efektif mencegah kanker serviks.

Saat ini program pemberian vaksin HPV baru dilakukan di Provinsi DKI Jakarta dan segera menyusul kota lain Yogyakarta, Surabaya dan Manado. Andrijono berharap pemerintah segera menjadikan program vaksinasi HPV secara nasional agar tidak semakin banyak Jupe-Jupe lain yang menjadi korban

Dihubungi terpisah, Dr. Venita selaku Kepala Bidang Pelayanan Sosial Yayasan Kanker Indonesia, Provinsi  DKI Jakarta menjelaskan,  statistik kanker serviks banyak diidap wanita usia reproduksi. Padahal kanker serviks dapat mulai dicegah sejak remaja dengan vaksinasi.

Vaksin HPV untuk mencegah kanker serviks telah dibuktikan efektivitas dan keamanannya melalui penelitian. Dibandingkan skrining, vaksin jauh lebih efektif. Vaksin mampu mencegah kejadian kanker serviks sampai 70%.

Sedangkan tes papsmear/IVA/tes HPV DNA dapat dilakukan  rutin setelah menikah atau bagi perempuan yang sudah aktif secara seksual.

Sementara itu, drg Oscar Primadi, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan mengatakan bahwa kanker merupakan epidemi global. Kanker menjadi masalah di dunia, termasuk di Indonesia, karena jumlah penderitanya yang terus meningkat begitu pula dengan kematiannya.

“Kanker leher rahim dan kanker payudara merupakan dua jenis kanker tertinggi yang mengancam perempuan di Indonesia,” paparnya.

Selain upaya meningkatkan pengetahuan terhadap jenis dan bahaya kanker dan faktor risiko terjadinya kanker, masyarakat juga perlu memahami bahwa beberapa jenis kanker dapat dicegah melalui deteksi dini. Deteksi dini kanker leher rahim dilaksanakan dengan metode Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) dan tindak lanjut dini dengan krioterapi jika ditemukan IVA positif. Sedangkan deteksi dini kanker payudara dengan metode pemeriksaan payudara secara klinis (SADANIS).

Saat ini, lebih dari 3.700 Puskesmas di seluruh Indonesia telah dilatih dalam pelayanan deteksi dini penyakit kanker payudara dan leher rahim. Sedangkan untuk pengobatan segera dilakukan di rumah sakit kabupaten/kota secara berjenjang untuk rujukan kasus kanker.

“Dengan deteksi dini, kejadian kanker dapat ditemukan lebih awal sehingga keberhasilan pengobatannya semakin besar”, ujarnya.

Oscar juga menegaskan bahwa masyarakat, khususnya yang telah menjadi peserta jaminan kesehatan nasional (JKN), tidak perlu khawatir karena biaya promotif dan preventif berupa deteksi dini kanker payudara dan kanker serviks (tes IVA) di Puskesmas sudah masuk dalam pembiayaan JKN yang dikelola oleh BPJS Kesehatan.

Selain itu,  pemerintah juga tengah mengintroduksi vaksin human papiloma virus (HPV) di siswi sekolah dasar di beberapa daerah. Vaksin HPV efektif untuk mencegah seseorang wanita terserang HPV yang akan membawanya pada kanker serviks. Harapannya ke depan vaksin HPV tersebut bisa menjadi salah satu vaksin program nasional.

Hal lainnya, pasien kanker harus mendapat pengobatan yang tepat dan tidak boleh melewatkan fase emas pengobatan. Namun, seringkali masyarakat yang terdiagnosis kanker pada fase awal, justru tergoda dengan iklan pengobatan alternatif yang menyesatkan yang ada di berbagai media, baik media massa maupun media sosial.

“Kita perlu mengawasi dan mengevaluasi efektifitas dan meneliti dampak lain yang ditimbulkan. Iklan yang jelas-jelas melanggar ketentuan tersebut, akan berdampak buruk dan menimbulkan kerugian, bahkan bisa membahayakan karena pasien kehilangan fase emas pengobatannya dan menjadi tidak terselamatkan,” tandasnya.

Apa itu kanker serviks? Kanker serviks adalah kanker yang menyerang leher rahim wanita. Leher rahim sendiri berfungsi sebagai pintu masuk menuju rahim dari vagina.

