30.1 C
Jakarta

Komunitas Jagongan Embrio Kantong Budaya Muhammadiyah Bali

Baca Juga:

DENPASAR, MENARA62.COM — Komunitas Jagongan Embrio Kantong Budaya Muhammadiyah Bali. Diinisiasi oleh Kader Muda Muhammadiyah dan di fasilitasi anak -anak Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), terbentuklah Komunitas Jagongan. Pembentukan komonitas ini, mengambil tempat di pelataran Rumah Dakwah Muhammadiyah di jalan Selayar, Sanglah Denpasar.

Mereka mengadakan jagongan setiap Sabtu sore, dua pekan sekali. Jargon Jagongan dipakai sebagai manifestasi bentuk pertemuan non formal masyarakat yang duduk nyaman lesehan, ngemil, ngopi, sembari ngobrol santai tapi sarat makna. Topik pembicaraan seputar kebudayaan dan bisa melebar kemana-mana.

Sering diselingi baca puisi karya sendiri atau orang lain. Saat itu bisa saja muncul penyair dan deklamator dadakan yang ujung-ujungnya disambut tepuk tawa berkepanjangan.
Benar-benar “Jagongan” bisa menjadi media pelepas “penat-suntuk”nya kehidupan keseharian.

Kering Budaya

Sudah lama sepertinya Muhammadiyah kurang giat bergerak di bidang kebudayaan. Melalui program pemurnian ajaran Islam yang dikembangkan Muhammadiyah selama ini, telah mengantarkan organisasi ini menjadi kering kebudayaan. Mereka khawatir kalau kebudayaan lokal itu akan menodai ajaran Islam. Karena itu Amin Abdullah (2001) pernah mengatakan, Muhammadiyah harus bertanggung jawab atas matinya nafas kreasi budaya lokal. Padahal kalau kita tengok perjalanan Islam di Jawa masa lalu, aktivitas budaya lokal, membuktikan betapa dekatnya Islam dengan kebudayaan.

Sunan Kalijaga punya langkah strategis dalam berdakwah, diantaranya dengan menggunakan media wayang dan tembang sebagai media dakwah. Tembang “Lir-Ilir” gubahan Sunan Kalijaga yang begitu religius merupakan bukti kedekatan kesenian dengan dakwah Islam.

Orang lain di luar Muhammadiyah, sudah punya kantong-kantong budaya, seperti Bentara Budaya, Warung Apresiasi dll. Kantong-kantong budaya tersebut ternyata terbukti sangat efektif untuk membangun basis kebudayaan. Kantong-kantong budaya dapat menjadi wadah untuk menggodok isu -isu strategis kebudayaan, membangun sistem dan menjadi ruang aktualisasi dan ekspresi. Kantong -kantong budaya juga dapat menjadi jalan untuk mendekatkan Muhammadiyah dengan sasaran dakwah. Menjalankan fungsi dakwah jamaah dalam ranah budaya.

Dalam konteks “Perang Budaya” umat Islam sungguh memprihatinkan. Ummat Islam cenderung menjadi konsumen yang tak berdaya. Ummat Islam bahkan ibarat pelanduk di tengah perang itu. Nilai, gaya hidup dan idiom-idiom budaya yang didukung oleh produsen produk budaya yang liberal dan pro pasar menjadi menu utama harian. Saat ini umat sedang berhadapan dengan nilai-nilai liberal permisif untuk kebebasan berekspresi, minimnya ruang beraktualisasi dan berekspresi.

Berani bersikap dan mampu melakukan budaya tanding menjadi tantangan Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang moderat (Jabrohim,dkk, 2015). Karena itu, komunitas Jagongan yang digagas oleh kader-kader muda Muhammadiyah hendaknya bisa didukung semua elemen persyarikatan. Komunitas ini diharapkan bisa terus berkembang dan bermetamorfosa menjadi Kantong Budaya Muhammadiyah yang dapat menghasilkan budaya tanding. Budaya yang mampu menggerus produk-produk budaya yang merusak. Semoga.

Penulis : Gunawan

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!