25.6 C
Jakarta

Jadi Stres karena Melihat “Keindahan” Media Sosial? Yuk, Bijak Menggunakannya!

Must read

Peringati Hari Santri, Menag Minta Pesantren Jangan Jadi Klaster Covid-19

Jakarta,Menara62.com - Menteri Agama Fachrul Razi meminta pondok pesantren lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap serangan Covid-19. Hampir setahun sejak wabah covid melanda negeri ini,...

Angka Stunting Ditargetkan Turun Menjadi 14 Persen pada Akhir 2024

JAKARTA, MENARA62.COM - Staf khusus Wakil Presiden RI Bambang Widianto mengatakkan, pemerintah berkomitmen akan menurunkan stunting pada akhir 2024 menjadi 14%. Sudah tentu ini...

Pandemi Covid-19, Kekerasan Berbasis Gender Meningkat

JAKARTA, MENARA62.COM- Kekerasan terhadap perempuan bukan hanya terjadi di situasi normal sebelum pandemi Covid-19 terjadi. Di tengah pendemi yang sudah memasuki bulan ke delapan...

Kunjungi Kali Sentiong, Wagub Riza Pastikan Wilayah Siap Hadapi Banjir

JAKARTA, MENARA62.COM – Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria melakukan kunjungan ke Kali Sentiong di kawasan Johar Baru, Jakarta Pusat, Rabu (14/10/2020). Kunjungan...

JAKARTA, MENARA62.COM — Sering kali, bermain media sosial justru menimbulkan emosi atau pikiran negatif dalam diri, seperti khawatir tidak mendapat cukup likes dan iri melihat pencapaian orang lain. Hal ini bisa membuat rasa insecure bertumbuh lebih besar. Bijak menggunakan media sosial adalah kunci agar Anda tahan banting melihat segala “keindahan” yang muncul dari feed Instagram. Bagaimana caranya?

Menjadi pribadi yang tahan banting

Ketika dihadapi masalah, kesulitan, atau pengalaman buruk, manusia cenderung diselimuti oleh emosi negatif. Terkadang, emosi negatif ini sulit dikelola sampai membuat Anda akhirnya terjerumus dalam ketidakpercayaan diri, bahkan stres dan depresi.

Nah, salah satu kualitas diri yang perlu Anda kembangkan adalah sikap tahan banting, atau yang dikenal dengan istilah resiliensi dalam dunia psikologi.

Dikutip dari Psychology Today, resiliensi adalah kualitas diri yang membuat seseorang dapat mengatasi masalah dan tidak membiarkan masalah tersebut mengusik emosinya.

Saat kegagalan atau kesulitan mengancam, orang yang tahan banting bisa mengatasi dan mengendalikan emosi negatif yang muncul, sehingga ia dapat bangkit dari keterpurukan.

Beberapa aspek yang berkaitan erat dengan sifat tahan banting adalah berpikir positif, optimis, mampu mengatur emosi dengan baik, serta melihat kegagalan sebagai pembelajaran agar dapat berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.

Memang, menumbuhkan sikap tahan banting butuh waktu yang tidak singkat. Masing-masing pribadi memiliki kondisi mental dan kerentanan terhadap masalah yang berbeda-beda. Namun, bukan berarti Anda tidak dapat mempelajarinya.

Meski ada yang menganggap media sosial bisa membuat seseorang menjadi tidak percaya, nyatanya sosial media juga jadi salah satu tempat untuk melatih sikap tahan banting ini.

Perasaan cemas akan pendapat orang lain soal diri Anda yang mungkin kerap muncul di sosial media dapat menjadi sarana melatih diri. Emosi negatif akan tuntutan dan tekanan sosial yang ada bisa mengasah kemampuan Anda untuk memiliki sikap tahan banting.

Bijak menggunakan media sosial, salah satu kuncinya

Media sosial bisa menjadi pisau bermata dua. Satu sisi bisa menambah rasa insecure atau justru sebaliknya, tahan banting. Kuncinya adalah dengan bijak menggunakan sosial media.

Ketika Anda memikirkan apa saja yang memicu emosi negatif di media sosial, beberapa hal pasti sudah terlintas di kepala Anda. Mulai dari melihat pertengkaran di kolom komentar sebuah post yang viral, seorang teman berbagi prestasi atau pencapaiannya, hingga was-was apabila mengunggah konten yang dirasa kurang menarik.