Penyebabnya, 99,7 persen adalah virus human pappiloma (HPV). Jenis virus ini ada ratusan tipe tetapi tipe yang paling ganas dan menjadi pembunuh wanita adalah tipe 16 dan 18.

Virus ini sangat mudah berpindah dan menyebar, tidak hanya melalui cairan, tapi juga bisa berpindah melalui sentuhan kulit. Selain itu, penggunaan wc umum yang sudah terkena virus HPV, dapat menjangkit seseorang yang menggunakannya jika tidak membersihkannya dengan baik.

Selain itu, kebiasaan hidup yang kurang baik juga bisa menyebabkan terjangkitnya kanker serviks ini. Seperti kebiasaan merokok, kurangnya asupan vitamin terutama vitamin C dan vitamin E serta kurangnya asupan asam folat.

Kebiasaan buruk lainnya yang dapat menyebabkan kanker serviks adalah seringnya melakukan hubungan intim dengan berganti pasangan, melakukan hubungan intim dengan pria yang sering berganti pasangan dan melakukan hubungan intim pada usia dini (melakukan hubungan intim pada usia <16 tahun bahkan dapat meningkatkan resiko 2x terkena kanker serviks).

Faktor lain penyebab kanker serviks adalah adanya keturunan kanker, penggunaan pil KB dalam jangka waktu yang sangat lama, terlalu sering melahirkan.

Untuk menjadi kanker, virus ini membutuhkan waktu yang cukup lama antara 10 hingga 20 tahun. Karenanya, pada awal terjangkit virus, sangat sulit mendeteksinya. Salah satu saran yang harus dilakukan adalah melakukan papsmear atau tes IVA (inspeksi visual asetat) secara rutin setahun sekali, atau paling tidak dua tahun sekali.

Meski sulit dideteksi, beberapa ciri bisa menjadi petunjuk gejala awal kanker serviks. Yakni :

  1. Saat berhubungan intim selaku merasakan sakit, bahkan sering diikuti flek adanya perdarahan.
  2. Mengalami keputihan yang tidak normal disertai dengan perdarahan dan jumlahnya berlebih
  3. Sering merasakan sakit pada daerah pinggul
  4. Mengalami sakit saat buang air kecil
  5. Pada saat menstruasi, darah yang keluar dalam jumlah banyak dan berlebih
  6. Saat perempuan mengalami stadium lanjut akan mengalami rasa sakit pada bagian paha atau salah satu paha mengalami bengkak, nafsu makan menjadi sangat berkurang, berat badan tidak stabil, susah untuk buang air kecil, mengalami perdarahan spontan.

Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat dilakukan kaum perempuan dalam hal mencegah kanker serviks;

  1. Jalani pola hidup sehat dengan mengkonsumsi makanan yang cukup nutrisi dan bergizi
  2. Selalu menjaga kesehatan tubuh dan sanitasi lingkungan
  3. Hindari pembersihan bagian genital dengan air yang kotor
  4. Hentikan kebiasaan merokok
  5. Hindari berhubungan intim saat usia dini
  6. Selalu setia kepada pasangan anda, jangan bergonta-ganti apalagi diikuti dengan hubungan intim.
  7. Lakukan pemeriksaan pap smear minimal  2 tahun sekali, khususnya bagi yang telah aktif melakukan hubungan intim
  8. Jika belum pernah melakukan hubungan intim, ada baiknya melakukan vaksinasi HPV
  9. Perbanyaklah konsumsi makanan sayuran yang kandungan beta karotennya cukup banyak, konsumsi vitamin C dan E.

Beberapa metode pengobatan yang bisa dilakukan untuk penderita kanker serviks. Jika terdeteksi kanker serviks stadium awal, maka pengobatannya dilakukan dengan cara menghilangkan kanker serviks tersebut dengan cara dilakukan pembedahan, baik pembedahan laser, listrik atau dengan cara pembekuan dan membuang jaringan kanker serviks (cyrosurgery)

Untuk kasus kanker serviks stadium lanjut akan dilakukan pengobatan dengan cara kemoterapi serta radioterapi, namun jika sudah terdeteksi cukup parah, tiada lain kecuali dengan mengangkat rahim (histerektomi) secara menyeluruh agar kanker tidak berkembang.

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!