33.5 C
Jakarta

Jejak Komunikasi Para Nabi, Ketika Kita Berbeda ( Bagian 2)

Baca Juga:

Bonni Febrian
Bonni Febrianhttp://menara62.com
Belajar istiqomah dan lebih bermanfaat

Oleh :
Machnun Uzni
Founder Sahabat Misykat Indonesia


Komunikasi yang lancar merupakan modalitas yang kuat dalam kokohnya keluarga harmoni. Bukan berarti tanpa ada perbedaan dalam sebuah komunikasi keluarga, semisal semuanya serba datar saja. Hal biasa terjadi tensi sedikit naik dalam arti ada perbedaaan pandangan, baik antara suami istri, atau orangtua dengan anak-anaknya.


Jejak komunikasi para nabi, salahsatunya memotret model komunikasi keluarga Nabi Ibrahim a.s., menjadi penjelas bagi kita semua untuk mengambil pelajaran bagaimana seorang anak harus bersikap kepada ayahnya ketika terjadi perbedaan pandangan dalam hal prinsip yaitu keyakinan.


Apabila terjadi perbedaan persepsi atau prinsip antara orangtua dengan anak, hendaklah dipilih metode diskusi atau musyawarah yang baik. Jangan sampai memilih cara-cara yang keras dan kasar kepada orangtua karena hal ini bertentangan dengan akhlak Islam, juga hanya akan melahirkan situasi yang kontraproduktif.


Dalam Al Quran Surat Maryam ayat ke-42, digambarkan bagaimana Nabi Ibrahim memilih pendekatan yang persuasive daam menghadapi perbedaan prinsip dengan orangtuanya.


Ibrahim bertanya dengan amat santun kepada Ayahnya; “ Wahai ayahanda, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?”


Ungkapan Nabi Ibrahim sebagai cerminan akhlak yang mulia dari seorang anak kepada ayahnya. Ibrahim panggil ayahnya dengan kata yang halus lagi hormat, “Ya Abati”, wahai ayahanda. Sebuah panggilan santun dalam mengawali dialog antara anak dengan orangtua meski disikapi dengan kemurkaan sang Ayah.


Sebagaimana tersurat dalam Quran Surat Maryam ayat ke-46, “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama”.


Lagi-lagi keelokan budi seorang anak kepada ayahnya, Dalam ayat ke -47 kita dapati bagaimana Ibrahim sangat menjaga kemuliaan dan kehormatan ayahnya dengan menjawab, “Berkata Ibrahim,”Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku”.

Komunikasi dapat dibentuk melalui serangkaian pelatihan. (Dok. Sahabat Misykat Indonesia)




Inilah model komunikasi dari jejak para Nabi yang bisa kita petik pelajarannya saat ini. Sebuah akhlak yang ditunjukkan seorang anak kepada ayahnya dalam mensikapi perbedaan. Sebagai bukti memilih dialog yang melegakan dan tidak disertai dengan kekasaran atau kekakuan.


Sebuah pelajaran bagaimana tetap terjaga sebuah kesopanan anakmuda kepada yang lebih tua, apalagi itu orangtuanya. Hal yang bisa jadi istimewa dalam kondisi saat ini, di era informasi yang terkadang sentuhan budi terganti dengan keengganan bersilaturahmi, membuka ruang diskusi ketika terjadi perbedaan persepsi.

Benarlah ungkapan nasehat Nabi SAW., “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih muda, atau tidak menghormati yang lebih tua.” [HR. at-Tirmidzi no. 1842 dari shahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu].

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!