Menghadapi berbagai postingan yang tak bisa dibendung kita perlu bijak menyikapinya saat menggunakan media sosial. Dengan bersikap bijak, emosi dan perasaan negatif yang muncul justru bisa dijadikan pembelajaran yang membuat diri menjadi lebih baik lagi.

Berikut adalah beberapa tips menggunakan media sosial dengan bijak.

1. Melihat sisi positif dari hal negatif

Kedengarannya mungkin sulit, tapi ini adalah salah satu cara bijak menggunakan media sosial yang patut dicoba. Metode ini disebut dengan cognitive reappraisal, atau penilaian kognitif.

Kemampuan Anda mengelola emosi berpengaruh besar ketika dihadapkan dengan hal negatif juga terhadap sikap tahan banting yang ingin Anda miliki.

Dengan penilaian ini, Anda dapat belajar mengatur emosi negatif Anda dan mengubahnya menjadi positif.

Katakanlah Anda iri melihat seorang teman yang terus membagikan kisah suksesnya di media sosial. Ketimbang terus-terusan iri, Anda mungkin bisa merefleksikan, “Apa yang membuat dia menjadi sukses seperti sekarang? Bagaimana sifatnya dalam meraih kesuksesan?”

Dengan bertanya demikian, Anda mungkin dapat terpacu untuk memperbaiki diri sendiri, agar Anda dapat mencapai target-target Anda. Emosi negatif berupa rasa iri yang Anda rasakan telah berubah menjadi emosi positif, yaitu semangat juang.

2. Melihat sudut pandang baru

Cara bijak lainnya untuk menjadi pribadi yang tahan banting dengan menggunakan media sosial adalah ubah perspektif Anda. Lebih khususnya, posisikan diri Anda sebagai “orang ketiga”.

Bagaimana caranya? Anda sedang terlibat perdebatan sengit dengan seseorang di media sosial. Bayangkan jika Anda adalah orang lain yang sedang membaca perdebatan tersebut di kolom komentar. Anda pasti akan memiliki sudut pandang yang jauh berbeda dan cenderung lebih tenang, juga objektif.

Dengan posisi sebagai orang luar ini, Anda akan merasakan bahwa mungkin saja masalah di media sosial yang Anda alami tidak terlalu berdampak buruk.

3. Time travel

Time travel di sini bukan berarti Anda pergi dengan mesin waktu seperti di film-film. Namun, artinya kurang lebih adalah memosisikan diri Anda di lini waktu yang berbeda. Cara ini cukup bijak dalam membantu meredakan emosi negatif Anda saat menggunakan media sosial.

Contohnya, saat Anda merasa kesal membaca sesuatu di media sosial, coba bayangkan jika Anda harus mengingat kembali situasi tersebut di masa depan. Apakah Anda akan masih merasa kesal?

Dengan cara ini, Anda akan menyadari jika masalah dan ketidaknyamanan yang terjadi hanya bersifat sementara, sehingga Anda tidak merasa terlalu cemas atau tertekan. ( – hellosehat.com)

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Peringati Hari Santri, Menag Minta Pesantren Jangan Jadi Klaster Covid-19

Jakarta,Menara62.com - Menteri Agama Fachrul Razi meminta pondok pesantren lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap serangan Covid-19. Hampir setahun sejak wabah covid melanda negeri ini,...

Angka Stunting Ditargetkan Turun Menjadi 14 Persen pada Akhir 2024

JAKARTA, MENARA62.COM - Staf khusus Wakil Presiden RI Bambang Widianto mengatakkan, pemerintah berkomitmen akan menurunkan stunting pada akhir 2024 menjadi 14%. Sudah tentu ini...

Pandemi Covid-19, Kekerasan Berbasis Gender Meningkat

JAKARTA, MENARA62.COM- Kekerasan terhadap perempuan bukan hanya terjadi di situasi normal sebelum pandemi Covid-19 terjadi. Di tengah pendemi yang sudah memasuki bulan ke delapan...

Kunjungi Kali Sentiong, Wagub Riza Pastikan Wilayah Siap Hadapi Banjir

JAKARTA, MENARA62.COM – Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria melakukan kunjungan ke Kali Sentiong di kawasan Johar Baru, Jakarta Pusat, Rabu (14/10/2020). Kunjungan...

Meski DKI Sudah Memberikan Izin, Baru Satu Pengelola Bioskop yang Mulai Beroperasi

JAKARTA, MENARA62.COM - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah memberikan izin kepada pengelola bioskop-bioskop untuk kembali beroperasi setelah tutup cukup lama akibat pandemi Covid-19. Melalui...