30.4 C
Jakarta

Ketua PDM Buleleng Menyusuri Kejayaan Islam Melalui Museum Islam dan Katedral di Cordoba.

Baca Juga:


MADRID, MENARA62.COM. Luar biasa, itulah ungkapan yang terlontar pertama kali saat mata dan kaki ada di komplek museum masjid-katedral cordoba. Jadi, tidak berlebihan kalau Stanley lane-Pool, seorang penulis barat menyebutnya sebagai keajaiban dunia. Cordoba adalah seluruh keindahan yang menjadi satu. Meskipun Islam tidak lagi berjaya di Cordoba, namun beberapa peninggalan dari masa lalunya bisa disaksikan.

Kami tiba di kompleks museum (22/6) sekitar pukul 13.30. Diantar oleh staf kedutaan, mas Rizky namanya. Walaupun kurang dari 1 tahun tinggal di Madrid, tapi aktivitas mendampingi Pak Dubes menjadikannya sedikit paham tentang dinamika perkembangan Islam di Spanyol.

Museum Masjid-Katedral Cordoba ini pada awalnya adalah gereja peribadatan Visigoth. Setelah ada dalam kekuasan Islam Dinasti Umayah kemudian sebagian bangunannya beralih fungsi menjadi masjid, sedangkan sebagian lain masih menjadi gereja. Benar, dalam satu bangunan digunakan sebagai tempat ibadah dua agama. Tentu saja, ini menjadi wujud toleransi yang luar biasa.

Memang hampir tidak ada bangunan megah yang tersisa di sekitaran komplek museum masjid- katedral Cordoba ini. Namun, jejak warisan ilmu pengetahuan dan peradaban dari masa kejayaan Islam masih bisa dilihat di komplek museum.
Di sekitar komplek masih berdiri dan aktif fakultas sastra dan filsafat universitas Cordoba. Ada patung Muhamed al gaffequi seorang ilmuwan muslim penemu teknik operasi katarak pertama di dunia.

Islam pernah berjaya di Eropa tak bisa disangkal karena sejarah telah menorehkan tinta kebesaran itu secara kasat mata. Tugas kita adalah mencari sebab kemunduran dan bahkan kehancuran Islam itu sendiri. Karena hukum sejarah sangat objektif bahwa siapa saja yang tidak sanggup menjalankan fungsi kekhalifahannya di muka bumi dia akan digilas oleh jamannya. Dan Rasulullah SAW pun bersabda bahwa islam hancur atau mundur karena kejahilan ummatnya.

Hari ini (23/6) saya seharian ada di kota Sevilla (dibaca “Seviya”), sebuah kota indah di Spanyol-Andalusia yang terletak di hilir sungai Guadalquivir, barat daya semenanjung Iberia. Pada masa kejayaan muslim kota ini dikenal dengan sebutan ” Hims al Andalus ” Atau orang menyebutnya sebagai
” mutiara Andalusia”.

Saya memulai perjalanan dengan mengunjungi Plaza de Espana. Plaza yang terletak di Parque de Maria Luisa (Maria Luisa Park) dibangun pada 1928 sebagai tempat pameran Ibero-Amerika pada 1929, dengan luas lantai mencapai 45.932 M2. Struktur bangunannya sangat kuat gaya arsitektur Spanyol yang merupakan contoh penting Arsitektur Regionalisme.

Plaza de espana merupakan bangunan besar membentuk setengah lingkaran nyaris seperti tapal kuda. Dua buah Menara dibangun di kedua ujung bangunannya. Sementara Dua bangunan laksana Gapura utama dibangun kurang lebih di bagian tengah dekat 2 jembatan yang menghubungan dua ruang terbuka. Bangunan seakan ditutup dengan rimbunan pohon hijau dibagian belakang tapal kuda. Memberikan kesejukan tersendiri di tengah luasnya bidang terbuka di depannya.

Perjalanan kemudian dilanjutkan mengunjungi istana Alcazar.

Pada mulanya, bangunan Istana Alcazar merupakan sebuah benteng pertahanan bangsa Muslim Moor. Benteng pertahanan tersebut dibangun pada awal abad ke-10 M pada masa pemerintahan Abdurrahman III, tepatnya pada 913 M.

Namun, di era Dinasti Muwahiddun, penguasa dinasti ini mengubah benteng pertahanan tersebut menjadi kompleks tempat tinggal raja dengan penambahan beberapa bangunan. Kompleks istana raja tersebut dikenal dengan nama Al-Muwarak.
Legasi peninggalan Muslim masih tampak jelas pada arsitektur bangunan Istana Alcazar. Jejak itu tetap membekas walaupun penampakan fisik bangunan itu sudah dicampur dengan nuansa gotik, renaisans, dan baroque.

Arsitektur khas Islam tampak jelas pada desain pintu masuk ke kompleks istana. Desain pintunya berhiaskan tulisan kaligrafi Arab. Hiasan serupa juga terdapat pada bagian dinding, pilar, dan atap.

Salah satu kekhasan bangunan arsitektur Andalusia ialah pesannya yang sarat hikmah. Alcazar pun dibangun dengan dorongan untuk “menghadirkan” surga di muka bumi.

Bisa jadi, arsiteknya telah membaca deskripsi tentang janah di dalam Alquran. Misalnya, surga digambarkan sebagai tempat yang memiliki taman-taman “yang mengalir di bawahnya sungai-sungai” (tajrii min tahtihal anhaaru). Maka, di dalam Istana Alcazar pun dilengkapi dengan taman, kolam air mancur yang mengalir, serta pepohonan yang bisa dipetik buahnya.

Ada rasa bangga bercampur sedih di sana ketika menyaksikan kebesaran Islam yang kini hanya tersisa bangunannya saja. Namun “Nur” keagungannya masih terasa. Sudah merupakan Sunatullah, yang menjadi kodrat Nya, bahwa kekuasaan dipergilirkan pada setiap generasi manusia di dunia. Hanya tinggal menunggu kapan hal itu kembali kepada kita. Dimana Islam bisa berjaya dan memberi rahmat kehidupan bagi seluruh umat di dunia”.

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!